MY SAVAGE BOY -- 16

360 25 2
                                        

Malam ini, sangat di nantikan Naura. Ia menatap mata itu dengan air mata yang menggenang.

"Kamu baik-baik saja, kan, Nak?" tanya Ratih suaranya pun ikut serak. Ia mengusap air matanya cepat.

"Aku enggak, baik-baik aja. Aku mau pulang, Ma." jelas Naura. Raut cemas terpancar dari wajah ayu yang belum terlihat menua itu.

"Kamu disakiti? Kamu diapakan, Nak? Bilang sama Mama!" tegas Ratih meneliti keadaan putrinya. Matanya bergulir ke atas sampai bawah.

"Bukan, Aksa tidak menyakitiku. Tapi aku tidak baik-baik saja, disini. Aku ingin pulang dan sekolah, aku mau seperti dulu."

"Aku tidak menyangka, kamu akan membawa kami ke mansionmu." terang Deni, Papa dari Naura. Pria paruh baya tersebut terlihat masih tampan juga. Meski umurnya hampir menginjak angka 4.

"Seburuk, itu, saya?" Aksa menatap pria itu tak gentar. Dirinya tidak kalah gagah, dan berwibawa diusia muda.

"Bukan, kamu tidak seburuk itu." bantah Deni.

"Silahkan diminum," Aksa menunjuk sebuah kopi hitam di atas meja ruang tengah itu. Deni meminumnya sebagai bentuk menghargai.

"Masih muda, kaya, tampan. Apa yang kurang dari mu? Sampai terus menerus bertahan ditengah kesakitan, kenapa kamu menyukai putriku?"

Aksa mendengus smirk, ia buang arah mukanya. "She's special.

"Hanya itu?"

Pria itu berusaha bersikap setenang mungkin. Sebuah airpods pada telinga kirinya membuat pikirannya terbagi.

"I really love her, lebih dari yang anda tahu."

"Anda tidak mau memaksa putri sendiri untuk menerima dirimu, Anda hanya akan memberi pengertian pada Naura." ucap Deni tegas.

Menatap Aksa dengan tatapan seorang Ayah pada anaknya.

***

Tok tok tok

Suara pintu terketuk dari dalam, menghentikan langkahnya. Begitu pula kepala maid yang lantas menatap Tuan muda sekaligus pintu berwarna coklat.

Tok tok tok

Pintu lagi-lagi diketuk. Mau tidak mau Aksa membalikkan badannya bergerak menuju pintu coklat itu.

Ceklek

Aksa terdiam di tempatnya. Seorang gadis cantik dengan ekspresi gugup sedikit terkejut pelan. Tangannya memilin jari-jarinya.

Matanya bersinggungan dengan mata hazel indah milik Naura. Tatapannya terkunci, wajah cantik itu hanya terolesi lipglos pink.
Aksa sangat candu dengan wajah Naura yang sangat bersih dan polos.

"Butuh sesuatu?" pertanyaan itu lolos dari bibir tebal Aksa.

Terdiam.

Naura menggelengkan kepalanya kecil. Kakinya yang terlapisi dress berwarna merah muda ombre tersebut melangkah lebih dekat dengan pria itu. "A-aku... Mau ikut."

Tunggu, apa pendengaran Aksa salah? Gadisnya ingin ikut dengannya? Padahal 1 jam lalu masih menangis dan meminta pulang. "Ikut, kemana?"

"Kantor." cicitnya menunduk. Tinggi mereka sangat jomplang, Naura hanya sedadanya saja. Tapi terlihat cocok dan mungil. Seperti kebanyakan pasangan lucu.

MY SAVAGE BOYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang