Chapter 7

2.7K 336 18
                                        

◻️◻️◻️Happy Reading◻️◻️◻️

.

.

.

Halo readers,
Cerita ini jarang update maaf yah, dikarenakan sibuk mentingin cerita Devil Husband yang sudah mau tamat. Semoga masih ada yang suka.

.

Pintu telah tertutup, Hana membalikkan tubuhnya dan menunduk sendu.

"Apakah kau juga menyukainya?" tanya Taehyung sembari melangkah mendekati Hana.

"Tae?!" sapa Hana sembari tersenyum matanya berkaca-kaca dan berjalan tak tentu arah mencari keberadaan Taehyung.

Sementara Taehyung hanya menarik napas panjang menatap tajam, perlahan ia berjalan menyenggol pundak Hana dan pergi membuka pintu dan keluar meninggalkan rumah Hana. Saat ini pikiran Hana kosong, ia terdiam tanpa kata dengan senyum tipis penuh luka. Ia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, dan ia tidak tahu mengapa ia begitu menyukai Taehyung yang hari ini bahkan bertindak begitu berlehihan padanya.

Hari-hari dilalui Hana. Terasa hampa, dari sejak hari itu, ia tidak lagi bertemu Taehyung, dan ia sendirian. Entahlah, mungkin Taehyung sengaja, walau beberapa kali sempat berpapasan dengan Hana di jalan, ia memilih terdiam dan mengabaikan.

29 Desember, 2018

Hari ini adalah hari peringatan kematian seluruh anggota keluarganya. Kini Hana telah berdiri di depan makan yang berjejer tempat abu keluarganya dijejerkan. Sebuah karangan bunga ditangannya, bermacam jenis, tetapi air matanya tak kunjung berhenti.

"Apakah kalian baik-baik saja di surga? Apakah kalian senang bersama dan meninggalkanku sendirian?" ucap Hana pelan sembari memegangi karangan bunga di tangannya.

"Sudah sebelas tahun lamanya, kini usiaku sudah dua puluh enam tahun dan aku masih hidup dalam kegelapan. Aku benci menjadi dewasa, dimana aku harus mengingat setiap jengkal rasa sakit itu, dan tetap sendirian ...," lirihnya terisak sedih.

"Eoma ...,"

"Appa ...,"

"Kakakku, Jung Hoseok,"

"Nenek,"

"Paman,"

"Bibi,"

"Jung Yunhe,"

"Apakah kalian ingat kalau hari ini aku berulang tahun? Tepat dihari dimana kalian juga meninggalkan aku sendirian?" lirih Hana. Ia pun tak kuasa menangis terisak dan jatuh bersimpuh di lantai. Setiap tahun ia lalui dengan duka mendalam, karena tepat dihari ia berulang tahun, dihari itu pula hari peringatan kematian seluruh anggota keluarganya dengan tragis.

Flash back.
________________________________
11 tahun lalu.

"Senichuka hamidha ... Senichuka hamidha ... Senichuka Jung Hana, Senichuka hamidha ... Senichukae,"

Suara tepuk tangan meriah menyambut seorang gadis remaja berusia lima belas tahun dengan gaum merah muda yang baru saja keluar dengan senyum simpul di wajahnya.

"Selamat ulang tahun, Hana sayang," semua orang bersuka cita memberi pelukan hangat dan ucapan selamat. Tergambar betapa bahagianya Hana hari itu, ditambah dengan sambutan kado dari orang-orang terkasih.

Keluarga itu begitu bahagia merayakan kegembiraan dengan pesta musik kecil dan saling berdansa, sampai semuanya berubah saat handphone ayah Hana berdering. Ia begitu panik dan segera mencari ruangan sepi untuk menerima panggilan itu.

Tak lama, hal aneh pun tampak pada ibu Hana yang ikut pergi menyusul sang ayah dengan raut sedih. Di saat semua orang bergembira, Hana dan sang kakak Jung Hosoek sedang berdansa, perasaan itu mulai terkecoh. Hana dengan sengaja menghentikan dansa mereka dan pergi menyusul ayah dan ibunya untuk tahu apa yang sedang terjadi saat itu.

Your Eyes Tell - [Ongoing]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang