Part 17 : Vladimir Castle

392 31 3
                                        

Author ketika jadi bocil drama queen biar dibeliin es krim :v

Author ketika jadi bocil drama queen biar dibeliin es krim :v

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.
.
.

Happy Reading😘

"What the hell — kenapa kau memakai masker seperti itu? Dan kenapa ruangan ini berbau bawang putih?"

"Mencegahmu agar tidak mati konyol, mungkin?"

Christina yang baru saja terbangun dari tidurnya sontak memindai kearah sekitar, terdapat dua sosok pria dewasa lain juga yang memakai masker dan membawa sepiring bawang putih utuh.

Ia bahkan baru menyadari jika dirinya memakai kalung yang maniknya terbuat dari bawang putih.

"Are you kidding me?"

"Nope, hanya berjaga-jaga untuk mencegah hal yang tak diinginkan terjadi — aku tidak se-tega itu untuk menyerahkanmu kepada para vampir untuk dimakan."

"Tunggu— VAMPIR? KAU MEMBAWAKU KE RUMAHMU!"

Darren menutup mata sebentar, kemudian tangannya sedikit menggaruk lubang telinga, teriakan Christina berhasil membuatnya gendang telinganya pengang hampir pecah.

"Tenang saja, kau adalah Mate-ku, tidak ada yang berani menyakitimu disini."

"Oh, apa itu juga alasan kenapa ruangan ini dipenuhi oleh aroma bawang putih?"

"Tentu, kami tidak terlalu menyukai aromanya."

"Yah, melihat kalian memakai masker seperti ini, aku seperti pasien yang terkena virus menular atau apapun itu."

Darren mengulas senyum tipis dibalik masker, tangannya menggenggam erat jemari kurus Christina, "Maaf untuk hal itu, hanya Istana Vladimir yang terlintas dalam pikiranku— setidaknya kau selamat dari Werewolf Alpha yang berada dalam masa kawin."

"Apa aku harus percaya padamu?" tanya Christina menyelidik.

Darren mengecup dahinya lama, kedua kelopak matanya tertutup menghayati, hembusan napas lirih menyapu lembut surai brunette-nya, sensasi dingin dari bibir pria itu begitu menggelitik namun hatinya menghangat disaat yang sama.

Jemari besar Darren kemudian menangkup pipi Christina, mengecup bibir gadis itu sekilas lalu tertawa kecil setelahnya, "Bagaimana bisa aku menyakitimu, apabila aku sudah jatuh terlalu dalam padamu, Mate?"

"Aku benar-benar mencintaimu, Christina Almeida."

🍃🍃🍃

"ARRGGHH! CHRISTINA! CHRISTINA! CHRISTINA! GADIS SIALAN! KENAPA KAU MENGIKUTI SI TUA VAMPIR ITU HAH? Ah—sial penisku semakin terangsang."

Gala, serigala Luke dengan segala ke-frustasiannya. Ia menjambak rambutnya beberapa kali seraya berendam di dalam air dingin— tangan kirinya terus bekerja, berusaha memuaskan alat vitalnya, namun berakhir sia-sia karena jiwanya menginginkan seekor betina sebagai pelampiasan nafsunya.

'GALA SIALAN KAU MELUKAI MATE KITA!'

"Diamlah selagi aku menguncimu di dalam sana, kau tidak lihat 'milikku' tidak ingin tenang?

'BISAKAH KAU BERHENTI MENGATAKAN OMONG KOSONG MESUM MILIKMU?'

"AKU TERANGSANG SIALAN! AKU BUTUH GADIS ITU!—Penis bodoh! Kapan kau akan tenang hah? Kapan masa Rut ini berakhir?"

'Aku akan menggantikan peranmu apabila kau menyakiti Mate kita lagi, Gala.'

"Coba saja, walau gadis itu juga Mate kita, apa kau tidak berpikir jika pria vampir itu akan merebutnya?"

'Apa maksudmu?'

"Kau masih terlalu muda untuk terlalu memahami— jika kau tertinggal dibelakang diantara keduanya."

'Tidak, Christina juga, menyukaiku.'

"Aku telah menjadi bagian dirimu sejak kecil, aku juga mengambil segala rasa sakit agar kau menjalani hidupmu tanpa beban, dan aku juga telah menjadi tameng mu selama ini—aku berkata seperti ini karena aku peduli."

'Tapi aku mencintainya, dan aku tidak ingin merasakan sakit kala mendapat betrayal dari Mate-ku sendiri.'

"Kita tidak akan mati, Lucas. Jika pun kita mendapat betrayal, Mate baru akan lahir, kita berbeda dari mereka, kita berbeda dari William, kita kuat! Kita bisa menghancurkan batasan apapun!"

'Aku— tidak yakin bisa..' lirih Luke.

"Pada akhirnya kita hanya akan mengulang takdir terdahulu Lucas— kita akan selalu menjadi pihak yang kalah, dan aku harap kita tidak mengulangi kejadian peperangan di masa lalu yang belum usai."

'Bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika dia memilih kita?'

"Entah, aku rasa— antara Darren dan kita mati bersama, atau Christina yang harus terpaksa kita bunuh."

🍃🍃🍃

Jared berjalan mondar-mandir tak tenang di teras kafe, puluhan pasang mata yang lewat menatap pria itu aneh, bahkan hampir mengira tunawisma apabila ia tidak memakai seragamnya.

"Jared, cepat bantu kami, pelanggan semakin banyak!" panggil Elliot.

"Tapi Christina—"

"Bos baru saja meneleponku, katanya Christina ijin pergi mengikuti turnamen basket."

"Oh— baiklah, sebentar lagi aku akan ke dalam, aku akan membersihkan meja di depan dulu."

"Baiklah, cepat masuk dan jangan banyak melamun."

Setelah Elliot masuk ke dalam kafe dan kembali melakukan tugasnya sebagai barista, Jared segera membersihkan meja depan kafe dengan cepat.

Walau raga nya bertahan di satu tempat, namun pikirannya berkelana kesana kemari, spekulasi buruk akan kejadian yang menimpa Christina mendadak menghantui pikiran dan hatinya.

"Ada yang tidak beres Christina selalu mengatakan seluruh kegiatan sekolahnya padaku, tapi sekarang? Bukankah terlalu aneh?" pikirannya terjeda sesaat, namun hal itu tak berlangsung lama, kala suara teriakan Elliot berangsur merasuki rungu menyentak Jared pada dunia nyata.

Aku harap, kau baik-baik saja, Christina. Batin Jared.

Tubikontinyu avv..

Maapkeun kalau pendek dan lama🥺🥺🥺

Moga suka yap😆 jangan lupa voment banyak-banyak yes, biar aing makin gercep update nya🥺🥺🥺

Salam generasi heuheu😘

Theresa Lee😘

Two OwnersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang