Chapter 15

1.3K 205 20
                                        

◻️◻️◻️ Happy Reading ◻️◻️◻️

.

.

.

****

Di Jepang. Taehyung akhirnya mendapat pesawat untuk bisa kembali ke Korea. Ia begitu antusias dan berpamitan kepada teman-temannya, tapi ia tidak melihat Jimin disana.

"Taehyung, berhati-hatilah," ujar Jungkook sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya.

"Bicaramu seperti aku akan dalam masalah besar," ucap Taehyung membalas dengan senyuman remah.

"Aku akan berhenti dari pekerjaan ini di tahun depan, kuharap kau juga bisa mengikuti jejakku,"

"Kenapa begitu? Apakah sekarang Jeon Jungkook sudah menyerah dengan permainan uji nyali?" tanya Taehyung yang meremehkan niatan sahabatnya.

"Karena, aku akan menyakiti perasaan orang-orang disekitarku, orang-orang yang menyayangiku pasti terluka jika terjadi sesuatu padaku," ungkap Jungkook. Pernyataan itu seketika membuat Taehyung terdiam membayangkan wajah cantik Jung Hana. "Aku akan memgakhiri ini semua dan mencari pasangan hidupku, jadi mungkin akan banyak anak ditahun-tahun berikutnya jika kita bertemu lagi, kawan." Mendengar itu, Taehyung kembali terdiam dan mencoba untuk mencerna ucapan Jungkook dengan baik.

Ia pun memijakkkan kakinya ke tangga pesawat. Ini adalah hari terakhirnya disana, melalui pesawat milik Jimin yang disediakan khusus untuk mengantar kepulangannya.

.

.

.

***

Sementara keadaan semakin mencekam saat kini Hana sedang melawan seorang pria yang hendak memperkosanya. Hana terus meronta, hingga tak jarang ujung gunting itu menancap di lengannya hingga berdarah-darah.

Hana tak berdaya ketika pria asing itu sudah mulai menarik paksa pakaiannya. Kini hanya mengenakan bra hitam, dan ia tetap mencoba menutupi dari pandangan pria asing itu. "Tidak ada tantangan sama sekali, ini tidak seru," ucap pria asing itu sambil membuang kain baju Hana yang sudah rusak. "Ternyata mengambil harga diri wanita buta itu jauh lebih gampang dari yang kubayangkan," lanjut pria asing itu. Seketika Hana yang tadinya menangis langsung terdiam.

Saat pria asing itu mulai merangkak ke atad tubuhnya dan menciumi lehernya, Hana yang kepalang marah itu pun secara ajaib menemukan letak gunting itu yang secara lengah diletakkan begitu saja oleh pria asing itu di dekat Hana.

Saat sibuk mencumbui tubuh indah Hana, saat itu juga digunakan Hana untuk menancapkan gunting itu ke perut sisi bagian kanan tubuh pria asing itu.

"Aaaaagh!" keluhnya menjerit kesakitan.

Perlawanan Hana barusan semakin membuat pria itu naik pitam. Hana yang mendapat peluang itu kembali mencoba mencari jalan keluar dan pergi kesegala penjuru meski itu hanya sia-sia semata. Pria asing itu kembali berdiri sambil memegangi perutnya yang berlumuran darah.

"Kau mau main-main denganku? Aku suka perlawananmu," sambut pria itu dengan tawa bahagia melihat luka yang merobek kulit perutnya.

Tak lama seorang penjaga yang merupakan anak buat dari pria asing itu datang. "Tuan Park, tempat kita sudah dikepung," ucap penjaga tersebut dengan nada panik.

Mendengarnya, pria tampan itu tetap gentar bahkan tak mencoba lari dari keadaan. Hasratnya semakin tinggi untuk membunuh Hana yang telah membuatnya dalam keadaan seperti itu.

Hana terlihat bingung dengan darah yang berlumuran di sekujur tubuhnya dan luka yang merobek beberapa kulitnya, ia terus mencoba mencari jalan keluar. Jalan buntu terus ditemuinya, hingga pria bermana Park Jimin itu berhasil menarik rambutnya dan membawanya kembali ke atas ranjang.

Your Eyes Tell - [Ongoing]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang