Chapter Eleven.
Draco tidak berhenti tersenyum menatap Hermione yang baru saja menghabiskan beberapa puluh menit untuk menangis. Ia membiarkan wajahnya terbenam di pangkuan Draco sembari menangis.
Draco tidak keberatan.
Ia membantu Hermione untuk meluapkan segala emosinya, mulai marah, kecewa, kesal. Bahkan ingin membunuh seseorang pun Draco jalani dengan sabar. Hermione sempat menangis terisak-isak lalu terdiam lalu menangis lagi.
"Aku... benar-benar tidak bisa tidak mengingat kejadian itu, Malfoy. Maksudku...." ucapan Hermione terhenti karena Draco memeluknya. Ia mengusap-usap rambut Hermione yang terasa halus dengan lembut dan hati-hati.
"Tenang saja, aku akan memastikan dia mendapat ganjaran yang seharusnya. Sekarang kita fokus ke penyembuhanmu dulu. Nah, kau sudah makan, Tuan Putri?"
Hermione tersenyum tipis, Ia menggigit pipinya supaya tidak terlihat bahwa Ia sedang tersenyum seperti orang bodoh.
Draco tidak terlalu memperhatikan, setelah Hermione duduk dengan benar di kursi rodanya. Draco menggeliat beberapa kali dan duduk di pinggiran kasur.
Hermione tahu, Draco tidak mungkin memperhatikanya. Ia benar-benar bukan dalam kategori laki-laki peka.
"Tunggu, kau bawakan aku roti?" Tanya Draco setelah mendapati roti dan susu di meja sebelah ranjangnya. Ia menegak segelas susu dan menatap ke Hermione menanti jawaban.
"Iya." Jawabnya pendek. Mati-matian berusaha menutupi rasa gugup.
"Baiklah, kita ke ruang makan dan kita lihat ada makanan apa yang menarik."
*
"Mate..?" Tanya Blaise dan Theo bingung sampai melongo melihat Hermione dengan mata yang bengkak dan Draco berjalan dari kamar Draco.
"Astaga, Granger apa yang ular itu perbuat padamu?" Tanya Blaise prihatin.
Theo menggelengkan wajahnya tidak percaya. "Astaga, matanya bahkan sampai bengkak, hidungnya merah dan terlihat sangat sedih. Apa Draco menyakitimu?"
Draco terdiam. Ia menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Hermione terbatuk beberapa kali, bahkan tidak nyaman. Ia bolak-balik menatap Draco tanda bingung.
"Kami sebagai sahabat sejati ingin memastikanmu baik-baik saja." Imbuh Blaise cepat sebelum Ia terkena amukan Draco.
"Dan, ya. Hanya itu. Sungguh. Lalu, kami, ya, sebagai sahabat dari popok, ya bukankah seperti itu seharusnya, ya kan? Nah tapi karena, ya, kau terlihat baik. Mungkin kami harus pamit. Blaise ada apa dengan bisnismu?"
Blaise menggaruk telinganya bingung dengan ajakan Theo untuk menghindar, Theo seolah ikut memelas lalu baru Blaise sadar.
"Ah, tidak perlu. Sarapan saja bersama kami, tidak apa-apa kan Malfoy?" Tanya Hermione halus.
Draco mengangkat alis dan mengangguk. "Ya. Mate, duduklah. Kalian mau sarapan apa?"
Theo dan Blaise bertukar pandang nyaris tidak percaya dan kebingungan. Ini benar-benar Draco?
"Aku tau kau berfikir apa. Ya tentu saja ini aku, bodoh." Ucap Draco gusar sembari memutar matanya jengah.
Hermione tersenyum kecil. Terkadang Ia harus menyadari, Draco benar-benar membuatnya gemas, senang sekaligus malu dalam saat yang bersamaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Her.
Ficção Adolescente"Dari sudut pandangku, dia hanya perempuan biasa-biasa saja. Kelas menengah ke bawah dan tidak menarik. Apa itu tidak cukup jelas?" Hermione Granger yang selalu berani dalam mengambil risiko. Cantik dan berani. Tidak cukup kuat untuk menghadapi seg...
