Chapter 22

1.8K 180 60
                                        

◽️◽️◽️Happy Reading◽️◽️◽️

.

.

.

****
Akhirnya Jimin selesai menumpahkan hasratnya kepada Hyeri. Wanita itu dengan napsu yang tinggi membawa dua bilah pisau dikedua tangannya berharap bisa membunuh Hana dengan tangannya sendiri.

"Aku punya dua pisau, ada gergaji, gunting, dan juga pistol, kita mau pakai yang mana?" tanya Hyeri sambil membawa semua barang-barang itu dihadapan Jimin yang sedang sibuk menatap wajah Hana yang cantik.

"Tinggalkan kami berdua di ruangan ini," perintah Jimin sambil membelai lembut pipi Hana dan mengusap-usap bibir tipisnya.

"Kau ingin menyetubuhinya juga? Kita sudah tidak ada waktu! Semakin kau tunda, maka peluangnya untuk selamat akan semakin besar," ujar Hyeri yang sudah mulai kesal dengan sikap Jimin yang terlalu mengulur-ngulur waktunya. "Kalau kau tidak mau memulanya karena dia cantik, maka biar aku saja!" tegas Hyeri.

Ia pun megambil pisau dan menarik kelapa Hana, lalu memposisikan gergaji itu tepat di leher. Melihat sikap Hyeri yang terbilang sangat napsu untuk membunuh, membuat Jimin marah. Ia pun menepis tangan Hyeri hingga membuat sedikit luka di leher Hyeri. "Bodoh! Kau pikir kau siapa mau bertindak sendiri?" tegur Jimin.

"Aku tidak bisa menunggu lebih lama!"

"Pergi kau dari ruangan ini sekarang!" bentak Jimin.

"Jim—,"

Hyeri yang tak berdaya akan sikap dominan Jimin itu pun tak punya pilihan lain. Ia berjalan mundur dengan perasaan kesal yang mengganjal. Sebelum menutup pintu, ia melihat Jimin yang langsung merebahkan tubuh Hana ke lantai, melepas kedua ikatan ditangan dan kakinya, lalu mencumbuinya. Hal itu membuat Hyeri semakin kesal, tetapi ia dipanggil lagi oleh Jimin dengan ekpresi wajah yang tiba-tiba berubah.

"Hyeri,"

"Ada apa?"

"Tolong pegang kamera dan bantu aku merekamnya," lanjut Jimin. Hal itu membuat Hyeri semakin geram, ia pun menepis kamera yang dipegang Jimin hingga terjatuh ke lantai.

"Kau pikir aku memanggilmu kesini hanya untuk melampiaskan hasratmu bejatmu itu? Tidak! Aku memanggilmu untuk membangkitkan mentalku membunuh Hana!" pekik Hyeri dengan nada marah.

"Kurang ajar! Jalang murahan!"

Plaaaaak*

Tamparan keras mendarat dipipinya, bahkan Jimin dengan tega menginjak kepala Hyeri yang seketika itu terjatuh ke lantai.

"Apakah jiwa sadis dalam dirimu kini sudah memudar? Hanya karena dia cantik kau jadi tidak tega? Apakah kau jatuh cinta pada bekasan Taehyung?" cecar Hyeri dengan nada mengejek.

Jimin pun tersenyum mendengarnya. Ia megangkat kakinya lalu mendekati wajah Hyeri dilantai yang berlumuran darah. "Kau adalah psychopath sebenarnya," lirih Jimin sambil mengusap darah di pipi Hyeri.

Ia pun kemudian melihat Jimin masuk lagi ke ruangan, setelah membuatnya terluka. Dengan serparuh wajah yang berdarah, Hyeri pun mengambil pisau di tangannya lalu menggenggamnya erat. "Jika dia tidak mau memulai, biar aku saja," ujar Hyeri sambil perlahan bangkit. Seperti rasa sakitnya sirna begitu saja, Hyeri kemudian berdiri sambil tersenyum menatap pintu ruangan.

.

.

.

****
Sementara di luar sana, Taehyung berhasil mengantarkan Yoongi pergi bersama di tempat yang tepat. Ini adalah tempat terakhir yang mereka kunjungi.

Your Eyes Tell - [Ongoing]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang