Gelap, buram, dan perlahan cahaya mulai masuk. Shea mengerjapkan matanya berulang kali. Saat kesadarannya terkumpul, orang pertama yang ia dapati adalah Echan, sahabat baik sekaligus mantan kekasihnya yang paling tak berakhlak.
“She, udah sadar lo?” Echan langsung menghampiri bangsal.
“Chan, kok gue pakai baju olahraga? Lo ya yang gantiin?” tuduh Shea seketika horor, langsung menarik selimut hingga ke dada.
“Sembarangan! Mata gue masih suci, belum ternoda. Tadi Liana yang gantiin,” jawab Echan sewot.
“Lagian lo kenapa sih? Bisa-bisanya tiduran di lantai toilet sampai baju basah kuyup gitu.”
Shea memutar bola mata malas. “Siapa juga yang tiduran! Terus kenapa gue bisa di sini? Siapa yang nemuin gue? Yesi! Mana si Yesi?” Shea mulai meledak. Ia ingat betul wajah puas Yesi sebelum ia pingsan.
“Yesi? Lo ditemuin adek kelas tadi,” ujar Echan kebingungan.
Sial. Shea mengepalkan tangan di balik selimut. Jadi Yesi membiarkannya tergeletak begitu saja di toilet? Benar-benar keterlaluan.
“She, lo demam. Harus minum obat, tapi makan dulu ya.” Echan menyentuh dahi Shea, namun Shea segera menepisnya.
“Gue gak sakit.”
“Gue ambil bubur dulu, udah gue siapin tadi.” Tanpa menunggu persetujuan, Echan berlalu pergi.
Shea mendengus, tenggorokannya terasa sangat kering. Tak lama, Echan kembali dan mulai menyodorkan sesendok bubur.
“Ayo, makan.”
“Gak mau.”
“Lo harus makan. Mau gue telepon nyokap lo, hah? Bu Sunny tadi juga udah nyuruh buat hubungin rumah.” Echan tahu persis titik lemah Shea. Shea akhirnya terpaksa membuka mulut daripada harus menghadapi Mamanya yang pasti akan semakin menambah beban pikirannya.
“Liana mana? Gue mau disuapin Lia aja,” rengek Shea lesu.
“Lia tadi gue suruh pulang. Sekolah udah sepi, tinggal kita berdua sama beberapa anak OSIS aja.” Echan menyodorkan suapan lagi. Shea menggeleng.
“Lia pulang dianterin Jemian, ya?” tanya Shea dengan nada yang semakin rendah.
“Mana gue tahu!” jawab Echan cuek.
Shea terdiam. Hatinya semakin semrawut. Baru tahap PDKT saja Jemian sudah bisa membuat dunianya terasa sepanas ini.
“Ah, sedih banget. Gue gak punya pacar, jadi gak ada yang suapin kali lagi sakit kayak gini. Kalo disuapin crush, pasti gue lahap makannya,” gumam Shea dengan tatapan kosong, membayangkan Jemian.
“TERUS GUE INI APA?!” teriak Echan tiba-tiba, membuat Shea terlonjak.
“Ya lo sahabat gue! Sekaligus mantan gue!” balas Shea tak kalah kencang.
“Nah, itu! Gue sahabat lo, jadi jangan cari yang gak ada! Ayo, makan!” Nada bicara Echan kembali melunak, namun tetap tegas.
Shea akhirnya menyerah, menelan obat meski buburnya hanya habis dua sendok. Ia segera bersiap untuk pulang. Sekolah memang sudah sangat sepi.
“She, kamu sakit?” Seseorang memanggil dari arah koridor.
“Eh, Kak Junior. Nggak kok, Shea gak sakit.” Shea tersenyum kecil. Hanya Junior, mantan yang selalu bersikap adem dan tetap ramah setiap kali mereka bertemu.
“Muka kamu pucat banget.” Junior mendekat, memperhatikan Shea dari ujung kepala sampai kaki. “Udah minum obat?”
“Udah kok, Kak. Baru aja. Iya kan, Chan?” Shea menyikut Echan yang sedari tadi diam saja.
“Iya, sudah Kak,” jawab Echan singkat.
“Kakak antar pulang, ya? Kebetulan kakak lagi bawa mobil,” tawar Junior lembut. Shea baru saja hendak menggeleng saat sebuah suara berat menginterupsi.
“DIA PULANG BARENG GUE!”
Mata Shea membulat sempurna. Jeffano. Kenapa laki-laki itu bisa ada di sini?
“Kamu sakit, She? Kenapa gak telepon aku?” tanya Jeffano dengan wajah yang dibuat-buat khawatir.
“Kenapa lo bisa tau gue sakit?” tanya Shea ketus. Jeffano pasti punya mata-mata di sekolah ini.
“Ayo pulang. Thanks ya, Bro, udah jagain cewek gue!” Tanpa menunggu jawaban, Jeffano menarik tangan Shea dengan paksa.
Shea melihat Echan dan Junior hendak mencegah, namun mereka tampak serba salah—mungkin karena usia Jeffano yang jauh lebih dewasa atau karena mereka tahu betapa nekatnya laki-laki itu.
“Gue gak bisa lihat lo sama cowok mana pun,” ujar Jeffano sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi! Ngerti gak sih gue capek dikekang terus sama lo?” Shea mulai terisak. Ia benar-benar lelah.
“Lo lupa gimana percayanya keluarga lo sama gue?”
Shea hanya bisa menangis. Jeffano selalu menggunakan kartu itu untuk mengancamnya.
“Gue udah minta maaf soal selingkuh itu, She. Gue salah, tapi kan gue sudah minta maaf.” Tatapan Jeffano sangat tajam, penuh dominasi yang menyesakkan.
“Gue udah maafin lo berkali-kali! Tapi lo selalu mengulangi kesalahan yang sama!” bentak Shea.
“Jangan karena gue lebih muda, lo anggap gue gampang dibegoin dan dilecehin!”
Shea meraung sejadi-jadinya. Jeffano mendadak menepikan mobilnya ke bahu jalan.
“Gak gitu, She!”
“Gak gitu gimana? Dari semua cowok yang pernah gue pacarin, cuma lo yang brengseknya gak ketulungan! Cuma lo yang paling posesif!”
“KARENA SEMUA COWOK YANG LO PACARIN ITU MASIH BOCAH! GAK KAYAK GUE!” balas Jeffano berteriak.
“Lo mau bilang lo dewasa dengan kelakuan kayak gini?” lirih Shea, kepalanya kembali berputar hebat.
“Oke, mungkin gue sering maksa buat skinship sama lo. Tapi lo harus tahu, She, sesopan apa pun cowok yang lo pacarin sekarang, kalo mereka sudah dewasa nanti, mereka bakal sama kayak gue. Mereka sekarang cuma masih lugu dan polos.”
Shea terdiam. Apakah benar semua laki-laki akan menjadi seperti Jeffano? Bagaimana dengan Jemian? Apakah sosok yang begitu menghargai perempuan itu juga akan berubah menjadi monster posesif saat dewasa nanti?
“Nggak. Gue yakin ada cowok yang bisa menghargai perempuan dengan penuh hormat,” bisik Shea sambil menghapus air matanya kasar.
“Kak Jeff...” panggilnya lirih, penuh luka.
“She, gue posesif karena gue beneran sayang sama lo. Gue gak pernah sesayang ini sama cewek lain.” Jeffano menunduk, tampak frustrasi.
“Kak... lepasin Shea.”
Mereka sudah putus berkali-kali, namun Jeffano selalu menolak untuk melepaskannya. Dan empat bulan yang lalu, Shea benar-benar sudah mencapai titik jenuhnya. Kata putus itu seharusnya menjadi yang terakhir, namun jeratan Jeffano seolah tidak pernah benar-benar putus.
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Hollow Bliss
Fanfiction[17+] Populer, cantik, kesepian. 🥀 Start : 10 Januari 2022 Finish : 11 Juli 2022 REPUB : Januari 2026
