Pagi ini Hyeongjun datang bersama dengan Minhee, Taeyoung dan Seongmin. Langkah mereka terhenti begitu melihat Wonjin yang sudah berdiri di Lobby. Sepertinya laki-laki itu menunggu kedatangan Hyeongjun.
Mimik wajah Wonjin terlihat khawatir, sedikitnya terdapat gurat terkejut saat melihat keadaan Minhee meskipun terlihat sekali jika dia tidak peduli dengan itu semua.
Hyeongjun menghela nafasnya. Matanya sempat melihat kearah Serim dan Allen yang juga berjalan beriringan dari arah lain, mata kedua adik-kaka itu sempat bertemu namun Hyeongjun sudah lebih dulu memutuskan pandangan keduanya.
Hyeongjun memilih berjalan kearah anak tangga menuju kelasnya, baru saja dia hendak melewati Wonjin tangannya sudah lebih dulu di tahan oleh lelaki itu.
"Kau marah Hyeongjun?" tanya Wonjin
Hyeongjun menghembuskan nafasnya.
"Sayang, aku khawatir. Semalaman aku tidak bisa menghubungimu, tadi pagi juga kau pergi lebih dulu tanpa pamit pada Serim Hyung. Sebenarnya ada apa denganmu?"
"Kau berbicara seolah kau tidak tau apapun" ucap Hyeongjun tanpa melihat kearah Wonjin
Wonjin mengerutkan keningnya bingung "apa maksudmu? jangan seperti ini, selama seminggu nanti aku tidak bisa bersamamu karena mengurus organisasi dan perpisahan—"
"Entahlah..." Hyeongjun tersenyum sinis kemudian melihat kearah Wonjin "—aku sudah mulai muak" lanjutnya lalu kembali melangkah menaiki anak tangga
Mendengar penuturan Hyeongjun membuat Minnhee menggulum bibirnya guna menahan senyum, hatinya merasa puas karena rencananya dengan Taeyoung berhasil.
Taeyoung sendiri sudah mengaduh pelan, disebelahnya Seongmin meringis kecil.
Berbeda dengan mereka Allen tampak menutup mulutnya dramatis dan Serim menghela nafasnya.
"Hyeongjun-ah" Wonjin dengan cepat berlari mengejar pacarnya begitu dia tersadar dari rasa keterkejutannya.
"Woah— Loh? Minhee? Tanganmu kenapa?" tanya Allen saat tidak sengaja dia melihat kearah Minhee dan tangan lelaki itu terluka
"Aku jatuh dari motor. Kenapa? Tetap tampankan?" tanya Minhee
"Ihhh~ lebih tampan Serim. Wlee" Allen menjulurkan lidahnya mengejek yang di balas oleh Minhee dengan juluran lidah mengejek juga
"Lebih tepatnya tidak jatuh, seseorang menabraknya dan si brengsek itu pergi begitu saja" ucap Taeyoung melihat kearah Serim yang sedari tadi hanya diam. Entah kenapa, perasaan Taeyoung mengatakan jika semua ini di sengaja.
Apa yang terjadi pada Kang Minhee adalah ulah seseorang. Dan orang itu entah Serim atau Wonjin, Taeyoung mencurigai keduanya.
Alis Serim sedikit terangkat kecil begitu mengerti maksud Taeyoung kemudian laki-laki itu melihat kearah Seongmin yang sedari tadi diam saja.
"Ayahmu seorang pengacara dan ibumu seorang jaksa, kenapa mereka tidak mencari tau? Ini tidak kriminal bukan?" tanya Serim
"Eum— itu—"
"Kenapa? Mereka tidak peduli? Tentu saja..." Serim melihat kearah Minhee "—gunakan uangmu untuk orang tuanya. Dan kau akan tau siapa pelakunya"
"Apa maksudmu?" tanya Seongmin
"Ah~ apa aku terlalu menggunakan bahasa yang sopan padamu? Baik, aku jelaskan. Orangtuamu seperti itu bukan? Menutup dan menangani kasus berdasarkan uang yang mereka terima? Selayaknya seekor anjing menggongong. Dia akan diam saat manjikannya menyuruhnya diam dan dia akan mencabik jika majikannya menyuruhnya untuk mencabik—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Vanilla
FanfictionJika ditanya, satu kata yang menggambarkan Kang Minhee menurut Hyeongjun adalah 'Brengsek' dan jika ditanya, satu gerakan untuk menggambarkan Kang Minhee menurut Hyeongjun adalah 'acungkan jari tengah' "Hyeongjun, ayo melakukan Sex denganku" -Kang M...
