MY SAVAGE BOY -- 19

286 20 1
                                        


Sregg

Brugggh

Semua barang di atas meja itu terjatuh berserakan. Ulah tangan dari pemilik kamar itu sendiri.

Ia mengusap kasar wajahnya, lalu menghela nafas berat. Kakinya berjalan tak tentu arah, niat awalnya pulang sore ini yaitu ingin berterimakasih atas perhatian yang gadis itu berikan.

Semua tidak seperti yang dia bayangkan. Ia pikir gadis itu sudah mulai menerima dirinya. Ia pikir Naura sudah mau belajar sekedar menerima kehadirannya.

Ternyata salah, Naura tetap ingin pergi darinya. Itu sangat menyesakkan. Hatinya seperti di remas kuat.

Menyapukan tangannya pada saku celana depan, ia merogohnya. Sebuah kotak beludru berwarna biru terbuka lebar memperlihatkan anting emas berbentuk bunga. Rencananya ia akan memberikan ini untuk Naura. Menyempatkan dirinya ke sebuah toko perhiasan sebelum kembali ke rumah.

Ia menatap anting itu dengan lamunan kosong. Entah harus ia apakan benda ini. Setelah kejadian ini mungkin Naura akan semakin benci dan muak. Gadis itu akan lebih merasa tertekan.

Aksa juga memikirkan mental gadisnya. Alasan Aksa melakukan ini semua hanya karena tidak mau kehilangan Naura untuk kedua kalinya. Sudah cukup terpisah selama belasan bisa tahun sampai ia bisa bertemu diusia yang matang dengan gadisnya 17 tahun tahun ini.

"Iam just so scared about her, she spesialy of me." gumamnya.

Sedangkan dibawah sana, Naura tengah di tenangkan Nina dan Oka. Dua perempuan itu tidak tega mendengar tangis menyayat dari Nonanya.

"Nona, tenanglah." ucap Nina mengelus bahu tanpa kain yang menutup kulit mulusnya.

"Kami yakin, Tuan muda tidak bermaksud mengambil kebebasan Nona. Tuan hanya ingin anda selalu bersamanya." sahut Oka menatap Naura yang menunduk menumpukkan kepalanya pada kedua lututnya. Gadis itu terduduk di karpet berbulu itu.

"Cara dia salah," ucap Naura.

"Hem, Tuan muda memang bersikap atas apa yang dia mau. Terlepas itu salah, jika bisa mendapatkan apa yang dia inginkan kenapa tidak?" jelas Nina.

Tangis Naura perlahan sedikit mereda. Gadis itu mengangkat kepalanya, ia sesenggukan kecil. Menaikkan mata hazel ke atas.

***

"Lo masih belum ada kabar tentang Naura, Kev?" tanya seorang gadis berambut panjang warna sedikit pirang. Gelengan itu membuat bahunya merosot.

Sudah setengah bulan ini Marina, dan Kevin mencoba mencari kabar tentang Naura yang tiba-tiba tidak ada kabar. Tanpa pamit atau pun lainnya.

Mendatangi kediamannya beberapa hari lalu berharap gadis itu ada di rumahnya. Ternyata salah, orang tuanya mengatakan tidak tahu.

Marina dan Kevin memberi saran untuk melaporkan ini pada pihak kepolisian. Tetapi anehnya mereka malah mencegah itu. Mereka masih berkata kalau Naura baik-baik saja sedangkan mereka tidak tahu keadaan sebenarnya.

"Kamu merasakan kejanggalan tidak sih?" tanya Marina menatap temannya serius.

"Iya. Terakhir kita ketemu hampir dua minggu-an lalu." jelas Kevin. Lelaki remaja berusia sama dengan Naura tersebut memang tampan juga. Memiliki lesung pipi di kanannya.

"Aneh, Vin. Pokoknya kita harus cari Naura." tegas Marina.

"Apa waktu pulang sekolah lalu, lo tahu siapa yang jemput dia?" tanya Kevin mengingat kejadian 2 mingguan lalu.

Marina mencoba mengingatnya,"Seperti seorang sopir, terus mobilnya bukan yang biasa mengantar Naura."

Mereka saling menatap, sepertinya apa yang Kevin pikirkan sama dengan yang Marina pikir. "Kamu pasti paham kan?"

Kevin mengangguk mantap. "Berarti Naura bersama orang pemilik mobil tersebut."

***

Tirai gorden panjang berwarna pastel tersebut bergerak otomatis dari perintah sebuah remot. Sorot mentari mulai masuk ke celah-celah pintu balkon.

Suara tapak kaki semakin dekat ke arah ranjang, seorang gadis tengah tertidur lelap dengan piyama malamnya.

Kasur itu bergerak kecil ketika beban bertambah. Senyum tipisnya menghiasi pagi ini. Ia akan melupakan kejadian kemarin sore, gadisnya seperti itu karena lama tidak bertemu orang tuanya. Hal itu yang Aksa coba ambil dari sisi positif.

Tangan kekarnya menyampirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Naura. Tangannya bergerak lincah memakaikan sebuah anting berbentuk bunga kecil di ujungnya.

Naura menggeliat kecil dengan gumaman tak jelas. Semakin mengeratkan guling di pelukannya. Satu sisi sudah terpasang, kini Aksa harus membuat gadis itu berganti posisi miring ke kanan.

Perlahan ia menggerakkan kepala gadis itu agar bergeser sedikit miring ke kanan. Meskipun sedikit sulit, takut gadis itu terbangun karena ulahnya. Ia bersyukur itu tidak terjadi.

Mendapatkan posisi yang tepat, Aksa segera memasangkan anting satunya disana. Untung tidak begitu sudah ketika memasukkannya, jadi Aksa cukup senang.

***

Waktu telah menunjukkan pukul tujuh. Dan gadis yang warna kamarnya pastel tersebut baru saja membuka matanya. Ia merenggangkan tubuhnya yang sedikit kaku itu. Setelah rileks baru lah ia mulai duduk.

Mata hazelnya bergulir ke kiri, menemukan jam weker berbentuk boneka beruang,"Jam tujuh?"

"Astaghfirullahaladzim, sudah jam 7." Ia terkejut. Mungkin penyebabnya ia menangis terlalu lama.

Bahunya merosot mengingat usahanya tidak berhasil. "Dasar laki-laki egois,"

***
"Nina, Oka!" seruan nyaring itu menggema di beberapa sudut ruangan.

"Nina! Oka!"

Naura bersedekap dada, memandang sudut ruangan cukup sinis. Ia tidak menemukan orang yang ia tuju, dan Nina juga Oka tidak muncul juga.

Dari arah sudut taman belakang, matanya memicing tajam. Disamping itu tangannya bergerak menyentuh sebuah anting di sisi kanan telinganya. Sejak pagi tadi, ketika ia mencuci wajah di wastafel, matanya menangkap benda tersebut menggantung cantik di telinganya.

Jujur, ia terkejut sekaligus terpesona. Antingnya sangat cantik dan lucu. Apalagi bunga kecil yang menggantung dibawahnya.

"Anda memanggil kami, Nona?" sahut Oka sudah dihadapan Naura. Gadis berambut panjang itu menarik tangannya ke posisi awal.

"Iya, aku mau bertanya sesuatu."

"Silahkan, Nona."

"Ini," tunjuknya pada anting di telinganya. Kedua maid itu saling menatap.

"Maksud, Nona?" tanya Oka tidak paham.

"Siapa yang memakaikannya padaku? Apa kalian tahu?"

"Jujur, kami tidak tahu menahu Nona. Tapi, setahu saya yang bisa masuk ke kamar Nona hanya kami, kepala maid, serta Tuan muda." ujar Nina berterus terang.

"Saya kira itu Tuan muda yang melakukannya. Sebab, tidak mungkin kami bisa masuk tanpa perintah, Tuan sendiri." imbuh Oka menimpali.

"Begitu..." ucap Naura mengerti.

"Selera Tuan muda cocok dengan Nona. Pintar memilih sesuatu, apalagi perihal perempuan." ucap Oka terkekeh kecil.

"Dia sudah pergi, ya?" entah kenapa Naura berucap hal yang sudah jelas. Bahkan gadis itu sendiri tahu kalau jam seperti ini lelaki itu pasti sudah berada di kantornya.

Nina tersenyum,"Iya. 30 menit lalu."

Naura mengangguk samar, ia menggulirkan tatapannya ke seluruh arah. Gadis itu merasa lesu, melukis, ia bosan. Bermain ponsel ia tidak punya. Entah kemana ponselnya itu, ia bahkan sampai melupakan untuk bertanya keberadaan ponselnya.

"Nona perlu sesuatu?" tanya Oka sejak beberapa detik hanya melihat Naura menatap acak sekitar.

"Aku, mau makan."

TBC

MY SAVAGE BOYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang