KECEWA

76 11 2
                                        

Alfathar tidak pulang ke rumah, sekarang ia akan menemui Alana untuk menjelaskan semuanya. Dengan masih menggunakan baju yang sama, ia tak peduli bagaimana keadaan nya sekarang, wajah yang lebam, badan yang penuh keringat, sungguh ia tak peduli. Yang ia pikirkan kali ini hanyalah Alana.

Saat tiba di depan rumah Alana, Alfathar dapat melihat Alana yang sedang duduk di kursi yang ada di halaman rumah nya sambil menangis.

Bagas saat ini sedang berada di luar kota, ia tidak tahu apa yang terjadi sekarang, dan Bagas sebelumnya sudah menitipkan Alana pada Alfathar.

"ALANAA," teriak seorang pria dengan pakaian putih abu-abu nya yang terlihat sangat berantakan dan wajah nya yang penuh lebam. "Na maafin gue, gue gatau soal itu," ujar Alfathar merasa bersalah.

Alana yang sedang menundukkan kepalanya pun lalu mendongak dan menatap orang yang ada di hadapannya. Ia lalu berdiri dan membalikan badannya.

"Pergi!" ujar Alana sambil menahan Isak tangisnya yang posisi nya sedang membelakangi Alfathar.

"Gue gak akan pergi Na sebelum lo mau maafin gue, plis Na maafin gue, gue bener-bener emosi, gue janji gaakan gitu lagi Na, plis maafin gue!" ujar Alfathar.

"Aku ga butuh janji-janji kamu Al, aku pengen kamu berubah. Aku gamau sama orang yang suka bully kayak kamu!" ujar Alana yang membuat Alfathar terdiam seketika.

"Aku trauma Al, aku trauma dengan itu, aku gatau kenapa bisa sebenci ini tapi yang jelas aku bener-bener benci!"

"Na g-gue bisa jelas-"

"Aku gabutuh penjelasan kamu Al," potong Alana. "Pergi! aku gamau liat kamu lagi, aku benci kamu Al aku benci hiks," ujar Alana sambil terisak.

"Gue ga peduli, gue bakal terus diem disini sampe lo mau dengerin penjelasan gue!" ujar Alfathar.

"Terserah!" ujar Alana dan langsung meninggalkan Alfathar di halaman rumah nya.

Alfathar mengacak rambut nya frustasi. "ARGHH...GUE BEGO, GUE BEGO!" ujarnya sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.

"KENAPA GUE GATAU SOAL ITU, KENAPA?!"

Wajahnya sudah merah dan matanya berkaca-kaca, tangan nya kini mengepal kuat. Dia benci berada di posisinya sekarang ini. Dimana dia harus melawan semua hal yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan.

"GUE EMANG BODOH, GAK BERGUNA, BRENGSEK. GUE UDAH BIKIN ALANA NANGIS, GUE UDAH BIKIN DIA KECEWA!" ujar nya dengan air mata yang membasahi pipinya.

"Hiks.. Na, maafin gue, gue mohon.." lirihnya sambil terisak.

Alana yang melihat Alfathar di jendela rumahnya hanya bisa menangis, ia merasa bersalah pada Alfathar tetapi ia sangat benci akan perilaku Alfathar. "Maafin aku Al, aku pengen kamu berubah, mungkin kita bakal kaya gini dulu sampe kamu bener-bener bisa ngerubah sikap kamu," ucapnya lirih.

Alfathar mengusap wajahnya kasar, sungguh ia benci dengan dirinya sendiri saat ini, di bawah langit yang sudah gelap ia masih menunggu Alana supaya menghampiri nya, dia ingin menceritakan semuanya, perihal penyakit mental yang ia alami, dan juga masalah sahabat nya di masa lalu.

Namun sepertinya semesta tidak mendukungnya kali ini, saat ini Alfathar hanya menatap ke arah depan dengan pandangan kosong. Pikiran nya sangat kacau, semua notifikasi di handphone nya sudah ia matikan, ia hanya butuh Alana. Hanya Alana.

Hawa dingin semakin menyelimuti nya, kini langit yang sudah gelap itu terlihat mendung, sebentar lagi hujan akan turun membasahi bumi. Tetapi Alfathar tetaplah Alfathar, ia tetap pada pendiriannya ia tak akan pergi sebelum bisa mengobrol dengan Alana.

ALFATHARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang