ix. semicolon

3K 706 223
                                        

"Sunghoon belum sadar." tiga kata itu membuat Jake merasa sedikit sakit.

Dia bingung, sebenarnya apa maunya si pemberi kutukan ini?

Bukannya sekarang alurnya sudah sangat melenceng dari aslinya? Kenapa Jake tidak di bangunkan lagi di atap sekolah?

Apa sengaja diubah alurnya? sehingga yang lain menderita?

Banyak sekali pertanyaan yang Jake pikirkan sekarang.

Kini ia termenung di kelas yang ramai tapi terasa kosong baginya, pikirannya kacau dan Jay menyadari itu.

Lekas ia pun menghampiri kawannya tersebut dan menanyakan keadaannya.

"Kenapa?" Jake tidak menjawab ia hanya menghela nafas panjang dan menelungkup kan kepalanya.

"Heh orang nanya tuh dijawab." Jay yang merasa dicuekin memukul pelan kepala temannya itu.

"Sakit ih!" Tatapan sinis dilontarkan Jake pada Jay.

"Sikit ihh!" Ledek Jay yang akhirannya disertai kekehan jahil.

"Cerita atau gue lempar lewat jendela?"

"Emang kuat?"

"Ya enggak, kenapa si? gue kepo." Jay duduk di bangku sebelah Jake dan menumpu kepalanya menggunakan tangan sembari menunggu kawannya itu menjawab pertanyaan.

"Gak mau, lo jahat soalnya udah bunuh gue."

"Hah?"

Apakah itu reaksi yang kalian harapkan dari Jay? Tidak bahkan Jake sudah membayangkan Jay dengan muka kebingungannya.

Tapi sekarang malah Jake yang kebingungan, pasalnya Jay mengangguk angguk pelan.

Makin bingung lah Jake.

"Rasanya gue tusuk gimana si Jake? Sakit ga? atau gimana? review dong."

Gak waras, pikir Jake.

"Lo mending jauh jauh dari gue, gue takut lo nya ngebunuh gue disini..." Lirih Jake, ia berdiri perlahan dan menjauhkan diri dari temannya itu

Sedangkan Jay malah terkekeh geli, makin serem.

"Gak akan, mau ngebunuh lo pake apa? pensil ini?" Kata Jay yang mengambil pensil milik Jake.

"Gue kabur aja kali ya."

Jake sudah ancang-ancang untuk lari tapi gagal, tangannya di cengkeram kuat oleh Jay.

"Lepas, gue takut." Lirih Jake.

"Gak."

Suasana kelas yang ramai sangat tidak berpengaruh bagi Jake, kini jantungnya berdetak lebih cepat dan rasanya ingin berteriak.

Apalagi tatapan tajam dari Jay membuatnya makin tegang.

"Gimana kutukannya?" Tanya Jay dengan menaikkan satu alisnya.

"Gimana kutukannya?" Tanya Jay dengan menaikkan satu alisnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bagus deh gada yang curiga ke gue." Gumam seseorang yang berjalan menghampiri seseorang yang ingin ia temui

Ia pun masuk kedalam sebuah ruangan yang didalamnya sudah ada orang tersebut.

"Lancar?"

Orang itu menjawab dengan anggukan kemudian memberikan sebuah kertas kecil.

"Jumlah nominal yang harus dibayar, transferannya ditunggu hehehe." Jelas nya.

"Beres itu mah, udah? mau ngapain lagi?" Tanya orang satunya lagi sambil menyeruput minuman yang di genggamnya.

"Gada sih, balik dulu ya!" Lelaki itu berdiri dan meninggalkan ruang tersebut kemudian keluar lalu pergi

"Makan enak hahaha!" Serunya setelah melihat saldo rekening nya menunjukkan jumlah yang sangat banyak.

"Makan enak hahaha!" Serunya setelah melihat saldo rekening nya menunjukkan jumlah yang sangat banyak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Mau ke rumah sakit gak? Jenguk Sunghoon?" Tawar Heeseung kepada orang disebelah dan depannya.

"Gue mau kerja kelompok kak." Ujar Sunoo yang sibuk makan batagor bareng Jungwon.

"Bagus deh, gue ke sana sama Jake. Yakan Jake?" Kata Jay sambil menyenggol lengan kawan disebelah nya itu.

"I-iya boleh..."

"Lemes amat Jake, mau gue beliin makan gak?" Inisiatif Heeseung.

"Engga usah, gak laper."

Heeseung hanya menggedikan bahunya acuh dan lanjut memakan nasi goreng miliknya yang belum habis.

"Mau kesana gak won?" Tanya Heeseung pada adik sepupunya.

"Ayo aja, ntar beli buah dulu deh ya masa gak bawa apa apa." Mendengar ucapan adiknya itu Heeseung pun menganggukan kepalanya.

Tak perlu menunggu waktu lama, jam pulang sekolah pun sudah selesai semua siswa terburu buru untuk segera pulang.

Tidak dengan Jake yang bermalas malasan memasukkan berbagai barangnya ke dalam tas.

Dia sebenarnya takut sih harus satu mobil dengan Jay untuk menuju rumah sakit.

"Buruan elah, lambat amat." Celetuk Jay.

Yang disindir mendecak kesal dan mempercepat aktifitas nya kemudian membawa tas tersebut di pundak.

"Jaga jarak, gue masih takut sama lo."

Jay terkekeh gemas melihat tingkah laku temannya itu, tapi wajar aja sih Jake sudah mengalami hal yang gak mengenakkan berkali kali.

Sampailah mereka berdua di parkiran, dan Jay pun duduk di depan. Tapi ia heran kenapa Jake duduk di belakang.

"Duduk depan anjir, gue bukan sopir lo."

Jake menggulirkan mata nya malas dan akhirnya pindah ke depan, tas nya ia pangku.

Setelah melihat Jake yang sudah duduk diam, Jay pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit.

"Gue gak jahat, Jake." Ditengah keheningan tiba tiba saja Jay berbicara.

"Dia yang jahat."



"Gue korbannya, lo juga, yang lain juga,

tolong percaya sama gue."

Maaf y sy menghilang seabad(~ ̄³ ̄)~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Maaf y sy menghilang seabad
(~ ̄³ ̄)~

(2) Death Bed || Enhypen [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang