Seorang gadis dengan dress santainya itu tengah menikmati sore hari dengan membaca sebuah novel bergenre komedi romantis.
Pikiran Naura sedikit tidak bisa fokus pada novel yang di baca sepenuhnya. Ucapan Aksa yang tiba-tiba masuk dalam pikirannya membuat gadis itu berdegup tanpa sadar.
Buk
Ini menutup novel sedikit keras. Helaan nafas panjang keluar dari mulutnya. Kepalanya menoleh ke samping kiri,"Kenapa aku jadi memikirkan ucapan Aksa tadi sore ya?" gumamnya.
Bibirnya mengerucut seketika. Cemburu?
Suara derit pintu kembali menarik persensi Naura. Gadis itu segera mengembalikan raut wajahnya menjadi biasa. Seorang lelaki gagah berdiri dibalik pintu kamarnya.
"Waktunya makan malam, Naura. " ucap Aksa seperti biasa. Tangan mungil itu menaruh novel yang semula di pangkuan bergeser ke atas kasur. Kakinya perlahan menginjak ubin lantai,"hm, iya." sahutnya.
Tanpa banyak kata Naura segera berjalan dan melewati Aksa begitu saja di balik pintu. Lelaki itu pun tidak mengalihkan pandangan dari Naura. Ia memperhatikan dengan diam.
Setelah melihat gadisnya benar-benar menuruni tangga, Aksa pun menyusulnya. Dari kejauhan mata tajamnya sempat bersinggungan dengan mata indah milik Naura, beberapa saat kala gadis itu menolehkan kepalanya ke belakang.
"Aku ingin serakah memilikimu Naura." katanya pelan dan penuh keseriusan.
Sampailah mereka berdua di meja makan, Nina dan Oka berdiri tak jauh dari mereka. "Udah," kata Naura, saat Nina menambahkan beberapa lauk di piringnya.
"Kalian ikut makan juga. Duduk." pinta Naura, dua perempuan muda itu saling menatap. Tak lama keduanya menggeleng bersamaan.
"Tidak, kami sudah makan, Nona." ujar Oka tersenyum manis.
"Bukannya para pekerja makan setelah majikannya makan? Kamu bohong, Oka. Aku tidak mau tau, Aksa---" Naura menoleh pada lelaki itu, guna memerintah pelayannya agar mau menuruti kemauannya.
Mata tajam itu menyorot tegas,"Duduk." titahnya tanpa dibantah.
Senyum cantik tersungging jelas, tangan kecilnya mengambil berbagai lauk dan menaruhnya di masing-masing piring Oka dan Nina. Jika tidak begitu mereka pasti takut untuk mengambil lauk sendiri.
"Mari makan," serunya ceria. Oka dan Nina spontan tersenyum mengangguk. Beberapa menit berlalu Aksa lebih dulu selesai makan malam. Lelaki itu pergi tanpa berkata apapun sebelum meninggalkan meja makan.
"Tuan kenapa, ya?" bisiknya pada Oka, di jawabi dengan gelengan. Merasa ditatap, Naura sontak menggendikan bahu seolah tahu kalau mereka bertanya.
Mereka pun sedikit mengobrol, hingga tertawa kecil. Tak lama suara derit kursi mengalihkan atensi ketiganya.
Aksa baru saja duduk di sebelah Naura. Dengan paper bag berukuran medium di sisi kanan tangannya yang berada di atas meja. Oka dan Nina langsung pamit saat merasa momen mereka tidak tepat.
"Ada apa?" tanya Naura.
Aksa mendorong kecil paper bag itu dengan jarinya. "Buka," titahnya.
Sebuah gelang dengan kisaran fantastis itu ada di dalam kotak berwarna hitam. "Buat siapa?" tanyanya belum mengerti.
Aksa mengambil alih kotak itu, diraihnya pergelangan tangan Naura. "Jangan di lepas. Aku membelinya waktu teringat kamu di mall."
Naura sedikit tergugu. Gadis itu menatap lekat gelang yang melingkar indah di tangannya. Lidahnya terasa kelu. Pandangan matanya naik,"Dengan keterdiamanaan mu saja, aku sudah merasa senang."
"Ini merepotkan, harganya pasti mahal." kata Naura polos. Senyuman samar terpatri di wajah tampan itu. Namun sayang Naura tidak bisa melihatnya, gadis itu terpesona pada keindahan gelang yang melingkar di tangannya. Sederhana namun elegan.
"Tidak sebanding dengan kamu." sahut Aksa menarik tangannya ke semula. Pria itu sedikit menjaga jarak, akan lebih mudah baginya memperhatikan setiap mimik wajah gadisnya.
"Naura..." panggil Aksa.
Kepala gadis itu terangkat,"Iya?"
"Perasaan ku tidak akan pernah berubah. Aku akan lebih sabar untuk bisa mendapatkan perhatianmu. Di mulai dari itu."
Deg
Drttttt
Suara derit kursi yang bergesekan dengan lantai terdengar nyaring. Bola mata tajam milik Aksa naik, tatapannya tertuju pada gadisnya.
"Aku ke atas dulu, ter-terimakasih gelangnya." seraya berjalan cepat menaikan undakan tangga. Meninggalkan Aksa dengan segala keterdiamannya.
"Beruntung banget, Nona." ucap Oka lirih merasa iri melihat keromantisan majikannya.
Nina mengangguk pelan,"Betul sekali. Aku ingin mendapat laki-laki seperti tuan muda."
Tak lama sebuah tepukan cukup keras terasa di bahu kecil, Nina. Gadis itu menoleh dengan raut bertanya. "Kenapa kamu memukul ku?!" katanya tertahan.
"Mana mau tuan muda dengan mu."
Nina meringis gemas. "Bukan tuan muda, tapi sifat romantis seperti tuan muda, Oka!" celetuknya.
"Apa kalian melupakan tugas?" suara bariton itu membuat dia gadis yang bersembunyi balik dinding pun terkejut. Aksa berdiri tak jauh dari sama sembari menatap dengan tatapan tanpa ekspresi.
"Maaf, Tuan. Maafkan kami." ucap keduanya. Pria itu tidak menggubris, ia segera pergi dari sana.
"Kamu sih, Oka!"
"Ish kamu tuh!"
***
Pagi ini ada seorang gadis cantik kembali memasang senyum bahagia. Kebahagiaan untuk tetap bersekolah. Dengan penuh semangat Naura beranjak menuju kamar mandi. Ia akan melakukan ritual pagi seperti pada umumnya.
Ceklek
Pintu berwarna pastel terbuka menampilkan sosok tampan, mengenakan setelan kantor rapih. Sebuah nampan berisi susu dan potongan buah apel tersedia di mangkuk kecil.
Melihat kamar tidak ada pemiliknya. Pria itu tetap yakin memasukinya. Ia meletakan nampan tersebut di meja nakas tempat tidur.
Mendengarkan suara gemericik air, Aksa yakin gadis itu tengah mandi. Ia segera keluar dari sana.
Sekitar kurang lebih lima belas menit Naura sudah siap dengan seragamnya. Gadis cantik itu tengah berjalan sembari membawa nampan bekas segelas susu dan mangkok. "Oka,"
Perempuan yang merasa dipanggil menoleh,"Iya, Nona? Loh, kenapa membawa nampan?" tanyanya.
Alis Naura menyatu,"Bukannya kamu yang membawa ke kamarku?"
Oka menggeleng. "Mungkin, Nina." balasnya.
Naura kembali menutup mulutnya saat akan mencoba bertanya, gadis itu pun meletakkannya di area cuci piring. "Tidak biasanya Nina memberiku susu dan potongan buah di kamar."
Oka terdiam, gadis itu mengingat selama beberapa menit lalu bahkan sejak pagi Nina selalu di sampingnya membantu mengerjakan tugas di dapur. Lalu sejak kapan Nina ke atas?
Pikiran Oka buyar ketika, Naura menyenggol bahunya. "Apa yang kamu pikirkan?"
"Eh, tidak. Bukan hal penting. Cepat duduk, tuan muda akan menyuruhku memanggilmu jika belum terlihat duduk di sebelahnya."
Bibir tipis itu manyun beberapa detik.
"Kamu tidak asik, Oka." ucapnya sebelum pergi dari tempat.
Dan benar, Aksa sudah duduk manis di meja makan.
"Apa yang kamu lakukan di pantry?" tanya Aksa tegas namun lembut.
Bola mata Naura bergulir malas. "Menurutmu?" balasnya sedikit ketus.
"Kamu terlihat semakin cantik jika seperti itu."
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
MY SAVAGE BOY
Roman pour AdolescentsNEW VERSION Romance - teenfiction Kegilaan dan kekuasaan yang Aksa miliki untuk mendapat gadis kecil yang menjadi cinta pertama dan terakhirnya. Mulai: 20 September 2022
