2. Became Friends

101K 3.2K 110
                                    

Tiba tiba suara seperti benda plastik berjatuhan menyambut gendang telinga Raelyn, terdengar begitu nyaring dan mengagetkan. Bersamaan dengan itu, potongan lego berterbangan dan mengenai Xael dan juga dirinya. Satu detik kemudian terdengar suara tawa dari anak kecil. Entah kenapa tawa anak kecil bagaikan lonceng saat natal untuk Raelyn.

"Griffin." tegur Xael dan seketika suara tawa tersebut menghilang.
"Kau boleh berbincang dengannya dulu dan soal diterima atau tidak akan ku beritahu besok." jelas Xael sebelum.

Raelyn mengangguk paham.

Xael melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya, "Aku tinggal karena aku masih memiliki urusan di kantor." setelahnya Xael pergi meninggalkan Raelyn sendirian.

"Okay, saatnya bekerja." ucap Raelyn pada diri sendiri.

Raelyn memasuki kamar tersebut dan disambut wajah cemberut seorang bocah lelaki berambut coklat. Bocah tersebut memiliki mata hijau dengan semburat coklat di tengahnya, hampir mirip dengan mata Raelyn. Terdapat freckles di bagian hidung dan bawah mata bocah tersebut, terlihat sangat lucu bagi Raelyn. Ia cukup tampan untuk seorang anak kecil.Bocah tersebut melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Raelyn sengit.

Dapatkan hatinya. Raelyn mengingatkan pada dirinya.

"Hai." sapa Raelyn dengan suara ceria namun tidak di jawab dengan bocah tersebut.

"Namamu Griffin kan?" tanya Raelyn untuk memecah suasana agar lebih santai. Bocah tersebut tidak membalas namun mengangguk dengan ekspresi masih sama.

"Hai, namaku Raelyn Caden. Kau bisa memanggilku Rae." Raelyn mengulurkan tangan untuk berjabat.

Bukannya membalas tangan Raelyn, Griffin malah berteriak, "AKU TIDAK BUTUH PENGASUH!"

Raelyn sempat terlonjak karena terkejut namun ia berusaha kembali normal.

"Aku sudah besar jadi aku tidak butuh pengasuh!" jelas Griffin dengan suara membara.

Ayo cari ide, Rae.

Detik terus berganti dan suasana tidak kunjung mencair. Griffin masih memberikan pandangan membunuh sementara Raelyn terus tersenyum manis padanya bagaikan seorang idiot sejati. Padahal otaknya sedang bekerja keras mencari ide untuk mendapatkan hati bocah pirang ini.

"Berapa umurmu?" tanya Raelyn.

"7 tahun." jawab Griffin singkat, jelas, dan padat. Ia duduk sambil memainkan mobil mobilan, menghiraukan keberadaan Raelyn.

"Kenapa kau tidak ingin mendapat pengasuh?" tanya Raelyn.

Griffin menoleh padanya, pandangannya sangat datar seperti emot ( -_-)
"Sudah ku katakan aku sudah besar. Aku tidak butuh pengasuh." jelas Griffin malas.

Seketika ide cemerlang terlintas di pikirannya.

"Oh benar. Griffin sudah besar. Mau ku beritahu sesuatu?" tanya Raelyn. Ia berharap Griffin akan tertarik.

"Apa?" tanya Griffin tertarik. Senyuman Raelyn otomatis berkembang karena hal itu.

Raelyn bergerak menghampiri Griffin. Ia duduk di tepat di samping Griffin, "Orang yang sudah besar memiliki tugas untuk membantu orang lain. Seperti penjaga di depan membantumu menjaga rumah. Pembantu di bawah membantumu merapikan rumah dan memasak. Dan Xael membantumu untuk tumbuh dan berkembang. Membantu termasuk tugas dan syarat menjadi orang dewasa." jelas Raelyn.
"Apakah kau sudah membantu orang lain hari ini?" sambungnya.

"Belum. Tapi aku sudah besar." jawab Griffin ngotot bahwa ia sudah besar.

"Jika kau mau membantuku mendapatkan pekerjaan ini, maka kau benar benar sudah besar."

Babysitter With Benefits Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang