Dua hari ini Shea gak masuk sekolah, demamnya naik turun terus. Obatnya jarang diminum karena gak ada yang ngurusin Shea. Gak ada yang nyiapin makan apalagi minumin obat. Mamanya sibuk kerja, begitu juga papanya. Mereka hanya sediain makan pagi doang itu juga karena mereka harus sarapan, siang dan malamnya gak peduli. Biasanya Shea masak sendiri, tapi sekarang dia lagi gak enak badan mana bisa masak.
Air mata cewek itu ngalir perlahan karena dia kelaparan, gak mau makan bubur sisa pagi.
Shea pengin diperhatiin, itu mengapa dia gak bisa gak punya pacar.
Dan cowok yang selalu mengklaim Shea masih pacarnya mana? Dia gak ada sama sekali di saat Shea kayak gini, Jeffano cuma datang pas Shea lagi deket sama cowok lain aja.
“Ya ampun, Shea.”
Shea menoleh mendengar suara sahabatnya yang ternyata baru datang dan langsung masuk ini. Dia Echan dan gak sendiri, ada Lia, Jemian sama Arjun. Ah mereka para mantan.
Ngomong-ngomong mereka menerobos masuk rumah Shea karena khawatir.
“Lo meriang, ini panas banget lagi.” Lia kelihatan khawatir banget setelah mengecek suhu tubuh sahabatnya itu.
“Gak apa kok, Li. Gue cuma belum minum obatnya aja,” lirih Shea pelan, lemes sama pusing yang menderanya sekarang.
”Ya udah ayo makan.” Echan meraih mangkuk yang ada di nakas, tapi detik berikutnya ia berhenti menatap mangkuk itu.
“Gue gak mau makan itu,” tolak Shea cepat. Bubur itu udah Shea aduk sedari pagi dan keadaannya udah gak memungkinkan buat dimakan lagi.
“Ya udah gue ambilin ke dapur, pasti masih ada kan sisa pagi?” tanya Echan dan Shea menggeleng, gak yakin masih ada sisa, karena biasanya mamanya kalau masak bubur ya bubur aja satu menu, jadi bisa ditebak mama sama papanya sarapannya juga bubur.
“Jun, lo bawa apa? Mau ....” Shea melirik sesuatu yang dibawa Arjun sedari tadi.
“Oh ini buah-buahan, Shea,” jawab Arjun cepat sambil mengangkat buah itu.
“Ambilin pisau sama piring, Chan,” bisiknya kini pada Echan, dan Echan pun langsung bergegas.
Jemian yang notabenenya bukan teman sekelas mulai mendekat, duduk di sisi ranjang dan menatap Shea. Cewek itu merasakan tatapan Jemian beda, oh tentu saja itu tatapan kasihan. Tangannya terulur nyentuh kepala cewek itu, tepatnya merapikan rambutnya.
“Tiap hari lo sendiri gini, Shi? Orang tua lo?” lirih Jemian pelan.
“Udah biasa sendiri, kok.” Shea menjawab tak acuh dan gak mau membalas tatapan Jemian, gak mau anggap bahwa Jemian itu perhatian.
“Bonyok pulang paling sore atau malam kalau lembur.”
Lia cepat-cepat menggeser tubuh Jemian dan mengambil alih posisi, kayaknya Lia gak suka sama perlakuan Jemian ke Shea.
“Kenapa gak bilang kita-kita sih kalau lo gak ada yang rawat, tau gitu kan dari kemarin gue ke sini, gue nginep ya?”
Shea menggeleng cepat. “Gak usah, Li. Entar lo ketularan lagi,” tolaknya mencari alasan. “Gue juga gak separah itu, kok.”
“Ih jahat.” Lia mengerucutkan bibirnya. “Padahal beneran pengen jagain lo.”
“Buah siap ....” Echan dengan hebohnya kini membawa piring yang sudah diisi beberapa buah yang sudah dipotong.
“Ayo makan, aaaaa.” cowok itu menyodorkan satu tusukan apel, Shea juga langsung nerima suapan itu.
“Masih belum dapat pacar baru kan, lo? Makanya sekarang yang suapin gue lagi.” Echan mencibir dan suapin Shea lagi.
“Apaan sih,” gerutu cewek itu, pasti dia ngebahas pas lagi di UKS waktu itu.
Arjun yang sedari tadi diam kini bersuara, “Terus cowok yang waktu itu?”
Shea menoleh cepat dengan melotot, sedangkan Echan yang sudah tahu siapa cuma senyum sinis aja.
“Maksud lo cowok yang udah labrak lo nyuruh lo putusin gue? Jeffano? Asal lo tahu, kita putusnya udah lamaaaaaaaa banget. Sumpah, Njun, gue gak pernah jadiin lo selingkuhan gue waktu itu,” jelas Shea selalu emosi kalau bahas Jeffano.
“Iya tau kok,” lirih Arjun sangat pelan.
“Tau? Dari siapa?” Shea mengangkat kedua alisnya.
“Iya tau dia statusnya cuman mantan lo, mantan yang gak bisa lo lupain, makanya gue mundur. Karena kalian masih saling sayang,” jawab Arjun semakin pelan, matanya ke sana-sini tidak mau melirik Shea.
Sedangkan cewek itu? Sudah ditebak kayak gimana. Jenov aja waktu itu Shea pukul karena ngomong kayak gitu.
“Jemian!” teriak Shea. Iya, mantan yang masih Shea sayang itu Jemian.
“Kenapa, She?” Jemian menoleh dengan wajah terkejut. Hampir saja.
“Tonjokin Arjun buat gue, Jem! Gue benci kalo ada orang yang sok tahu tentang perasaan gue! Kalian semua sama aja! Kalian gak tau kan gimana perjuangan gue buat bisa lepas dari Jeff?!” Mood Shea lagi-lagi hancur dengan drastis.
“Jun, lo anak paling pinter di kelas kenapa bisa kemakan omongan Jeff! Lo sama aja kayak si Ajie!” Shea beneran nangis dan akhirnya menarik selimut dan menyembunyikan wajahnya, mulai meringkuk membelakangi mereka.
“Yah, She. Maaf,” lirih Arjun menepuk pundak Shea.
“Lo sih, Shea itu tersiksa tau sama Jeff.” Shea mendengar Lia berbisik, diikuti bisikan-bisikan yang lainnya.
“Shi, gue minta maaf. Kalau gitu lo mau balikan lagi sama gue?”
Arjun gila! Gue gak mau keluar dari selimut ini. Batinnya.
“Woy woy keluar! Lo belum minum obatnya!” Echan menarik selimut Shea kasar dan paksa, dan itu memang berhasil.
Shea tatap satu persatu ketiga mantannya itu, Echan, Arjun, dan Jemian, lalu tatapan terakhirnya berhenti pada Lia.
“Kalian para cowok keluar gih, gue mau berdua aja sama Lia,” ujarnya mengibas-ngibaskan tangan bener-bener mengusir.
“Huh! Sakit aja banyak tingkah lo!” cibir Echan dan langsung mendapat tatapan horor dari Shea.
Lia menyela, “Udah ah, kalian keluar aja sana, duduk di ruang tamu atau di mana aja.” Ia mendorong satu persatu cowok di sini. Dan Jemian paling belakangan dia dorong.
“Tunggu di luar ya, Yang,” bisik Lia tersenyum dan Jemian mengangguk aja balas senyum manis.
Jadi mereka udah resmi jadian? Iya, hati Shea belum rela padahal otaknya selalu nyuruh buat rela.
“Udah jadian nih?” Shea sebisa mungkin menampilkan wajah ceria. Shea harus ikutan senang dengan jadiannya mereka. Meskipun hatinya sebenarnya sakit.
Lia mengangguk dan senyum dengan malu-malu. “Dia nembak gue pas istirahat di taman belakang sekolah,” jelasnya masih cengar-cengir gak jelas.
“Selamat, Li ... gue ikut seneng,” lirih Shea mati-matian untuk tersenyum.
Perlu diingat, bahwa Jemian menembak Lia di saat Shea tidak masuk sekolah. Itu cukup menandakan bahwa Shea benar-benar bukan siapa-siapa untuk Jemian.
“Lo sama Jemian, cocok, Li.”
Meskipun hati ini sakit, gue gak bisa benci dan gak mungkin benci Lia. Lia sahabat baik gue dan Jemian orang yang istimewa buat gue. Jadi, mereka itu sangat pas.
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Hollow Bliss
Fanfiction[17+] Populer, cantik, kesepian. 🥀 Start : 10 Januari 2022 Finish : 11 Juli 2022 REPUB : Januari 2026
