Bab 10 : Berkunjung

3K 282 20
                                    


_G E Z A R A_

Sudah seminggu lamanya Geza disibukkan dengan jadwal lathan yang padat. Pertandingan yang sudah dekat membuat Geza sedikit gugup dikarenakan kali ini ada keluarga barunya yang akan menonton dirinya bertanding.

Sewaktu Raggel mengizinkannya untuk mengikuti event dihadapan para kakaknya yang lain, Geza senang bukan main. Ini adalah pertandingan terakhirnya untuk mewakili sekolah Geza. Dia ingin menorehkan prestasi sekaligus untuk kenang-kenangan terakhir kali.

Walaupun sebelumnya para kakaknya yang lain sempat menentang keputusan Raggel, tapi memang watak Raggel yang tidak ingin dibantah sedikitpun, akhirnya para kakaknya yang lain ikut menyetujui dengan terpaksa.

Sedangkan Ayah, Bunda, dan yang lain sangat mendukung Geza untuk ikut pertandingan. Awalnya, Bunda sedikit kaget waktu tahu kalau Geza mengikuti ekstrakulikuler bela diri di sekolah, tapi akhirnya Bunda lega setidaknya Geza bisa menjaga diri ketika sendirian.

Saat ini Geza dan Guntur sedang berada di koridor. Mereka sedang berjalan menuju kelas Galih dan Gisel untuk menemui mereka berdua.

Mereka berempat sudah berencana ingin melihat Geza latihan sekaligus memberi semangat untuk Geza. Sudah menjadi tradisi jika salah satu dari mereka akan lomba atau apapun itu, mereka akan berkumpul dan menjadi suporter dadakan.

"GEZA, GUNTUR." teriak Gisel dari kejauhan sambil melambaikan tangan ketika melihat keberadaan Geza dan Guntur.

Tak hanya Geza dan Guntur saja yang merasa terpanggil tapi beberapa siswa yang sedang ada di koridor pun juga menengok saking kerasnya teriakan Gisel.

Geza dan Guntur yang mendengar teriakan membahana milik Gisel sontak langsung menengokkan kepalanya. Guntur mengelus dadanya pelan untuk menetralkan degupan jantungnya karena sempat kaget, sedangkan Geza hanya menggelengkan kepalanya sudah terbiasa dengan teriakan milik Gisel.

Mereka berdua berjalan kearah Gisel dan Galih yang sedang berdiri didekat tangga. Gisel masih melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar tak perduli beberapa siswa menatapnya sinis karena merasa terganggu. Sedangkan Galih, dia hanya bersandar ditembok disamping Gisel sambil menatap datar kearah Geza dan Guntur.

"Gak usah teriak-teriak, suara lo tuh cempreng kek Anoa." ucap Guntur ketika mereka sudah dihadapan Gisel dan Galih.

"Bodo amat, suka-suka gue dong. Bilang aja lo sirik sama gue kan." sengit Gisel.

"Idiihh, ngapain juga gue sirik sama kanebo kering, buluk kaya lo." ejek Guntur.

"Apa lo bilang?!" sentak Gisel tak terima.

"Udah-udah ribut mulu lo berdua, nanti jodoh baru tau rasa." lerai Geza tertawa pelan.

"Amit-amit jabang bayi." ucap Gisel sambil mengetukkan dahi dengan kepalan tangan dan mengelus-elus perutnya.

"Gue juga ogah kali." sengit Guntur.

"Ayo mending kita turun ke bawah." ajak Galih yang sedari tadi diam memerhatikan perdebatan antara Gisel da Guntur.

"Yuk, Gez." ucap Gisel sambil menggandeng tangan Geza. Galih dan Guntur mengikuti keduanya dari belakang.

Mereka berjalan menuruni tangga menuju lapangan dimana tempat latihan Geza biasanya sambil bercanda ria.

G E Z A R ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang