◽️◽️◽️Happy Reading◽️◽️◽️
.
.
.
****
Yoongi tak memiliki pilihan lain. Ia benar-benar marah dengan dirinya sendiri lantaran gagal melindungi Hana, dan pada akhirnya nasib buruk terjadi pada gadis itu.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Yoongi jarang lagi menyapa Hana. Pagi ia pergi bekerja, dan malam kembali tanpa menyapanya. Tampaknya ia sudah benar-benar kecewa mengetahui semua kenyataan itu. Hana pun semakin diliputi rasa bersalah, hingga suatu saat ia pun memberanikan diri untuk menyapa Yoongi kembali.
"Yoongi, apakah kau sibuk?" sapanya dengan nada ragu. Yoongi hanya diam sambil menuntun Hana masuk ke kamarnya, lalu mengunci pintu dari dalam.
"Ada apa?"
"Yoongi, kau marah padaku?"
Yoongi pun sejenak terdiam, ia menundukkan kepalanya sesaat lalu menarik napas panjang untuk melegakan sesak dadanya. "Untuk apa aku marah? Aku tidak punya hak untuk marah padamu," balasnya dengan nada bergetar.
"Yoongi, aku—aku mencintainya, aku benar-benar tidak mengerti dengan diriku sendiri, aku benar-benar menyesal di waktu bersamaan," ujarnya sambil menitikan air mata deras di pipinya.
"Aku tidak bisa mengatakan apapun sekarang, intinya aku sedang dalam level marah dan kecewa yang tak bisa kuungkapkan," ujar Yoongi sambil memejamkan matanya. Ia pun menarik tangan Hana menariknya lalu memeluknya dengan sangat erat. Tangis Hana seketika pecah, menyesali semua yang telah ia lakukan.
.
.
.
*****
Hari-hari terus berlalu.
Yoongi masih sama seperti kemarin, masih mengabaikan keberadaan Hana. Sementara itu, sikap ibu Yoongi pun mendadak berubah baru-baru ini, ia mendadak acuh dengan Hana dan sering menangis tiba-tiba.
Hana semakin diliputi rasa bersalah dan merasa tidak nyaman akan sikap Yoongi berserta ibunya.
"Berikan gaun yang kuberikan padamu kemarin!" ujar ibu Yoongi dengan nada acuh.
"Aku akan mengambilnya sebentar," jawab Hana dengan nada gugup. Lantaran tidak hati-hati kepanikannya itu pun membuatnya tak sengaja menyenggol guci berharga di rumah itu hingga pecah.
Braaaaaak*
"Bisa-bisanya kau!" bentak ibu Yoongi yang membuat Hana ketakutan.
"Ma-maaf,"
"Kau ini benar-benar tidak berguna! Sudah buta, menyusahkan!"
"Sekali lagi aku minta maaf," ujarnya dengan tangis yang semakin deras.
"Pergi dari rumahku! Kau hanya jadi beban di rumah ini! Kau—kau apakan Yoongiku sampai ia bertekuk lutut padamu, menantimu seorang wanita yang jauh dari kata sempurna, kurang apa putraku hingga kau buat dia begitu?" keluh ibu Yoongi yang malah ikut menangis tersedu-sedu.
Tak mengerti dengan semua keanehan itu, Hana hanya bisa diam sambil meremas bajunya menunjukkan rasa bingung dan takutnya.
"Pergi! Aku tidak mau Yoongi melakukan hal bodoh! Pergi dari rumahku! Aku tidak mau!" sentaknya.
Hana mengangguk dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Ia pun mulai berjalan pelan untuk meninggalkan tempat itu, tapi niatnya tertahan tatkala ia merasakan tangan seseoran menghadang langkahnya. "Tetap disini! Kau tidak boleh kemana-mana," lirih suara Yoongi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Your Eyes Tell - [Ongoing]
FanfictionPreview ________________________________ "Dia adalah gadis yang memiliki cahaya indah dimatanya. Seorang gadis yang memiliki cerita dibalik sorot matanya yang kosong. Suatu hari, ia dipertemukan dengan sosok pria dari masa lalunya. Cinta tumbuh begi...
![Your Eyes Tell - [Ongoing]](https://img.wattpad.com/cover/233292018-64-k94910.jpg)