Part 17

431 12 0
                                        

Selamat Membaca !!
-
-
-


Drrrt drrtt

Adin mengambil ponselnya dengan malas, lalu ia menempelkannya di telinga.

"Hallo Sayang.."

"Hmm"

"Gimana kabar kamu disana, Nak?" Tanya Dina--Mama Adin.

"Baik." Jawab Adin singkat

"Mama kangen sama kamu, nak."

"Ngapain kangen sama Adin, yang dipikiran kalian kan cuma pekerjaan." jawab Adin ketus.

"Kamu jangan bilang seperti itu nak, mama sama papa kerja juga nyari uang buat keperluan kamu."

"Adin gak perlu uang, Adin hanya butuh kasih sayang mama."

"Tapi ma-"

Adin memutuskan panggilannya, ia melemparkan ponsel itu ke kasurnya.

"Arrgh!" Adin mengacak rambutnya frustasi

Adin tidak mau hidup nya dipenuhi uang, meskipun kedua orangtuanya kaya, punya banyak segalanya, tapi yang hanya Adin butuhkan yaitu keduanya ada di samping Adin.

Mengapa orangtua nya tidak pernah berada disampingnya?

Adin juga mau seperti anak-anak seusianya yang mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtua.

Waktu Adin ikut dengan keduanya ke luar negeri, ia bersekolah disana. Tetapi, itu tetap sama saja kedua orang tua nya tidak memperhatikan Adin, yang diperhatikan hanyalah pekerjaan mereka saja, berkas-berkas yang harus mereka tandatangani, rapat-rapat yang harus mereka laksanakan, serta yang lainnya.

Hal itu membuatnya menjadi seorang anak yang pendiam selama disana, ia ikut kesana tujuannya hanya untuk menenangkan diri dari kejadian masa lalunya itu. Tetapi hal itu tidak membuatnya lebih tenang, malah menambah beban baginya ketika melihat kedua orangtua Adin masih memikirkan pekerjaan mereka.

Maka dari itu Adin memutuskan untuk pulang sendiri ke tanah Air, dan berpindah sekolah ke SMA Nusa bangsa--bersama Salma. Tujuannya juga untuk meminta maaf pada Salma setelah kejadiannya di tahun lalu yang sempat menyakiti Salma--temannya sendiri.

Dan sedikit-demi sedikit Adin mulai mengubah sikapnya menjadi seperti dulu lagi, yang tidak dingin, pendiam dan cuek, itu semua semenjak Salma sudah memaafkannya.

"Salmaa! Kenapa lo selalu ada dipikiran gue ha!?" Adin semakin frustasi ketika hanya ada wajah Salma di otaknya.

"Gue gak bisa lupain lo, sal!"

*****

"Pagi Bundaa!" Zidan menuruni anak tangga dengan senyum yang merekah.

"Pagi sayang" Jawab Yunita--Bunda Zidan, yang sedang menyiapkan makanan di meja makan.

Zidan mengambil roti selai coklat kesukaannya ketika ia menghampiri meja makan.

S A L M A [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang