Shea segera menghapus semua riwayat pesan mesra dengan Ajie selama seminggu terakhir. Ia geram karena Ajie memutuskan hubungan hanya melalui WhatsApp. Ajie memang masih terlalu muda dan penakut.
"Lagian lo tau dari mana Ajie takut sama Kak Jeff? Ajie kan gak mungkin kenal sama dia, She," ujar Liana sambil melipat tangan di dada.
Shea menghela napas panjang dan menghentakkan kakinya ke lantai. Wajahnya memerah menahan emosi.
"Pas putusin gue, Ajie bilang gak mau jadi penghalang hubungan gue sama Jeffano. Dia nyangka gue masih sayang sama itu cowok. Padahal jelas-jelas Jeff itu tukang selingkuh! Gue yakin Jeff labrak Ajie buat putusin gue, sama kayak waktu dia ngelabrak Arjun dulu."
Liana tertawa keras. "Intinya lo harus cari pacar yang lebih berani dari Jeffano. Gitu aja repot."
"Gitu aja repot mata lo!" tandas Shea sambil memutar bola mata. "Terserah lah, gue malas pacaran lagi. Gak guna."
Shea berjalan mendahului Liana menuju kelas. Di tengah jalan, bahunya tidak sengaja bersenggolan dengan seseorang.
"Ups, mantan nih," goda Liana yang tiba-tiba sudah berada di samping Shea lagi.
Januaraka Pradipta Junior
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hai, Kak Junior. Maaf ya, gak sengaja," ucap Shea berusaha tersenyum. Junior adalah mantan pacar Shea saat ia baru pertama kali masuk ke sekolah ini.
"Gapapa kok. Ya udah, Kakak ke kelas dulu, ya." Junior mengusap kepala Shea sebentar sebelum berlalu.
"Cie, balikan aja mendingan. Kak Junior keliatannya masih perhatian, dia juga masih jomblo," goda Liana lagi.
"Lo lupa kenapa kita putus? Dia terlalu sibuk sama OSIS dan gue gak pernah jadi prioritas," balas Shea ketus. "Apalagi sekarang dia jadi ketuanya."
Sesampainya di kelas, Echan menghampiri Shea dengan terburu-buru. "PR lo udah belum? Gue lupa ngerjain!" Echan langsung menarik tas Shea dan membongkar isinya tanpa izin.
Eksan Chandrawira (Echan)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kebiasaan lo! Berantakin tas gue terus," sungut Shea sambil menarik tasnya kembali. Echan adalah satu-satunya mantan yang menjadi sahabat dekatnya karena sifatnya yang heboh.
"Hampir semua cowok ganteng di sekolah ini mantannya Shea," gumam Liana.
Status mantan tersingkat yang dulu dipegang Jemian, kini resmi beralih ke Ajie. Meskipun orang-orang mengira Shea hanya mencari status, sebenarnya Shea serius saat menerima Ajie. Ia hanya butuh seseorang yang bisa membuatnya merasa berharga.
“Hei, Ajie!” panggil Shea tiba-tiba. Kebetulan sekali, saat Shea sedang duduk di sisi koridor, cowok itu melintas di depannya.
Ajie tampak terkejut. Matanya mengerjap, ia langsung membuang muka dan melangkah mundur dengan wajah penuh ketakutan. Shea melihat itu dengan hati yang mencelos. Power of Jeffano benar-benar sebesar itu.
“Jangan pergi, gue mau nanya sesuatu.” Shea melipat tangan di dada dan menatap Ajie tajam. Ada rasa dendam yang tertinggal.
“Ada apa ya, Kak?”
Kak. Shea tertawa getir. Kemarin saat masih pacaran, Ajie memanggilnya dengan sebutan manis. Sekarang, panggilan itu berubah menjadi sekat yang sangat formal.
“Lo ketemu Jeffano di mana?” tanya Shea tanpa basa-basi.
“Nggak, Kak. Aku gak kenal sama yang namanya Jeffano. Maaf Kak, aku duluan ya.” Ajie buru-buru melangkah pergi, namun Shea dengan cepat mencekal tangan cowok itu kuat-kuat.
“Gue tahu lo putusin gue karena dilabrak Jeff. Diapain lo sama dia? Ngomong apa aja dia tentang gue, hah?” tanya Shea bertubi-tubi dengan suara keras, hingga siswa lain menoleh.
“Kak, maaf. Kalo Kakak masih sayang sama Kak Jeffano, jangan begini. Jangan gonta-ganti pacar terus buat lupain dia. Jangan permainkan banyak cowok,” ujar Ajie takut-takut.
Shea mengepalkan tangan erat. Ia benci dituduh masih sayang pada Jeffano. Mantan yang masih ia sayangi itu Jemian, sedangkan Jeffano adalah mantan yang paling menyakitinya.
“Tau apa lo tentang gue? Lo gak tau apa-apa!” teriak Shea menatap punggung Ajie yang menjauh. Dadanya bergemuruh hebat, menahan tangis yang sudah di ujung mata.
"Jeffano sialan! Gue benci sama lo!"
“Ngapain lo nangis di sini? Diputusin siapa lagi sekarang?” Echan yang kebetulan lewat berhenti dan menepuk bahu Shea cukup keras.
“Ajie,” jawab Shea pelan.
“Ajie? Siapa sih? Adkel?” Echan memekik dan diakhiri tawa khasnya. “Bocah lo tangisin? Yang bener aja.”
Shea berdiri dan menginjak kaki Echan sekuat tenaga. “Dia bukan bocah! Dan gue gak nangisin dia!” desis Shea sambil mengusap air mata kasar dan pergi meninggalkan Echan.
Kenyataannya, Shea menangis bukan karena putus dari Ajie, tapi karena Jeffano yang terus-menerus mengendalikan hidupnya. Shea merasa seperti tahanan dalam bayang-bayang mantannya sendiri.
Di depan sana, Jemian berjalan ke arahnya. Mereka berpapasan. Jemian memberikan senyum tipis—sangat tipis hingga hampir tidak kelihatan. Tapi bagi Shea, senyum itu nyata. Shea membalas senyum itu dengan kaku. Di depan Jemian, Shea yang populer dan berani mendadak berubah menjadi orang yang kehilangan kata-kata.
“Salut sama lo, She. Segala jenis cowok pernah lo pacarin,” celetuk Echan yang masih mengekor di belakang karena melihat interaksi Shea dengan Jemian barusan.
“Iya, cowok radio butut kayak lo aja pernah gue pacarin,” ujar Shea datar.
“Si tai!” Echan memukul kepala Shea pelan. Begitu sampai di kelas, Liana sudah menunggu dengan wajah cerah.
“She, sini deh. Gue mau tanya,” panggil Liana antusias.
“Btw, lo sama Jemian dulu pacaran berapa lama sih? Gak pernah skinship, kan?” Shea mendengus. Ternyata topiknya masih sama: Jemian.
“Wih, masih inget lo?” Liana terkagum. Shea masih ingat setiap detail kecil tentang Jemian karena cowok itulah satu-satunya mantan yang masih ia kagumi. Tapi ia tidak mungkin mengatakannya pada siapa pun.
“Misal nih, misal. Gue sama Jemian ada kemajuan. Lo izinin gue kan pacaran sama dia? Nggak ada rasa apa-apa lagi kan lo sama dia?” tanya Liana penuh harapan.
Shea tertegun. Dari sekian banyak mantan yang ia miliki, kenapa Liana harus memilih satu-satunya orang yang masih ia harapkan?
“Boleh kan, She?” ulang Liana.
“Perasaan kemarin lo udah minta izin deh. Pacaran aja kalo kalian emang cocok,” jawab Shea dengan suara yang ia usahakan tetap tenang, senyumnya merekah memberikan semangat pada Liana sahabat baiknya.