Alana merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Setelah kejadian di mall tadi, Alana merasa perasaannya campur aduk. Ia merasa marah dan cemburu pada permpuan tadi, Alana akui dia memang memiliki perasaan kepada Alfathar, tapi siapa perempuan tadi? Apakah benar bahwa dia pacar dari Alfathar?
Lama terdiam dengan lamunannya lalu ia teringat sesuatu, ia memegang sudut bibir nya yang berdarah, ia melihat dirinya di cermin dan pipi nya terlihat masih merah akibat tamparan keras yang di lakukan oleh perempuan itu.
Alana segera menuju wastafel dan mengusap wajah nya dan setelah itu ia meraih kotak P3K dan langsung mengobati luka nya. Ia tidak mau Bagas sampai mengetahuinya apalagi kondisi Alana saat ini yang terlihat tidak baik-baik saja.
Drtt drtt..
Alfathar is calling
Melihat nama Alfathar di layar ponsel nya, Alana menghela nafas dan memilih untuk tidak mengangkat telpon dari cowok itu.
Alfathar Ayden:
ALANAA?
Alana angkat dong telp nya, kangen nihh
Alana, gue udah sembuh
Karena lo obatin gue kemarin
Na? Bales chat gue:(
Alana lo dimana?
Tok tok tok
Atensi Alana teralihkan ketika ia mendengar suara ketukan pintu, sudah ia duga pasti ayah nya sudah pulang.
Bagas mengetuk pintu kamar Alana. "Kiya?" tanya Bagas.
Alana terlihat panik saat ini, ia menelan air saliva nya susah payah, ia bingung apa yang harus ia katakan pada sang ayah. "I-iya yah Kiya ada di dalem," balasnya dengan perasaan gugup.
"Buka dulu dong sayang, ayah mau ngasih kamu sesuatu nih," ujar Bagas dari luar.
"E-emm bentar yah, Kiya lagi di kamar mandi," ujarnya agak berteriak.
"Oh yaudah kalo gitu ayah tunggu di bawah ya,"
"Iya yah,"
Setelah tidak mendengar suara ayahnya lagi, Alana semakin panik, pasti jika Bagas mengetahui ini ia akan marah, apalagi Alana adalah putri satu-satunya yang ia miliki saat ini.
"Kiya harus gimana?" gumam Alana.
Tidak ada cara lain, ia keluar kamar dengan menggunakan masker agar bisa menutupi wajahnya yang merah, dan sudut bibir nya yang terluka, ia berjalan menuruni tangga dengan perasaan tidak enak.
"Ayah," ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
Bagas yang sedang bermain ponsel itu lalu menoleh pada putrinya, ia mengerutkan halisnya 'bingung'. "Kiya kok pake masker?" tanya Bagas.
"Eee itu yah, Kiya lagi pilek," jawabnya.
"Masa sih? Perasaan kamu sehat-sehat aja tadi pas berangkat sekolah," tanya nya bingung.
"I-iya tadi pas pulang dari mall, Kiya beresin kamar, terus banyak banget buku yang gak kepake, jadi Kiya beresin sampe debu nya gak sengaja masuk ke idung, terus Kiya bersin-bersin jadi gini deh sekarang," ujar Alana berbohong.
"Oh gitu," jawab Bagas sambil menganggukkan kepalanya.
"Oh iya, tadi ayah mau kasih apa?" tanya Alana mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ah iya ayah lupa, nih," balas nya sembari memberikan sebuah kotak pada putrinya.
Alana menerimanya dan membuka isi dari kotak itu, matanya seketika berbinar dengan apa yang ia lihat. "Kamu suka?" tanya Bagas.
"SUKA BANGETT," pekik Alana girang.
"Ayah kok tau Kiya lagi pengen beli novel ini?" tanya Alana.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALFATHAR
Teen Fiction~ Jangan pernah tanyakan kepadaku mengapa aku bisa mencintaimu, karena aku mencintaimu karena kamu adalah kamu. ~ Kisah ini menceritakan tentang dua orang yang memiliki kekurangan yang saling bertolak belakang. Alfathar Ayden Pranadipa, Ketua geng...
