20 meet the fam's

318 19 1
                                    

Akhirnya kami semua berdamai, tidak, bukan berdamai. Kami tidak bertengkar awalnya, hanya mengikuti takdir Tuhan kepada apa yang tidak kami kehendaki.

Kami memilih jalan masing masing, aku dengan suamiku dan Hafii dengan istrinya. Ya, istrinya. Bukan aku yang menjadi pasangan dalam upacara pedang pora Hafii. Tapi wanita lain yang kini menemani Hafii.

Dan aku juga bersama laki-laki lain yang sekarang mendampingiku. Pada nyatanya, takdir Tuhan lah yang terlaksana. Bukan inginku, ingin Hafii, ingin kami.

Kala itu semua berakhir baik-baik saja. Namun, mungkin kita sepakat bahwa hubungan yang telah melibatkan keluarga agaknya tidak layak untuk berakhir kandas begitu saja. Jadilah, suasana kala itu tidak baik.

Namun, pada hari ini. Di tahun pertama pernikahan kami yang dilaksanakan pada hari yang sama di tahun lalu, kami sepakat bertemu.

Memulai lembaran baru sebagai dua keluarga yang berhubungan baik. Tanpa embel-embel "dia mantanku".

"Sayang, sudah siap?" Tanya bang Ares yang sudah siap dengan mengendong putra pertama kami. Abian Delares.

"Sudah. Ayo kita berangkat." Jawabku lalu mengambil alih Abian dari gendongan bang Ares.

"Nanti kita ketemu adek cewek loh, bro." Ucap bang Ares sembari menciumi Abian. Sementara aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan si bapak ini.

"Anaknya baru tiga bulan lho, bang. Ya ampun." Sahutku.

"Gapapa. Biar gak kaget. Oke, yuk berangkat."

•••••

"Mas, tolong ya dibawa tas yang di kamar." Titah Ditta yang sudah lebih dulu keluar kamar.

"Oke, sayang." Lalu gue pun menyusul dan membukakan pintu untuk kedua queen ini. Iya, dua. Ditta dan putri kecil kami. Sasha Putri Hafiita.

"Eh, bentar, mas. Ada yang ketinggalan." Ucap Ditta lalu memberikan Sasha pada gue.

"Hati-hati, sayang. Gausah buru-buru." Ujar gue saat Ditta masuk kedalam dengan tergesa.

"Halo, queen nya ayah. Hari ini kita bakalan ketemu sama kakak cowok." Ucap gue sembari menciuma pipi chubby Sasha.

"Sudah?" Tanya gue saat Ditta sudah kembali dan dia mengangguk.

"Oke, kita berangkat sekarang."

•••••

Sebuah lokasi yang indah ditaman pinggir kota makin indah dengan setting dekorasi family picnic yang manis. Dekorasi putih dan coklat kayu yang cerah menambah cerah suasana hari ini. Bahkan, rasanya alam turut menyambut lembaran kebahagian hari ini.

Dua mobil hitam terparkir rapih saling berdampingan, dan tak lama penumpangnya keluar.

"Halo, Brian. Apa kabar?" Sapa Ares menghampiri Brian.

"Baik, bang. Abang sendiri?" Tanya Brian sembari menjabat tangan Ares.

"Baik, Alhamdulillah."

"Halo." Sapa Delaila kepada Brian dan Ditta.

"Izin, selamat pagi, mba." Ucap Ditta lalu memberikan putrinya pada Brian.

"Pagi. Santai aja. Kita bukan lagi di acara bhayangkari." Jawab Delaila membalas uluran tangan Ditta.

"Apa kabar, Delaila?" Tanya Brian.

Not YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang