Tak ada kesempatan berbicara kembali setelah kejadian yang membubarkan segalanya. Meski saat kesempatan itu datang pada akhirnya, tidak juga ada bicara atau mungkin memang keduanya sudah apatis hingga merasa semua akan sia-sia.
Haruskah mereka bic...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
April 2024
"Terimakasih sudah mau datang, hyung"
"Tidak masalah, Luk. Aku juga berterimakasih karena kau masih mau berbicara denganku"
"Jangan begitu, hyung"
"Hyung"
"Kenapa kau masih terus membayar member club milikku di sirkuit?"
Lelaki yang dipanggil Hyung itu tertawa kecil.
"Aku hanya ingin"
"Aku merasa tidak nyaman dan merasa berhutang padamu jika begitu"
"Aku tak berniat membuatmu berhutang, tapi itu aku lakukan agar kau tak berhenti dari sana hanya karena aku dan sista-mu berakhir"
"Kau punya potensi disana, dan kau tak ada hubungannya dengan konflik diantara kami"
"Aku yakin, jika aku tak membayarnya kau akan berhenti dari keanggotaan disana, akan sayang sekali"
"Tapi hyung, aku menjadi sedikit terbebani karena itu"
"Justru aku ingin kau terus beraktivitas disana karena aku sudah membayarnya setahun penuh"
"Apa kau masih menyukai aktivitas disana, Luk?"
"Sangat! aku sangat menyukainya, tapi tidak dengan menjadi bebanmu, hyung"
"Tidak ada yang membebaniku, itu keinginanku sendiri"
"Apa kau pernah merasa memintanya sejak awal?"
Lucas menggeleng.
"Ya sudah kalau begitu, lanjutkan kegiatanmu disana selagi kau menikmatinya. Itu saja"
"Jujur hyung, aku menutupi hal ini darinya"
"Sebaiknya memang begitu, Luk. Aku tak mau dia salah paham dan merasa terbebani sepertimu jika ia tahu tentang itu" "Memang bukan itu niatku sejak awal"
"Luk"
"Ya hyung"
"Aku tak memiliki maksud lebih untuk hal yang kulakukan padamu itu. Jangan khawatir!"
"Jika kau tak lagi menganggapku sebagai bagian dari keluargamu seperti dulu, anggap saja aku temanmu. Itu juga kalau kau tak keberatan"
"Hyung..." raut Lucas sungguh terlihat tak enak hati, merespon sikap Mingyu dan tatapan sendu lelaki yang dulu ia kenal sangat seru kadang cenderung humoris tiap dalam kesempatan kebersamaan mereka.
"Tidak apa-apa kalau kau tak bisa menganggapku sebagai teman sekalipun, aku tahu kau juga menjaga perasaan sista-mu" Mingyu mencoba tersenyum.