jay dan heeseung menunggu jungwon dan haruto di stasiun subway z. dua bocah itu minta ditungguin biar bisa pulang bareng katanya.
jay hanya menunduk menatap sepatu yang ia pakai, sesekali mengambil ponsel di kantong dan memainkannya asal.
"nah, itu mereka."
jungwon dan haruto menghampiri dua pria yang lebih tua itu dengan kondisi ... baju agak dipenuhi salju.
"kak, sumpah ya, tadi kepala gue dilemparin bola salju sama haruto," lapor jungwon setelah keduanya berada di hadapan jay dan heeseung.
"bola salju putih ketemu kepala bola cokelat," ujar haruto sambil terkikik. jungwon menatap nyalang pria yang lebih tinggi itu, membuatnya bungkam dan dengan baik hati membersihkan serpihan-serpihan salju yang tersangkut di rambut jungwon. "maap."
"gimana tadi?" tanya heeseung sambil melepas kupluk di kepalanya, memakaikannya di kepala jungwon. jay melirik tajam heeseung di sampingnya.
"jungwon mengheningkan cipta banget tadi. dia doa buat korban lamaaa banget. kan kasian guenya, berdiri nungguin sambil kedinginan diguyur salju," gantian haruto yang melapor.
"gue kan punya simpati, gak kayak lo."
"udah, udah. yuk, pulang," heeseung berubah menjadi ayah yang melerai dua anaknya yang bertengkar.
"yuk, deh. dingin banget tadi gue didorong jungwon ke tumpukan salju. pantat gue jadi basah kan," tambah haruto.
"kak, subway lo ke arah satu lagi, ya?" tanya jungwon pada jay, mengabaikan haruto.
jay mengangguk, "iya. kalo gitu kita pisah di sini. gue duluan, ya."
"dadah abang ganteng!" haruto melambaikan tangan melepas kepergian jay.
pria blonde itu hanya membalas melambaikan tangan sejenak lalu berbalik dan menuju peron di seberang. stasiun dekat apartemennya berlawanan arah dengan stasiun tujuan tiga orang yang lain.
"kalo iya emang kenapa?"
butuh beberapa detik untuk jay bereaksi.
meski terkejut, ia susah payah menampilkan ekspresi yang sedikit lebih netral. ia tersenyum tidak percaya, "o-oh, seriusan?"
hatinya terasa berdetak lebih cepat.
heeseung tertawa pelan, "bercanda. dia emang manis, tapi ya, gitu deh. sebegitu tertutupnya hati dia. gue akui lo keren, jay. bisa-bisanya lo berhasil ngebuka hati dia waktu itu. sayang, sekarang udah dia tutup lagi."
rahang jay mengeras mengingat percakapan di restoran tadi.
separuh dirinya seperti sedang siaga, separuhnya lagi mempertanyakan kenapa pula dia harus merasa marah?
jungwon kan hanya teman.
suara subway yang berisik membuyarkan lamunan jay. cepat-cepat ia naik melalui salah satu pintunya.
---
nyc memang kota yang indah saat musim dingin tiba. dari awal desember saja kota sudah mulai dipersiapkan untuk menyambut natal.
toko-toko yang berjejer semuanya menghias isinya dengan hiasan nuansa natal. taman-taman umum dipasangkan pohon natal dengan berbagai macam ukuran. ke mana pun kalian berjalan, lampu-lampu hias turut menyinari langkah dan membuat salju yang turun seakan terlihat bersinar.
pemandangan saat malam pun jauh lebih menakjubkan.
dan malam ini, tiga hari sebelum hari natal, jungwon hanya bisa menggumam sebal di balik jendela apartemennya.
KAMU SEDANG MEMBACA
sakura || jaywon
Fiksi Penggemarbook kedua dari bersemi yang jungwon, 20 tahun park jongseong, 21 tahun --- bxb semi baku bits of english here and there 16+ slight heewon --- start: 15/06/21 end: 10/10/21
