Chatper 23

525 34 11
                                        

Setelah sekian lama akhirnya saya memberanikan diri untuk melanjutkan cerita ini lagi, saya akan mengulang membaca dari awal karena jujur sudah mulai lupa dengan alur cerita ini, semoga kalian tidak kecewa dan selamat membaca.

.

.

.

****

Malam harinya Hana Yoongi terlihat mendampingi Hana sambil menyuapi soup ayam hangat dengan telaten. Pria itu tidak banyak bicara semenjak datang 30 menit yang lalu.

"Yoongi, ada yang ingin aku bicarakan padamu,"

"Aku juga, ada yang ingin aku bicarakan padamu," ujar Yoongi dengan wajah datar. Ia meletakkan mangkuk soup diatas meja dan menarik napas panjang menatap perut Hana.

"Kemarin aku menemui dokter bedah mata, dan ada pendonor yang bersedia memberi matanya untukmu," ujar Yoongi sambil terus menatap wajah Hana. Wanita itu tampak teresenyum dengan sumringah. "Kau akan bisa melihat sebentar lagi," lanjut Yoongi.

"Syukurlah, ini adalah berita baik tapi ngomong-ngomong kenapa ini sangat mendadak? Bukankah mencari donor mata itu sangat sulit, ya?," balas Hana.

Yoongi hanya tersenyum tanpa membalasnya.
"Aku juga akan berpindah tugas ke Daegu besok, aku tidak bisa mendampingimu," ujar Yoongi sambil menggenggam tangan Hana.

"Apa? Aku tidak mau, bagaimana bisa kau tidak mendampingiku? Aku mau kau orang pertama yang kulihat, Yoongi," bantah Hana dengan wajah murung.

"Aku sudah mendampingimu dengan waktu yang sangat lama, Hana, sekarang waktunya kau menjalani hidupmu seperti seharusnya," lanjut Yoongi sambil membelai rambut Hana. Wanita itu tak kuasa menahan tangisnya, dan Yoongi pun segera memeluknya. "Aku akan tetap berada disisimu sampai kapanpun," lanjut Yoongi pelan.

Tak lama terdengar suara ketukan pintu, seorang dokter dengan rekannya masuk membawa berkas persetujuan.

"Permisi selamat malam, saya membawa berkas yang harus ditanda tangani untuk persetujuan operasi mata besok,"

Yoongi pun melirik Hana yang masih bengong. Hana yang hanya menggunakan cap jari jempol itu pun sudah menyetujui surat perjanjian pembedahan matanya.

Setelah menyelesaikan berkasnya para dokter pun pergi meninggalkan Hana dan Yoongi. Terlihat wanita cantik itu masih hanya diam tanpa kata. "Yoongi, berjanjilah untuk menemuiku setelah kembali dari Daegu," pungkas Hana sambil memberikan jari kelingkingnya. Melihat hal itu Yoongi hanya diam dengan mata berkaca-kaca.

Hana yang tak kunjung mendapat sambutan dari jari Yoongi pun meraba mencari tangan Yoongi lalu mengaitkan jarinya ke jari Yoongi dengan segera. "Kau sudah berjanji padaku," ujar Hana sambil tersenyum bahagia. Yoongi tak kuasa menahan air matanya sambil mengusap rambut panjang wanita yang begitu ia cintai. "Yoongi, aku akan memberitahukanmu berita baik setelah aku selesai operasi," lanjut Hana sambil mengusap perutnya.

Tak ada kata yang terucap setelah itu. Hana harus tidur lebih awal untuk mempersiapkan diri besok.
Sementara Yoongi masih betah terjaga disamping Hana sepanjang malam.

.

.

.

***
Sementara itu Taehyung menepati janjinya untuk menebus kesalahannya dengan menyerahkan diri ke polisi. Di dalam ruang penyidik, pria tampan itu mengakui segala perbuatan jahatnya tanpa terlewatkan sedikitpun.

Ia pun harus merasakan tangan yang diborgol dan digiring menuju ruang sel tahanan.

Dinginnya penjara pun kini ia rasakan. Ia terduduk lesu bersama 14 tahanan lainnya. Malam yang begitu sunyi, Taehyung masih terjaga sambil mengingat kembali kejadian pahit dimasa kecilnya. Masa-masa dimana ia kerap mendapat buli dari teman-teman sebayanya lantaran sang ibu yang dituduh sebagai pelac*r. Taehyung pun menitikan air matanya saat mengingat kembali masa dimana sang ibu yang selalu menyuapinya makan, dan membelai rambutnya. Seakan masa-masa sulit itu masih terus menghantui dirinya dan terus berada didalam kepalanya.

Dari luar sel terlihat Kim Seokjin yang baru datang dengan pakaian jas rapi. Taehyung hanya diam datar melihat Kim Seokjin yang juga diam datar.

"Kau kalah," lirih Seokjin.

Keduanya hanya bertatap muka dengan pandangan tajam setelahnya. Tampak ada sesuatu yang keduanya sembunyikan dan hanya mereka berdua yang tahu.

.

.

.

***
Esok paginya Taehyung yang tangannya masih diborgol pun digiring polisi menuju ruang operasi. Ia diberi waktu untuk menemani Hana sebagai perwakilan keluarga.

Sesampainya disana troli yang mengangkut Hana pun masih baru sampai di ruang bedah itu. Hana sudah siap dengan baju biru dan penutup kepala, ia terlihat sangat gugup karena sesekali menarik napas panjang. Sementara diluar tampak Taehyung yang sangat panik itu berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi. Tak lama, ada troli lain membawa seseorang yang didorong 2 perawat yang hendak masuk ke rungan.

"Tunggu!" panggil Taehyung.

Kedua matanya membulat melihat seorang pria yang terbaring disana.

"Apa ini? Ke-ke-kenapa?" Tampak terbata-bata perawatpun menghalangi Taehyung lebih dekat.

Kedua perawat yang sedang terburu-buru itu pun segera mendorong troli masuk ke ruang operasi Hana.

Taehyung terduduk lemas tak bisa berkata-kata.

Sementara di dalam para dokter sudah bersiap dengan peralatan bedah, tempat sudah disterilkan dan semua lampu sudah dihidupkan. Perlahan kesadaran Hana mulai menghilang. Sementara pria disebelahnya masih ingin terus menatap Hana sampai wanita itu memejamkan matanya.

"Tuan Yoongi, apakah anda sudah siap?" tanya seorang dokter yang sudah bersiap dengan sarung tangan sterilnya.

"Dokter, tolong berikan surat ini untuk Hana ketika ia sudah bangun," pungkas Yoongi sambil tersenyum.

"Anda masih punya waktu sepuluh menit untuk berubah pikiran, Tuan," ujar dokter bedah itu dengan mata berkaca-kaca.

"Apakah wajahku ini terlihat ragu?" tanya Yoongi dengan tatapan yang tak lepas dari Hana.

Semua perawat pembantu dokter tak kuasa menahan tangis saat Yoongi berusaha meraih tangan Hana lalu menggenggamnya.

"Aku mencintaimu, Hana," kata terakhir sebelum ia tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius.

Operasi pemindahan mata itu pun dimulai, dengan Yoongi sebagai pendonornya.

Di luar ruang operasi nyonya Min yang baru datang langsung menangis tersedu-sedu sambil bersujud di depan ruangan.

"Yoongi ...."

"Anakku sayang,"

"Urungkan niatmu, Nak, ibu mohon,"

Yoongi sayang, ibu sudah tua siapa yang akan menemani ibumu ini?"

"Yoongi ...."

Nyonya Min terlihat sangat terpukul sambil menggenggam surat dari Yoongi yang barusan ia baca. Sungguh hatinya yang sangat sakit tak mampu terlukiskan.

Serta Taehyung yang masih diliuti rasa bingung tanpa bisa berkata-kata.

Bersambung .....

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 04, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Your Eyes Tell - [Ongoing]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang