Selamat datang di Fam(ily) kost
Bukan hanya Rumah, tapi tempat ternyaman kedua untuk singgah bahkan bisa sungguh.
Catatan : ini hanya cerita fiksi, mohon maklum dan di mengerti. Tolong jangan membawa karakter di dunia nyata, niat hanya ingin mengh...
Han turun dari kamarnya karna tugas yang membuat nya seperti orang gila ia melangkah menuju kulkas dan membayangkan bagaimana sensasi segar menyergap tenggorokan nya
"Jangan minum air es terus. Lo punya penyakit pilek" Baru saja Han ingin membuka kulkas ucapan Chaeyeon menghentikan nya
Han menoleh "Nanti gua minum panadol"
"Jangan bercanda Han. Teh anget aja" Kata Chaeyeon cuek dan masih asik menatap laptop di depannya. Ternyata, cewek ini tidak banyak berubah masih sama kebiasaan Han saja ia hafal. Yang berbeda sekarang ia dan Chaeyeon hanya teman bukan sepasang kekasih seperti dahulu
Han tersenyum miris, orang sepertinya ternyata bisa galau juga "Chae, maaf"
"Untuk?" Chaeyeon melihat kearah Han yang masih betah di depan kulkas "kata gua yang udah ya udah. Han"
"Lo udah maafin gua?" Tanya Han
"Ini yang harus lu ilangin dari diri lo. Stop merasa semua salah lo Han. Yang udah ya udah, kita bisa lanjut temenan" Jelas Chaeyeon geram. Menurut nya putus bukan akhir dari segalanya banyak cara yang bisa dilakukan salah satunya berteman
Chaeyeon tiba tiba saja ingin beranjak tidak mau terkecimpung dalam suasana canggung lebih baik ia pergi saja
"Han inget jangan kebanyakan minum dingin" Kata Chaeyeon dan meninggalkan Han yang masih betah berdiri
Chaeyeon berpapasan dengan Ejin saat ingin ke kamar "lho? kenapa lo Chae?"
"Jin, pinjem spotify lo. Gua mau puter lagu kelingan mantan" Kata Chaeyeon bisik dan mengambil ponsel Ejin di saku belakang
Sementara di ruang tamu yang berhadapan langsung dengan dapur ketiga orang sedang ngumpet mengupinh ria
"Temen lo bulol juga jin" Kata Eric
"Temen lo juga bege" Sahut Hyunjin yang mencubit lengan Eric menggeram
"Sakit bego!"
"Diem lo bedua. Ketahuan nanti" Bisik Yoshi yang paling pojok
**
Berbeda dengan Han, kini Jeno duduk termenung di teras dengan Renjun. Genjrengan gitar samar samar terdengar pilu untuk Jeno, hari ini ia banyak berfikir ingin sekali membuang diri ke hutan Amazon
"Apa yang mau lo galauin sih Jen?" Renjun menatap Jeno yang tak punya energi itu
"Gua lepas apa gimana Jun" Jeno mengusak kasar rambut nya "gua sayang. Tapi gua keluar duid mulu"
Renjun mendengus kesal "bohong kalo lo sayang. Pengen populer aja lo tuh. Mana si sella manja nya bikin najong"
"Ya kan gua cuma" Kata itu keluar samar dari mulut Jeno, ia benar benar bingung
"Nah kan gak bisa jawab" Kata Renjun "inget Jen kita masih anak kuliahan gaya gayaan nya di kurangin lah"
"Kasihan noh si asih juga perlu lo urus sama cicilan bulan ini"
Asih itu nama klx nya Jeno ya kawand
"Ck! Lo malah ngingetin. Tapi kok lo hafal sih agenda gua" Jeno membenarkan duduk nya "Lo gak.. "
"Mau lo gua gebuk sama nih gitar. Gua masih normal lah" Renjun memutar bola matanya malas, bisa bisa nya lagi pusing kepikiran yang gak berguna se dunia
"Andaikan gua se rich Eric" Kata Jeno
"Berhayal itu perlu Jen. Syukuri aja sekarang mah nanti gila tau rasa" Haechan datang dengan dua mangkok mie bersama Jaemin dan Felix di belakang
"Gak usah jadi bocah prik gitu lah bro. Kalo gua udah get out" Ucap Felix dan duduk sebelahan dengan Renjun "geser njun"
"Ck!"
Jaemin menganggukkan kepalanya "Galau juga gak bakal nyelesain masalah kali" Sekali seruputan aroma kari menyeruak "mending nih mie sedap rasa kari"
"Gua ibarat aja nih ya" Haechan membenarkan duduk nya menghadap teman teman di depannya
"Kita ibaratin sama hujan aja, kebeneran kan lagi gerimis" Katanya "sesuka apa orang sama hujan pasti bakal neduh juga karena takut pilek. Nah sama nih sama diri lo sesuka apapun lo jangan memaksa kan diri kayak gini. Cari aman"
Felix dan Renjun Jaemin mengangguk mantap, ternyata bisa berguna otak nya Haechan walaupun cuma dikit
"Kata gua kalo di suruh pilih Lia sama Sella gua gas lia lah. Cantik" Kata Renjun yang kebetulan melihat cewek itu baru pulang
"Walaupun nastar buatan nya hampir menelan korban dan itu gua. Tapi kayaknya dia oke juga" Sambung Felix yang sibuk dengan gitar yang sudah beralih di tangan nya
Jeno mengangguk pasrah, sepertinya ia menemukan jawabnya
"Na kok lo korbanin gua sih?" Celetuk Haechan tak Terima
"Ngamal sesama teman dapat pahala chan" Jawab Jaemin
"Yang ada gua bokek geblek!"
Malam itu Jeno mendapat pencerahan tiba tiba seperti omongan Haechan yang mengajak nya berfikir. Teras depan terasa hidup kembali dengan canda tawa. perlahan Jeno yang awalnya mendung sekarang cerah kembali. Berkat teman temanya ini, ia selalu bersyukur bisa mengenal orang orang seperti mereka Orang yang selalu memberikan pencerahan untuk hubungan asmaranya yang merepotkan, jangan heran dia kan buaya hehe. Canda buaya
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.