Chapter 19
Hermione beberapa kali menghela nafas. Dia berusaha untuk tidak terlihat gugup di depan Draco Malfoy yang baru saja bangun dan masih termenung membaca surat dari Blaise dan Luna. Surai rambutnya masih berantakan dan dia terlihat cukup bingung dan masih setengah sadar.
"Hermione, apakah ini benar tulisan Lovegood? Aku tidak yakin ini tulisan Blaise. Tulisannya bahkan tidak lebih bagus dari cakaran ayam." Draco mengayun-ayunkan kertasnya dengan tatapan menyelidik.
Hermione tertawa, "Iya. Itu tulisan Luna. Mm, kau ada agenda untuk beberapa hari kedepan mungkin?"
Draco menggeleng, "Johannson belum memperbolehkanku untuk bekerja. Dan aku sangat bosan. Kau ada rencana?"
Hermione juga menggeleng. Draco tampak berfikir. "Kita tidak bisa keluar kemana-mana juga ya. Ah baiklah baiklah aku tidak bisa berfikir dengan kondisi seperti ini, Hermione kau lapar?"
"Lumayan." jawab Hermione singkat. Ia memilih untuk duduk di sebelah Draco yang masih mengantuk. Tanpa basa-basi, tangan Draco yang kokoh membawa Hermione kepundaknya sebagai tempat Hermione bersandar. Hermione merasa malu tetapi juga nyaman sekaligus.
"Kalau masih mengantuk, tidur saja ya." ucap Draco nyaris seperti bisikan karena nada suaranya sangat lembut. Hermione mengangguk. "Mm-hmm. Tapi sepertinya kau yang lebih mengantuk, Draco."
Draco tertawa, "Lumayan. Alright, kita tidur lagi saja."
*
Hermione terbangun dengan perasaan heran, ia yakin tadi ia masih tidur di sofa setelah menemukan pesan dari Luna tetapi saat ini ia sudah tidur di kasur Luna lengkap dengan selimut yang membungkus dirinya. Kemana Draco?
Hermione berjalan dengan pelan menuju dapur dan menemukan Draco Lucius Malfoy sedang memasak. Dadanya menghangat mengetahui Draco berusaha memasak. Hermione yakin, Draco tidak pernah memegang spatula semasa hidupnya. Oh, ayolah Tuan Muda Malfoy tidak mungkin memasak sendiri kan?
Hermione tersenyum dari pintu mengamati Draco yang tampak kesusahan untuk memecahkan telur, mengocok telur, dan memanaskan kompor. Sihirnya bahkan tidak begitu berhasil dan Ia mulai menggerutu.
"Oh ayolah tungku bodoh. Aku lapar, Hermione lapar. Bisa kah kau segera matang tanpa kusuruh?" gerutu Draco. Hermione terkikik geli. Ia merasa Draco sangat lucu dengan segala celotehannya yang Ia sebutkan.
Hermione mengamati dengan saksama, Draco menyisihkan bahan makanan yang tidak disukai oleh Hermione dan berusaha keras untuk menatanya dengan baik. Rasanya Hermione seperti ingin terbang ke bulan meskipun Ia belum berhasil mengingat Draco sepenuhnya, tetapi mengetahui fakta bahwa Draco sangat peduli padanya membuatnya sangat senang.
Draco masih menggerutu dan berusaha memasak dengan pengetahuannya yang sangat minim sementara Hermione mulai tersadar dan ingin membantu Draco. Kemudian, ide jahil muncul begitu saja di pikirannya.
Draco merasakan perutnya menghangat seolah ada yang memeluknya, Draco kaget menemukan tangan Hermione di pinggangnya. "Masak apa?" tanyanya lembut. Draco menghentikan segala aktivitasnya dan menepuk-nepuk pipinya beberapa kali.
"Hei, Draco. Hei. Stop." Hermione memegangi tangan Draco dengan khawatir. Setelah Draco mulai tersadar dan menatap Hermione baik-baik. Hermione justru tersenyum. "Kenapa, Draco? Berhenti melukai dirimu sendiri."
"I... i just still can't believe that you are now in front of me.... with me.... sehat... aku masih tidak percaya." ucap Draco terbata-bata.
Hermione tersenyum, "I'm not going anywhere, Draco. I always here, beside you."
*
Halo! Hihihihi, maaf ya aku baru update lagi. So this is it, aku baru tes dulu apakah masih banyak yang mau menanti ceritaku yang terbengkalai ini? Semoga bisa sedikit mengobati kalian yang kangen sama Dramione yaah. Love you guys! Please leave a comment yaaa. Thank you so much<3
KAMU SEDANG MEMBACA
Her.
Teen Fiction"Dari sudut pandangku, dia hanya perempuan biasa-biasa saja. Kelas menengah ke bawah dan tidak menarik. Apa itu tidak cukup jelas?" Hermione Granger yang selalu berani dalam mengambil risiko. Cantik dan berani. Tidak cukup kuat untuk menghadapi seg...
