[Last] Dua Puluh

6.2K 668 205
                                        

Velia

Semenjak Reiga berinvestasi, dalam jangka waktu lima bulan Ragam Perspektif menunjukkan kemajuan yang tidak disangka-sangka. Kini, Ragam Perspektif melebarkan sayap menjadi portal berita online yang sudah terverifikasi oleh Dewan Pers. Ragam Perspektif bukan hanya sekedar nama dari channel YouTube saja, melainkan menjadi sebuah perusahaan media resmi yang telah memiliki badan hukum berbentuk CV.

Rasanya kayak mimpi, rumah yang tadinya digunakan sebagai tempat tinggal itu sekarang sepenuhnya dipakai untuk kantor saja. Walau masih merintis, pegawai yang bekerja di sini sudah menyentuh angka belasan orang. Kalau dulu lo akan mendapati empat manusia teler lesehan di lantai ruang tengah untuk bekerja begitu masuk ke rumah, maka sekarang pemandangan itu sudah tidak ada lagi dan yang akan lo lihat adalah sibuknya suasana khas sebuah perkantoran.

"Lo skip kelas, ya?"

Gue baru aja menyembulkan kepala di pintu ruangan direktur, dan tuduhan itu sudah gue dapatkan bersamaan tatapan tajam yang tak memiliki keramahan.

"Tipsen gue, berarti secara teknis gue gak skip kelas, The, nama gue hadir."

Iya, yang jadi direktur di Ragam Perspektif adalah Theo. Tadinya mau mendapuk Nino, tapi cowok itu menolak dengan tegas karena dia merasa dirinya belum sekompeten itu buat duduk di posisi direktur.

"Kalo udah dijalanin males kan? Gue juga gitu, jadi paham aja kenapa Nino betah sebelas semester dan baru wisuda bulan depan." Kayaknya dia lagi santai, soalnya yang ada di meja kerjanya bukan kertas atau laptop melainkan dua buah rubik serta satu tingkat uno.

Gue mendengus, "Usia kita bukan lagi usia yang cocok buat belajar dengan gaya monoton deh kayaknya. Mana kalo sambil kerja dan ngurus rumah kayak gue, konsentrasinya udah gak penuh aja. Ari ke mana sih? Dia ngajak rekaman narasi tapi gue cari gak ketemu."

"Ari gue suruh beli hardisk bentar, punya tim kreatif udah full, jadi gue suruh beli yang kapasitas penyimpanannya gede sekalian. Badan lo udah enakan?"

Beberapa hari ini, gue emang ngeluh gak enak badan. Masalah perhatian, Theo masih juara tapi sekarang gue udah gak menemukan tujuan lain di sana. Sejak seseorang bekerja di tim PR, caranya melihat gue sudah tidak sama seperti dulu lagi karena sepertinya seseorang itu telah berhasil mengalihkan seluruh dunianya.

Satu per satu, semua orang di sekitar gue berhasil bertemu dengan bahagianya. Nino macarin mahasiswa S2 di kampusnya yang dulu jadi tutor skripsi tak berujung miliknya. Ari ... dia lagi deket sama talent sebuah radio lokal dan katanya udah sinyal-sinyal akan jadian. Pun dengan Theo, gue seneng karena dia nggak stuck buat suka ke istri orang walau prosesnya lumayan panjang.

"Gak tau nih, gue sering mual sama kaki gue pegel mulu. Badan gue juga sering demam, harusnya hari ini ke rumah sakit dianter Reiga tapi dia ngedadak dapet telepon buat jadi tim rescue tambahan." Dua hari lalu, wilayah Cililin diterpa puting beliung yang mengakibatkan satu desa nyaris rata dengan tanah. Dari kabar yang gue dengar, jumlah korbannya ratusan dan sampai hari ini evakuasi terus dilakukan. Di saat-saat seperti ini, keberadaan Reiga sebagai petugas rescue jelas sangat dibutuhkan.

"Hamil gak sih, Vel?" Tebakannya sama sekali gak bikin gue kaget. "Lo telat gak? Udah coba cek pake tespek atau belum?"

"Dibilang telat ... gak tau gue, bulan lalu haid walau nggak lancar, cuma dua hari soalnya. Tespek? Belom kepikiran sih walau udah ada prasangka."

"Lo nikah udah lama juga, who knows kan? Coba cek aja, benih Reiga numbuh kali."

"Dikata dia nanem kacang di kapas kali pake ada bahasa numbuh segala," salah satu stick uno-nya gue tarik yang membuat susunan itu rubuh seketika. "Ups, gue kira gak akan runtuh, haha."

113Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang