Chapter 10

2.2K 296 30
                                        

◻️◻️◻️ Happy Reading◻️◻️◻️

.

.

.

****

Pria itu seketika membulatkan matanya sempurna dan mulai menatap wajah Hana dari jarak sangat dekat. Namun, Hana ketika itu malah menoleh ke lain arah yang membuat pria itu akhirnya mulai mengerti.

"Aaaah, rupanya wanita tadi mengerjaimu," gumam pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ma-maksudnya?"

"Ah sudahlah, dimana rumahmu biar kuantar pulang," tawar pria itu.

"Aku tinggal di jalan JongShan, tuan," jawab Hana.

"Tinggal di jalan JongShan kenapa kau bisa kesini?" kesal pria itu.

"Memangnya ini dimana?"

"Sudahlah, ini terlalu larut dan tidak baik untuk seorang wanita sendirian di tempat sepi," ujar pria itu meraih tangan Hana. Namun, Hana tampak ketakutan dan mulai menahan tanganya.

"Anda siapa? Maaf kita tidak saling kenal!" tolak Hana.

Pria itu yang awalnya telah frustasi mulai melepaskan genggaman tangannya, akan tetapi di waktu bersamaan terlihat dua orang pria dari kejauhan sedang berjalan mengendap-endap mencoba masuk. Kedua pria misterius itu masih belum menyadari keberadaan Hana sekarang.

"Gawat!" gumamnya. Merasa ada yang tidak beres, tanpa pikir panjang dan tak memperdulikan apakah Hana setuju atau tidak, pria itu kembali menarik tangan Hana dan membawanya lari.

"Kita mau kemana?"

"Sudah diam! Jangan banyak tanya!"

Mereka pun kemudian berlari dan bersembunyi di sebuah gudang. Dalam keadaan panik, pria itu dibuat kesal dengan Yeontan yang terus menggong-nggong seolah tahu apa yang akan terjadi.

"Suruh anjing itu diam!" bentak pria itu. Hana pun menyetujuinya dengan mengusap Yeontan pelan untuk menenangkannya. Perlahan anjing pintar itu menurut dan mulai diam, tepat beberapa saat setelahnya dua orang pria itu tiba di tempat Hana sebelumnya duduk.

"Oppa ...."

Sebuah suara seorang wanita memecah keheningan malam. Suara itu langsung membuat pria itu terkejut bukan kepalang, dan ketika pria itu hendak keluar dari tempat persembunyian, dua orang tadi telah selesai menghabisi nyawanya.

Tampak kedua pria itu telah selesai menikam, dan menyeret mayat wanita tersebut ke rel kereta api. Dalam situasi genting demikian, pria itu hanya bisa menangis mengintip daei kejauhan, dan membiarkan orang-orang misterius itu melarikan diri.

"Tidak! Adikku!" keluhnya.

Pria itu menangis tersedu-sedu akibat ketidak berdayaannya.

"Tuan, kau tidak apa-apa?" tanya Hana yang mulai ikut panik. Pria itu pun menatap Hana dan mulai memahami maksud mengapa wanita tadi membiarkan Hana sendirian di ruang tunggu, meski ia bersedih karena kehilangan adik kandungnya, tapi pria itu telah berjasa menyelamatkan nyawa Hana.

.

.

.

****

Singkat cerita, Hana dibawa pria itu pulang setelah menghubungi polisi untuk mengevakuasi mayat sang adik. Hana di biarkan berisitirahat tanpa tahu apa yang terjadi semalam.

"Kim Sunny, usia 17 tahun, meninggal karena 11 tikaman benda tajam, pukul 23:19 malam."

"Tuan, tolong temukan pembunuhnya dan beri hukuman yang setimpal."

Your Eyes Tell - [Ongoing]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang