Pagi ini Naura sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia memutar tubuhnya beberapa kali merasakan dirinya terlihat cantik dengan seragam berwarna putih abu-abu apalagi di tambah jas almamater abu-abu juga.
Ceklek
Suara pintu dibuka membuat fokus gadis cantik itu pindah. "Mau apa datang ke kamarku?" tanyanya heran.
Seorang lelaki berstelan jas formal kemeja berwarna putih itu berdiri tegap dengan pandangan tajam padanya. Jika orang lain yang melihat pasti akan takut dengan bola mata hitam yang pekat bak laser.
Pandangan Aksa menelusuri seragam yang di kenakan gadis cantik itu secara detail. Untungnya ia tidak membelikan rok di atas lutut. Hal itu sedikit membuatnya tenang.
"Bernegosiasi?" ucap Aksa menatap dalam gadisnya yang berdiri cukup jauh.
Melihat gadis itu bersedekap dada seperti menantang membuat Aksa menahan gemas dalam dirinya. "Apa?" balasnya.
Helaan nafas panjang terdengar di kamar yang hanya ada dua orang insan di dalam. Ia mulai melangkah mendekat pada Naura.
"Jauhi Kevin, atau..." Aksa menunduk berbisik di telinga gadis itu. Aroma wangi menyeruak di hidung lelaki itu. Ia sedikit merasa menyesal memberikan Naura ijin untuk sekolah. Pastinya gadis itu banyak bercengkrama dengan teman teman lelakinya.
Mereka juga bisa merasakan aroma wangi dari rambut dan tubuh gadisnya.
"Atau, kamu tidak bisa sekolah lagi!"
Deg
Naura menatap marah pada Aksa. Sedangkan sikap Aksa biasa. Perbedaan tinggi itu membuat Naura sedikit pegal mendongak.
Sampai sebuah tangan berada di belakang kepalanya seperti menyanggahnya. "Jangan sentuh aku," tegas Naura menepis lengan Aksa.
"Pilihannya dua Naura, pikirkan itu. 30 menit lagi pintu gerbang sekolah akan ditutupkan?" ucapnya seperti ingin menggoyahkan ego gadis itu.
Naura menggumam sesekali menggerutu pada tindakan Aksa padanya.
Ia melirikkan matanya pada lelaki tampan yang duduk di sofa singlenya dengan tatapan biasa saja melihatnya kebingungan. Oh pasti lelaki itu sangat senang dia diambang kebingungan.
Naura mendesis rasanya ingin menjambak rambut Aksa. "Mau sampai kapan kamu seperti itu?"
"Mau sampai kapan juga kamu masih disini? Aku tetap tidak mau menjauhi Kevin." tolak Naura tegas.
Aksa menatap gadisnya cukup lama. "Berarti kamu pilih opsi kedua, kan?"
"Enggak dua-duanya."
Melihat Aksa berdiri dan berjalan mendekat padanya hal itu membuat Naura waspada. "Kamu menyukai, Kevin?" tanya Aksa suaranya sangat dingin dan datar.
"Enggak," balas Naura sedikit menyentak.
Aksa mencoba menyelami bola mata indah itu. "Lalu, kenapa kamu tidak mau menjauhinya? Naura, aku cemburu sekarang." jelasnya.
Gadis berambut panjang itu tidak bisa menjawabnya. Ia diam dengan kedipan gugup. Berada di jarak dekat Aksa terkadang membuatnya jantungnya berdebar yang ia sendiri tidak ketahui sebabnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY SAVAGE BOY
Fiksi RemajaNEW VERSION Romance - teenfiction Kegilaan dan kekuasaan yang Aksa miliki untuk mendapat gadis kecil yang menjadi cinta pertama dan terakhirnya. Mulai: 20 September 2022
