Pertanyaan kemarin malam membuat Naura tidak bisa tidur nyenyak. Sungguh, gadis itu masih kepikiran sampai sekarang.
Sehabis makan malam itu mereka berbincang cukup lama, sampai Sinta mengatakan harus pulang. Karena Nako tidak mengijinkan dirinya menginap di sana.
Hal itu melegakan Naura tanpa sadar. Belum sempat pula ia memberi jawaban dalam beberapa saat terdiam. Aksa kemudian datang, entah itu keberuntungan atau apa tapi Naura sangat bersyukur.
Ia jadi tidak harus menjawabnya.
Lagian kenapa Sinta menanyakan hal itu. Dari kecil pun Naura menganggap dirinya dengan Aksa murni teman. Naura sayang Aksa, tapi ia pikir itu tidak akan lebih ternyata tidak untuk Aksa sendiri. Pria itu melindungi, menjaga, menyayanginya sebab mencintainya.
Bahkan Naura sendiri masih samar dengan sikap yang jelas jelas Aksa tunjukkan kepadanya.
"Aku tidak mau terus-menerus disini. Aku mau sekolah, mau lulus!" cetus Naura tekad. Gadis itu bersiap untuk menemui Aksa.
Matahari cukup terik kali ini. Lalu langkahnya terhenti. "Dia kan di kantor, huh." Gadis itu menepuk kepalanya.
"Kantornya jauh tidak ya? Boleh tidaknya aku keluar?"
Berjalan mendekati meja rias, Naura duduk menatap wajahnya di depan cermin.
Ia menatap wajahnya sendiri, menggembungkan pipinya yang sedikit gembul. "Pipi makin berisi, apa aku kebanyakan makan?" gumamnya.
"Hah, biar saja aku gendut. Biar Aksa itu menjauh dari ku!" ucapnya sendiri.
Naura menegakkan tubuhnya setelah setengah menelungkup wajahnya. Ia teringat dengan Radit, mungkin laki laki itu bisa membantunya.
***
"Oka, Nina!" seru gadis itu semangat.
Dua maid itu datang tergesa-gesa mendengar suara Naura. "Iya Nyonya?" Tidak biasanya siang-siang begini Nona-nya memanggil mereka.
"Telfon rumah disini bisa tidak ya, untuk menelfon Aksa."
"Nyonya perlu sesuatu?"
Naura menggeleng pelan,"Aku mau datang ke kantor Aksa. Bisa tidak ya? Apa Aksa nanti akan marah denganku?" cecarnya.
"Kami tahu alamat kantornya, Nyonya benar ingin berkunjung?"
"Iya, ada hal penting sangat penting!" ucap Naura meyakinkan keduanya. Nina dan Oka saling berpandangan.
"Kami bisa saja memberitahu, tapi tanpa ijin Tuan, Nyonya tidak boleh pergi. Jadi, Nyonya harus ijin dulu,"
"Huh, yasudah kalau begitu telepon kan aku dengan dia!" pintanya tegas. Gadis itu berjalan ke arah sofa.
Nina beranjak ke telfon rumah, ia menekan angka yang terhubung pada Tuan muda.
"Siang, Tuan."
"Ada apa?" sahutnya dingin.
"Em, Tuan, Nyonya ingin datang ke kantor." tanya Nina diikuti Oka di sebelahnya ikut mendengarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY SAVAGE BOY
Teen FictionNEW VERSION Romance - teenfiction Kegilaan dan kekuasaan yang Aksa miliki untuk mendapat gadis kecil yang menjadi cinta pertama dan terakhirnya. Mulai: 20 September 2022
