14. Siapa Jane?

969 169 16
                                        

🍒🍒🍒

"Katanya pingit, kok masih kerja?" Nathan berkata sambil mengunyah rotinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Katanya pingit, kok masih kerja?" Nathan berkata sambil mengunyah rotinya.

Angga ikut melirik ke arah Nala. "Surat cuti kamu sudah diserahkan belum?"

"Sudah, Pa."

"Terus, kenapa masih masuk, bukannya udah bisa libur?"

"Ada yang mau Nala urus sebentar di Rs. Nggak lama juga kok."

"Sekalian ya Nal, ketemu Keenan." Nathan kembali berceloteh.

Merasa dijahili, Nala pun enggan menyahut ucapan Nathan. Ia memilih menyudahi sarapan, lalu pamit berangkat.

Sesampainya di rumah sakit, ia tidak sengaja berpapasan dengan Keenan yang terlihat sibuk berjalan sambil berbincang dengan dokter senior. Ketika mata mereka bertemu, Nala hanya memberi senyum, dan Keenanpun melakukan hal yang sama.

Seperti apa kata Nala, ia benar-benar hanya mampir sebentar ke rumah sakit karena hari ini sudah masuk hitungan hari cutinya. Nala mengambil cuti selama 2 minggu, dan tanpa ingin membuang waktu, ia menggunakan hari pertamanya untuk memanjakan diri di salon.

Seolah terbiasa sendiri, Nala mengabiskan waktu memanjakan dirinya dengan perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sangking terlenanya dengan aktifitas itu, ia bahkan sempat mengacuhkan beberapa kali notif dari ponselnya.

Sampai pada akhirnya, ketika ia keluar dari salon, telepon dari Keenan baru ia angkat.

"Di mana sih? Di telpon dari tadi nggak nyahut. Kata Mama kamu juga, kamu enggak ada di rumah. Jalan kemana, sama siapa juga?" Keenan mengatakannya hanya dengan satu tarikan napas.

Nala yang bingung diserbu banyaknya pertanyaan hanya bisa terdiam. "Kamu kenapa marah-marah sih? Sabar, tanyanya satu-satu."

Dari seberang telepon, Keenan terdengar cukup gusar. "Oke, pertanyaan pertama, kamu lagi di mana?"

"Aku lagi di salon langganan aku. Itu loh, Yang kemarin kamu pernah aku ajak waktu kita shopping."

"Sendiri?"

"Nggak."

"Sama siapa?" Keenan mulai menunjukkan sifat posesifnya.

"Sama Cacing di perut, curi semua nutrisi, tapi nggak perlu takut...." Nala menyahut pertanyaan Keenan dengan Salah satu nyanyian iklan.

"Nal, jangan becanda dulu. Aku serius."

"Iihh, nyebelin, nggak bisa diajak ngejoke bareng. Kenapa sih, ada apa? Kamu kayaknya ribet banget hari ini. Perasaan baru sehari nggak ketemu."

Dari seberang telepon, Keenan mengusap wajahnya gusar. Ia jelas merindukan Nala, tapi ia takut menemui sang kekasih karena larangan dari kedua orang tuanya. "Aku kangen, dan lagi nggak tau gimana cara ngobatinnya selain ketemu sama kamu."

Until We Meet AgainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang