Di mansion utama, Arthur sedang berbincang dengan Mom Tamara.
"Gimana meetingnya?"
"Kacau Mom!"
"Hah? Kacau gimana maksudnya?"
Arthur pun menceritakan semua yang terjadi selama di Swiss tanpa ada sensor. Menceritakan apa yang terjadi dengan Kay dan kelanjutan bisnisnya.
"Jadi Kay anak temen Mom itu sekarang jadi aspri kamu sekaligus pacar kamu gitu?"
"Hheemm"
"Kayana Abraham anak Sarah kan?"
"Iya!"
"Terus gimana keadaan Kay sekarang? Apa dia baik-baik aja?"
"Baik. Sangat baik" pikiran Arthur kembali pada kejadian di Airport tadi. Bagaimana dia melihat Marlon dan Kay berpelukan membuatnya sesak.
"Sebenernya ada yang Mom mau omongin sama kamu sayang"
"Tentang apa Mom?"
"Kayana"
"Aaahh kapan-kapan aja deh Mom. Arthur lagi males!"
"Tapiii..!"
"Mom please. Biarin Arthur istirahat relaks sebentar!"
"Okay sayang"
Biasanya hanya butuh beberapa jam untuk Arthur istrahat selepas melakukan perjalanan dari luar negeri namun kali ini Arthur membutuhkan waktu sedikit lebih lama sampai harus mengambil cuti selama 2 hari. Entah apa yang dipikirkan oleh lelaki itu.
Malam itu, entah berapa jam Arthur menghabiskan waktunya berendam air hangat didalam kamarnya. Ketukan kamar Arthur tidak dipedulikan. Puluhan missed call dari ponselnya pun diabaikan. Tidak seperti Arthur yang biasanya.
Selepas berendam dan memakai handuk sebatas pinggang, Arthur mengabil ponsel yang berada diatas nakas. Terlihat ada 23 panggilan tak terjawab dari Mom Tamara.
Arthur pun segera menelpon Mom Tamara.
"Mom what's wrong?"
Dengan isak tangis, Mom Tamara berusaha menjawab pertanyaan Arthur dengan terbata-bata.
"Mom calm down. Tell me what happen?"
"Mom sekarang lagi di rumah sakit!"
"What? Ada apa Mom? Mom kenapa?"
"Bukan Mom sayang, tapi Sarah!"
"Bunda Sarah? Ada apa sama Bunda Sarah?"
"Sarah lagi di icu sekarang"
"Mom dimana Kay?"
"Kay sedang berbicara dengan dokter. Sayang temani Kay, dia pasti sangat sedih"
"Aku akan segera kesana Mom. Please jaga Kay"
Bip.
Arthur menutup telponnya dan segera melajukan mobil kesayanganya menuju rumah sakit. Hanya membutuhkan waktu 15 menit Arthur sampai di rumah sakit. Bagaimana tidak, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Arthur melewati beberapa lorong rumah sakit dengan berlari. Berharap bertemu Kay dengan segera. Namun harapan tak sesuai dengan realitanya. Arthur melihat Kay dan Marlon sedang berpelukan. Ya, lagi-lagi Arthur harus melihat pemandangan yang menyesakkan dada.
Disamping Kay, Mom Tamara menangis sambil mengusap air matanya. Arthur berusaha mengatur nafasnya yang terengah karena berlari. Namun kini Arthur berjalan mendekati Mom Tamara.
"Mom.."
"Sayang akhirnya kamu datang" masih dengan nada terbata karena menangis.
"Kay. Are you okay?"
Kay yang menyadari kehadiran Arthur kemudian melepaskan pelukan Marlon dan menatap mata Arthur. Arthur melihat keadaan Kay yang sedang tidak baik-baik saja. Arthur dapat melihat itu dari sorot matanya.
Kay hanya menundukkan kepalanya sambil menangis. Baru pertama Arthur melihat wanita yang tidak takut dengan manusia manapun kini menangis tersedu.
Sambil memegang tangan Kay, Arthur berkata "aku bisa temani kamu disini Kay"
"Tidak perlu. Ada aku yang jagain Kay. Kamu bisa antar Mom Tamara pulang"
Mendengar jawaban itu, Arthur rasanya ingin meninju wajah Marlon saat itu juga namun tidak mungkin karena situasi yang tidak baik.
Kay hanya diam tapi justru Marlon yang menjawab pertanyaan itu.
"Oke Kay, kalau kamu butuh sesuatu apapun itu bisa telpon aku. Aku pergi dulu"
Arthur pun meninggalkan Kay bersama Marlon dirumah sakit dan kembali ke Mansion bersama Mom Tamara. Sepanjang jalan, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut keduanya kecuali suata tangisan Mom Tamara yang terdengar.
Mobil memasuki halaman mansion. Arthur dan Mom Tamara memasuki kamar masing-masing tanpa kata. Didalam kamarnya, Arthur terus memikirkan Kay. Bagaimana keadaanya sekarang? Banyak sekali pertanyaan yang timbul dibenak Arthur namun hanya disimpan dalam pikirannya. Ingin sekali Arthur memeluk Kay saat ini, menggenggam tanganya erat setelah berbagai kejadian yang menimpanya di Swiss.
Namun keinginannya kali ini harus diredam karena Marlon yang lebih dulu datang. Lagi-lagi dia terlambat. Arthur berkali-kali mengangkat ponselnya untuk menekan tombol call yang ada dilayar dengan nama Kayana tapi niat itu kembali diurungkan mengingat ada Marlon yang bersama Kay.
Sambil memandangi pemandangan taman yang diterangi lampu taman indah, Arthur meneguk wine hingga larut malam. Hal itu dilakukan semata-mata agar dia bisa tertidur tapi nyatanya banyak wine yang telah dia teguk tidak membuatnya mengantuk.
Menjelang subuh Arthur membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Kembali dia melihat layar ponsel dengan tulisan Kayana hingga dia tertidur.
Arthur terbangun mendengar suara ponsel berdering. Tanpa melihat layar, Arthur mengangkat ponselnya dan meletakkanya ditelinga. Dengan suara berat khas bangun tidur "heeemm"
"Arthur" dengan suara pelan dan lirih hingga nyaris tak terdengar Kay berbicara.
"Kay? Are you okay? Apa kamu butuh sesuatu?"
"I need you" entah keberanian dari mana Kay mengatakan bahwa dia membutuhkan Arthur. Dia mengatakan sambil sedikit terisak.
"Wait Kay, tunggu aku. Aku segera kesana!"
===============
Jangan lupa vote dan komen ya.. Biar makin semangat update nya.. Terimakasih..
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. CEO 21+
RomanceCarita tentang CEO muda yang gemar bermain cinta dengan wanita seksi kelas atas. Namun cintanya justru jatuh pada wanita sederhana yang tomboy. Cover dan semua gambar pada cerita by Pinterest
