Hari ini hujan, lagi-lagi hujan.
Bukan gak mensyukuri nikmat Tuhan, tapi kadang kala hujan juga bisa membawa petaka untuk beberapa orang.
Kaya abang-abang kaki lima yang gue liat sebelum sampai apartemen tadi, atau abang-abang penjual bandros yang biasa keliling dengan dagangan di pundak.
Kalo dilihat dari sudut 'petaka' tentu aja banyak, tapi gak sedikit juga orang-orang yang ngerasa sangat amat bersyukur akan turunnya hujan. Kaya Sehun, hari ini dia ada jadwal kerja kelompok, tapi karena hujan jadinya diundur besok.
Sekarang anaknya lagi kesenengan guling-guling di atas kasur sambil meluk bantal.
"Ayy, hujan-hujan gini enaknya makan mie pake telor mata sapi gak sih?"
Gue yang lagi baca novel di meja belajar hanya meliriknya sekilas, kemudian balik lagi baca novel.
"Ayy, aku mauuu."
"Ayy, aku tau kamu gak peka anaknya, makanya aku bilang."
"Ayy, Ayy, mauuu miee mata sapi."
Jujur sebenernya gue mager.. kalo lagi hujan-hujan gini tuh bawaannya suka pengen sedih, tapi gak tau apa yang mau disedihin.
"Yaudah kalo gak mau, sini kamu, gantiin mie mata sapinya."
Akhirnya gue memutuskan untuk menutup buku novel yang sedari tadi gue baca, lalu berjalan kearah Sehun yang udah siap sedia dengan tangan terbuka, menunggu gue untuk masuk kedalam pelukannya.
"Kenapa? Kok kaya asem gitu mukanya?"
Gue mendongak untuk mendapati wajah Sehun yang tepat berada di atas kepala gue.
"Muka aku bentuknya kaya asem?"
"Rasanya, kaya asem, perumpamaan."
"Pernah nyobain muka aku emangnya?"
Wajahnya semakin mendekat, lalu gak lama kemudian bibir kami udah beradu saling menarik satu sama lain, menutup mata masing-masing, hingga rasanya napas gue cuma tersisa seperempat.
Gue menepuk pundak Sehun pelan, memintanya untuk melepaskan gue sekarang, karena sepertinya gue akan melayang kalo dia masih terus melanjutkan lumatan-lumatannya.
Setelah terlepas, Sehun menatap gue dengan lembut, bikin gue nyaris aja nangis tiba-tiba.
"Pernah denger gak? katanya hujan itu terdiri dari 1 persen air dan 99 persen kenangan."
Rasa sesak itu menguap, berganti menjadi kekehan geli setelah mendengar pernyataan Sehun.
"Katanya siapa?"
"Katanya angin."
Gue tertawa.
"Apa kata angin?"
"Katanya Irene cantik."
Gue memundurkan wajah, lantas mengernyit kearahnya.
"Ini Sehun atau Daylen?"
"Sehun Ramadhan."
Gue kembali tertawa gemas, beralih memeluk lehernya erat, mengusap rambutnya yang terasa lembut dengan harum maskulin yang selalu sukses bikin candu.
"Keren dong aku?"
"Kenapa?"
"Soalnya pacar aku lebih ganteng dari pacarnya Milea."
Sehun tertawa dengan tangannya yang tak henti-henti mengusap punggung gue.
"Kalo gitu jangan pergi, jangan ditinggal."
"Kenapa?"
"Soalnya Sehun cuma ada 1, dan cuma bisa jadi milik kamu."
"Kenapa gak bisa jadi milik orang?"
"Gak aku izinin. Aku cuma mau jadi milik kamu, boleh kan?"
And kiss is the answer to the question.
...
"Kenapa kuning telor itu bentuknya bulet?"
"Ya karena pengen aja kali??"
...
"Ayam atau telor duluan sih yang ada?"
"Bumi duluan."
"Masuk akal.."
...
"Kenapa sih kalo nangis keluarnya air mata?"
"Kalo air pipis ya beda lagi tempatnya."
"SEHUN!"
Bersambung..
yupp
makasih ya yang udah komen dan vote cerita ini, seneng aku bacanya.
semoga kalian sehat-sehat dan bahagia selalu yaaa, see you temen-temenn <3
KAMU SEDANG MEMBACA
Sehun Girlfriend | Hunrene
FanfictionSuka duka Irene Devina Charlitta menjadi kekasih dari Adikara Sehun Bramasta. "Hun, kalo misalnya aku tenggelam barengan sama Dino, siapa yang bakal kamu tolongin duluan?" "Dino lah kamu kan bisa berenang, kamu lupa Dino gabisa kena air?" "IHH SEHU...
