MY SAVAGE BOY - 4

1K 61 3
                                        

"Aku kangen Mama, Papa!" gumamnya sedih. Matanya berkaca-kaca menahan sesak di hati. Entah kenapa ia ingin menangis sekarang.

"Nyonya, kenapa?" suara familiar itu membuat Naura sedikit terkejut ditempatnya. Cepat-cepat gadis cantik itu mengusap air mata yang hampir jatuh mengenai pipinya.

Ia membalikkan badannya segera,"Aku tidak kenapa-kenapa."

Dia Nina, maid yang sudah dua hari ini bersamanya. Gadis berusia hampir sama dengan Aksa itu mengulas senyum simpul.

"Nyonya, rindu seseorang?" tebakan Nina tepat sekali. Kenapa gadis itu bisa tahu? Apa dia bisa membaca pikirannya?

"Nyonya rindu dengan Tuan Muda?!" lanjutnya cepat. Sembari menatap dengan melotot. Wajahnya sumringah,"Tidak!" sanggah Naura.

Gadis berusia 17 tahun yang akan bertambah usia itu membantah tegas. Nadanya sedikit sewot. Sebab perkataan Nina sangat salah. Kenapa ia harus merindukan laki-laki itu? Ia rindu dengan orang tuanya.

"Eh?" beo Nina, membuat gadis remaja itu mendengus kesal.

"Terus Nyonya merindukan siapa? Nyonya, tolong jangan merindukan laki-laki lain! Tuan muda pasti sangat marah!" ucap Nina gusar. Tuan mudanya itu sangat sensitif dan posesif.

"Nina kamu ini apa-apaan sih?!" jerit Naura tidak suka. Gadis itu langsung pergi meninggalkan Nina yang termenung sendiri.

"Aduh, maaf jika Nyonya kesal karena ucapan saya." kata Nina menunduk sambil berjalan mengikuti langkah Naura.

Naura menghentakkan kakinya dan bersedekap dada."Untuk apa aku merindukan tuan mu itu! Tentu aku rindu keluargaku!"

"Iya Nyonya, maafkan saya!"

"Jangan mengikuti, aku ingin ke taman melukis!" titahnya dan berlari menaiki undakan tangga.

***
Aksa sedikit menarik dasinya agar tidak terlalu mencekiknya. Kepalanya sangat pusing dengan apa yang dia pikirkan semuanya.

Ia mengusap kasar wajah tampan itu yang menarik banyak wanita. Ia kembali duduk tegap menyalakan laptop didepannya. Memindahkan beberapa dokumen file ke flashdisk. Ia juga sibuk membaca dokumen dokumen dari sekretarisnya. Ketika mendapati kata atau hal yang menganggu maka ia akan memerintah untuk merevisi lagi.

Ia mencoret satu persatu kata yang kurang tepat atau pun tidak benar di sana. Begitu terus sampai jam mulai menunjukkan pukul 15. 50. Ia mulai meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.

Ia mengambil ponselnya, lockscreen dengan wajah seorang gadis tersenyum cantik itu membuatnya mau tak mau ikut menarik kan bibirnya.

Suara dering tiba tiba menampilkan nama sekretarisnya di layar ponsel.

"Bucketnya sudah ada di lobby tuan, apa mau diantar langsung?" tanya sekretarisnya, dia Radit. Dia sekretaris sekaligus orang yang Aksa percaya.

"Biar saya yang bawa," ujar Aksa dingin. Lalu mematikan sambungan telefon sepihak. Itu sudah biasa, Radit tidak akan sakit hati.

Ini tidak sebanding dengan aksi Aksa ketika lelaki itu marah. Bisa membanting atau bahkan melukai orang.

Sepatu pantofel itu nyaring disepanjang jalan. Semua karyawan menunduk hormat saat tak sengaja bertemu Bos pemilik perusahaan besar.

"Sore Pak,"

"Sore, Pak Aksa."

Beberapa ucapan yang sempat Aksa tangkap juga ada yang mengatakan kalau dia sangat dingin, sensitif.

Itu memang benar dan memang ia akui. Ia tidak peduli ucapan orang lain. Namun ketika ia sudah merasa sangat marah lelaki itu tidak akan segan berbuat licik.
Aksa sebenarnya adalah laki-laki dingin yang sangat licik. Melakukan apapun demi apa yang harus dia dapatkan. Menyingkirkan sesuatu yang memang menganggu.

MY SAVAGE BOYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang