Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sinar matahari melesak melalui tirai-tirai tipis yang membingkai jendela kamar apartemen Keenan di pagi hari. Jalaran rasa hangat mulai merasuk kala keduanya masih bergelut dalam selimut tebal.
Nala menutup matanya rapat dan berusaha sekuat tenaga untuk mengatur hela napas agar teratur, ia tidak ingin Keenan tahu jika ia bangun lebih dulu.
Sementara itu, saat Nala tengah berperang melawan kedutan mata yang mati-matian agar tidak bergerak, Keenan yang berbaring di sebelahnya dengan bertumpu pada tangan kanan hanya tersenyum. Gelak tawa urung ia suarakan meski tahu jika istrinya sedang berusaha menipu dirinya.
Karena tidak tega melihat Nala kegerahan, Keenan pun bersuara, "Abis sholat subuh seharusnya nggak boleh tidur lagi."
Mendengar perkataan Keenan, Nala sontak membuka matanya. "Hah, emang iya?"
Keenan kemudian tertawa, "Kamu nggak gerah selimutan sampai leher gitu? Matahari udah naik dari tadi." Pria itu menyibak selimut dari kakinya lalu perlahan turun dari kasur.
"Mau kemana?"
Keenan menoleh sambil mengambil atasan Nala yang sempat terlempar di pinggir kasur. "Dapur. Bajunya mau pakai sendiri, atau aku pakaikan?"
Wajah Nala memerah perlahan, Keenan lagi-lagi terkekeh. Menggoda Nala setelah bangun tidur mungkin akan jadi rutinitas favoritnya mulai dari sekarang.
Menghabiskan waktu setengah jam bersih-bersih, keduanya kini terlihat sibuk di dapur. Keenan sedang menyiapkan sarapan, sementara Nala sejak tadi tidak berhenti mengunyah kacang.
"Makan dulu, jangan langsung nyemil," tegur Keenan sambil mengulur tangannya mengambil toples kacang.
Nala mendengus, "Kamu bikin sarapannya lama. Ini sudah jam 10."
"Tadi aku ajak cari makan di luar nggak mau."
"Pesan makanan dari luar kan bisa, nggak harus makan di luar. Aku capek tau, badan aku pegal semua."
"Nggak ngapa-ngapain kok pegal, baru aja bangun tidur padahal."
Keenan hanya mengatakannya dengan suara pelan, namun kalimat itu sangat jelas terdengar oleh telinga Nala. Responnya terhadap ucapan Keenan ialah menghadiahi suaminya itu dengan delikan tajam. "Nggak ngapa-ngapain kamu bilang?"
Keenan yang baru saja meneguk susu dari gelas langsung tersedak.
Nala berdiri dari tempat duduknya sambil berkata, "Kamu lupa, ini.... Itu... Apa itu, aku... Kenapa tiba-tiba gagap?" Wajahnya memerah, ucapannya mendadak tersendat. Ia sangat ingin mengatakannya dengan lantang pada Keenan, namun ketika ia ditatap lekat lengkap dengan senyum kecil dari bibir Keenan, Nala blank seketika. "Nyebelin!"
Suasana sarapan terlambat ini terasa sedikit sunyi. Pasalnya masing-masing dari keduanya sibuk mengunyah.
Berlalu selama kurang lebih 10 menit, Nala memulai pembicaraan. "Kamu cuti berapa hari?"