Part 3 : More Close to Christina

1K 110 11
                                        

Happy Reading😘
.
.
.

Mungkin banyak orang yang berpikir, jika tempat tinggal makhluk immortal seperti Vampir dan Werewolf akan berupa kastil kuno berusia ratusan abad atau gubuk tua nan kumuh dengan gaya hidup bebas di hutan menuruti sebagian jiwa hewan mereka.

Tapi semua pemikiran yang sebagian besar dari novel fiksi itu salah, di kehidupan jaman sekarang yang serba modern, akan sangat aneh jika seseorang memiliki kehidupan kuno dan kolot, mereka bisa saja menjadi tertuduh akan segala kejahatan.

Seperti keluarga Lynch, selama hidup ratusan tahun tanpa mengalami penuaan, mereka tidak pernah mengalami kekurangan dalam segi materi, karena harta mereka terus mengalir dari berbagai macam usaha yang tak pernah padam dari semenjak ratusan tahun lalu dan terus berkembang pesat.

Mungkin bagi beberapa orang yang melihat seluruh wajah keluarga Lynch akan terkejut. Baik orang tua, kakek-nenek, anak bungsu, memiliki wajah awet muda yang masih cantik dan tampan, mereka terlihat memiliki umur yang sama.

Suara gelas kaca saling berdenting memecah kesunyian dalam ruang makan keluarga Lynch,

"Bersulang." suara vokal dingin dari beberapa orang itu terdengar mati, seolah mereka disana mengadakan pesta mayat hidup.

Darren menyesap cairan merah pekat nan kental itu pelan, menikmati setiap tetes rasa manis oleh indra pengecapnya.

Sangat lezat.

Entah mengapa, para manusia tak dapat merasakan rasa manis dari minuman itu. Tentu saja, karena itu adalah darah.

Darah manusia.

"Bagaimana sekolahmu, Darren?" tanya pria yang duduk di tengah pada sisi meja makan paling ujung— dimana kursi yang ia tempati memiliki ukiran khusus dengan papan nama di bagian bahu kursi bertuliskan nama 'Goliath' yang menunjukkan hierarki tertinggi sebagai kepala keluarga Lynch.

"Seperti biasa." jawab Darren seraya menyuapkan daging manusia mentah kedalam mulutnya.

Pria itu lantas mengernyitkan dahi, tatkala indra penciumannya mendapati aroma asing dari tubuh Darren, aroma petrichor dengan sedikit ekstrak citrus.

"Kau sudah menemukan mate-mu?" tanya Goliath.

Darren terdiam, kedua tangan yang memegang garpu dan pisau ditaruh disamping piring. Perlahan, senyum tipis terulas di bibir pucatnya.

"Ya, she's nerd at my school." jawab Darren.

"Did you kiss her?" Goliath penasaran.

"Sure, dia manis." jawab Darren singkat, seperti tak terganggu dengan topik yang dinilai sensitif tersebut.

Ruangan itu kembali hening tanpa sepatah kata pun. Sampai akhirnya Darren mengakhiri acara 'makannya' dan beranjak dari kursi menuju kamar.

🍃🍃🍃

'Cklek'

Pintu kamar Darren telah tertutup sempurna, dengan beberapa kunci kombinasi yang ia buat sendiri dan hanya dapat dibuka olehnya.

Kamar bernuansa hitam-putih tersebut terkesan hening dan suram, hanya terdengar setiap detik suara detak jam mengiringi. Seperti kamar anak SMA pada umumnya, terdapat satu ranjang berukuran king size, meja belajar, rak buku berisi koleksi novel dan buku sains, juga beberapa alat gym.

Darren kemudian menghampiri rak buku, memilahnya satu persatu, menghayati setiap judul yang tertera, dan sampailah ia pada buku berjudul 'Selene & Endymion'.

Two OwnersTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang