Part 33

416 8 0
                                        

Selamat Membaca!!
-
-
-

Selesai mengerjakan sholat Maghrib berjama'ah dengan keluarganya, Salma segera masuk ke kamarnya. Hari ini begitu lelah rasanya, acara pernikahannya tadi baru saja selesai setelah ashar. Rasanya ia ingin membaringkan tubuhnya di kasur yang empuk, meng-istirahatkan tubuhnya sejenak dari kegiatannya berdiri seharian menyalimi para tamu undangan. Memang tidak banyak, namun ini adalah hal pertama yang Salma rasakan.

"Haduh! Capek banget!!" Keluh Salma saat ia membaringkan tubuhnya di kasur yang masih dengan memakai mukenah-nya. Matanya terpejam sembari tangan sebelahnya yang terus memijat bahunya. Sesekali ia membunyikan jemari lentiknya.

"Mau di pijitin gak?"

Salma langsung terduduk dari tidurannya ketika ia mendengar suara Zidan dari arah pintu. Ia lupa jika sekarang di kamarnya tidak sendirian lagi, dirinya sudah mempunyai suami.

"Nggak, kak. Gak usah." balasnya sedikit kikuk.

Zidan mendekat ke arah Salma, ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang. "Gapapa. Gue tau, lo pasti capek banget kan berdiri terus seharian ini?"

"Eh nggak kak, beneran kok gapapa. Udah enakan juga kok, gak pegel-pegel banget." 

"Ya udah kalo lo gak mau. Nih, biar gue aja yang lo pijitin." Ucao Zidan seraya mengulurkan tangannya ke arah Salma.

Salma mengambil napas dalam-dalam, lalu ia hembuskan secara perlahan. Bilang aja Zidan ingin dipijitin, pake kode-kodean segala. Salma mengambil tangan Zidan, dan mulai memijatnya dengan pelan.

"Yang bener, gak kerasa ini. Kencengin lagi coba." Titah Zidan.

Salma tersenyum miring, ide jahil terpikirkan olehnya. Dengan kekuatannya yang masih tersisa, ia mulai memijatnya dengan secara kasar. Zidan meringis kesakitan.

"Aduh, Sal. Pelan-pelan dong! Malah tambah sakit ini mah."

"Tadi katanya yang kenceng, yaudah nih kayak gini kan maunya?" Ucapnya sambil menekan-nekan tangan laki-laki itu dengan kuat.

Zidan mengambil paksa tangannya dari Salma. Memang benar-benar ya, kekuatan cewek gak ada lawannya. Badan aja kecil, tapi tenaganya kuat banget.

"Udah agak mendingan, kan?" Tanya Salma dengan senyum jengkelnya.

"Mendingan gimana, yang ada badan gue malah tambah remuk." Jawabnya kesal.

"Yaudah kalo gitu." Salma beranjak dari kasur, ia ingin melepaskan mukenanya menjadi hijab instan. Tetapi gerakannya terhenti ketika ia teringat ada seseorang di dalam kamarnya.

Salma menengok kebelakang, Zidan sedang menyenderkan kepalanya di ranjang sembari memainkan ponselnya.

Ia menggigit bibir bawahnya, untung saja Salma belum membuka mukenanya, jadi Zidan pastinya belum melihat mahkotanya ini. Ia segera mengambil hijabnya, dan berjalan menuju kamar mandi.

"Salma." Langkahnya terhenti ketika Zidan memanggilnya.

"Mau ngapain lo?" Tanya Zidan.

"Mau ganti kerudung, kak." Jawabnya tanpa menoleh ke arah Zidan.

Zidan meletakkan ponselnya di kasur. "Di sini aja gantinya."

Salma tersentak kaget mendengarnya. Jika ia membuka kerudungnya disini, itu artinya Zidan melihatnya. Tidak, tidak! Ia tidak akan meperlihatkan sehelai rambut pun pada laki-laki. Tapi--ah iya lupa, Zidan kan suaminya.

"Malu, kak."

Zidan berjalan mendekatinya. "Ngapain harus malu? Kan gue suami lo sekarang."

Salma menundukkan kepalanya, meremas dengan kuat hijab yang ia pegang. "Tapi kak--"

S A L M A [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang