12. (21+)

181 16 8
                                        

Meskipun hari minggu  karena jadwal concerto  sudah  semakin dekat maka tak ada libur bagi ketiga peserta terpilih  karena waktu nya hanya berjarak tiga hari antara busan dan Osaka.   sambil menunggu Miss Rose datang,  Winwin yang merasa bosan pun  mendatangi dapur tempat dimana Taeyong mengekspresikan semua karya nya.  Dia selalu terlihat  sibuk dengan buku resep dan adonan,  tak lupa alunan lagu klasik yang menemani  nya sekaligus menaikan mood nya. 

“Kau sedang membuat apa?”

Winwin mendekati sang koki yang masih terfokus pada resepnya. 

“Lasagna” jawabnya singkat.  Winwin mengangguk paham. Sambil melihat dekorasi  dapur yang megah ini. Winwin jadi teringat saat dia bekerja di cafe sebagai seorang  barista. 

“Aku boleh  pinjam alat pembuat  kopi?” sejenak Taeyong menoleh kearah nya.  Alisnya naik turun curiga.  Dia seperti memgklaim jika semua dapur dan isinya adalah miliknya maka selain orang yang tak ada bakat  dalam masak tak boleh menyentuh nya. 

“Kau mau apa biar aku buatkan.”

“Aku agak sensitif jika dengan  coffe,  lagipula  aku pernah bekerja sebagai barista  sebelum sekolah  disini” ujar  winwin apa adanya.  Kini alis Taeyong mengerut.  

“Barista?” ulang nya.  Winwin mengangguk kemudian mengambil alat peracik kopi dan memasukan biji kopi yang ada.  Dia memilih moca java coffee sebagai  bahan utama. 

“Oh ya boleh aku mengetahui bagaimana  kisah mu?” Taeyong tiba-tiba merasa penasaran dengan latar belakang  Winwin meskipun  pada awalnya dia tidak perduli tapi semakin lama bersama, membuat rasa  penasaran itu makin membuncah. 

“Sebelum itu Aku juga ingin tahu bagaimana kehidupan mu” Winwin balik memantangi.  Kemudian ia memasukan beberapa sendok gula dan crimer secara bersamaan dan mulai mengocok coffee nya. 

“Ha,  aku ya!” sejenak perhatian  Taeyong teralihkan.  

“Aku seharusnya berterima  kasih pada Hyena karena memberiku kesempatan untuk mengembangkan bakat ku dalam kuliner. Jika saja menuruti kemauan ayah yang egois itu  , mungkin  Aku akan merasa depresi dan pada akhirnya bunuh diri” Winwin menaruh olahan coffee itu di gelas tinggi hingga atas nya penuh dengan busa.  Kemudian mendengarkan ocehan Taeyong dengan seksama.  Bahkan seorang keluarga yang harmonis saja , membuat Taeyong depresi dan putus asa karena keinginan kuat yang tak terealisasi.  Bagaimana  jika dia di posisi winwin?  Rasa minder dan putus asa selalu menyerang nya.  Terlebih- saat membuat seorang ratu telah jatuh padanya.  Winwin jadi mengingat kejadian semalam di rumah  jamur dimana Hyena benar2 membuka hati untuk nya.  Saat itu perasaan Winwin langsung bimbang.  Tapi, sampai saat ini – ia masih membutuhkan  nya.  Ya!  Sedikit picik jika menggunakan  kelemahan  wanita demi ambisi  nya.  

“Nah sekarang giliran kau!” sebagian pikiran winwin melayang , tahu2 Taeyong sudah selesai  bercerita. 

“Sebelum itu,  kau harus percaya diri dengan kemampuan  mu.  Menjadi chef dan musisi sekaligus pun tak masalah. Karena masakan buatan mu sangat enak. Hey!  Aku mendukung mu!” Winwin menepuk2 pundak nya.  

“Kau tak sedang berbasa basi kan?” Taeyong menatapnya curiga.  Winwin menggeleng  polos.  Kemudian  mengambil satu potong  lasagna yang sudah jadi.  Rupanya  saat bicara tadi,  tangan Taeyong tetap  bekerja dan tak mengurangi rasa fokus pada masakan nya. 

Melody in the dark | 21+ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang