Shea 18

529 62 19
                                        

Pipi sebelah kanan Shea sekarang begitu panas karena tamparan keras itu, rasa asin juga ia rasakan di sudut bibir, mungkin darah.

“Beraninya kamu celakai anak saya!” teriak mamanya Yesi, dan sekali lagi Shea ditamparnya.

Shea gak mau nangis, tapi justru pengin ketawa. Rasa sakit di pipinya gak ada ada apa-apanya sama yang dia rasakan selama ini. Shea pengin ketawa karena merasa iri, Yesi begitu disayang sama mamanya gak seperti dirinya, mamanya Yesi gak mau anaknya disakitin.

“Shea! Minta maaf sekarang juga!” Seorang pria masuk dengan angkuhnya, tanpa peduli Shea mau ditampar atau gimana.

“Ngapain malah lo yang ke sini? Mana bokap sama nyokap gue?” tanya Shea kesal karena malah Jeffano yang mewakili mereka datang ke sekolah.

“Lo lupa? Mereka udah percayakan lo sama gue, ayo sekarang minta maaf!” perintah Jeff yang langsung membuat mata Shea memutar.

“Minta maaf, Shea!” teriak Jeff kini, matanya begitu tajam.

“Udah! Biarin aja! Adik kamu ini memang kurang ajar dan tidak berpendidikan, saya akan penjarakan dia,” tutup mamanya Yesi keluar dari ruangan ini, dia mengira Jeff ini kakak Shea dan Shea merasa begitu lucu.

“Lo dengar? Lo mau dipenjara!” Jeff mendekat dan mencengkeram rahang Shea.

“Gak peduli, gue gak peduli mendekam di penjara atau mati sekalipun juga!” Shea berlari sekuat mungkin dari koridor ini.

Kehadiran Jeff hanya menambah rasa sakitnya, mama papanya benar-benar gak peduli, Shea mati juga kayaknya gak peduli. Berlari menuju atap dengan melangkahi anak tangga begitu cepat.

“Shea!” Rupanya seseorang mengejar di belakang, Shea gak mau peduli siapa dia.

Dan masih berada di tangga sepi ini, orang itu berhasil menarik tangan dan tubuh Shea ke dalam pelukannya. Cewek itu gak berontak ataupun balas memeluk cowok ini, hanya menangis di dadanya.

“Shi, lo tenang, ya,” ujarnya berbisik dan mengusap kepala Shea.

Tangisan si cewek pecah sekarang, karena dia orang pertama yang memintanya tenang. Shea balas memeluknya lebih erat, meluapkan segala emosi di dekapannya lagi seperti hari kemarin, Jemian.

Lia, gue butuh Jemian lagi.

Mereka duduk bersebelahan di tangga menuju atap dan sepi itu. Jemian meminta Shea bercerita segalanya, dan Shea menolak.

Kejadian Papa Cakra kemarin cukup bikin dia malu sama Jemian, apalagi tentang papanya tadi pagi yang nganggap dia jalang, biar dirinya simpan buat sendiri percakapan antara papa sama dirinya tadi.

Yang akhirnya Shea bercerita tentang apa yang menjadi keinginannya. Pengin mama papanya perhatian, pengin dipeluk mereka, pengin dianggap berharga dan semuanya. Iya, semua tentang orang tuanya yang bikin dirinya gila sekarang ini.

“Na, kamu kasihan ya sama aku?” tanya Shea pelan nan lirih. Dia udah gak nangis lagi, cuma mata yang serasa berat aja.

“Kenapa lo bisa ngomong gitu?” Jemian melirik.

“Kalo bukan kasihan lalu apa? Kenapa kamu peduli sama aku?”

“Karena gue gak seharusnya tahu masalah keluarga lo, harusnya gue gak ada di sana dan tau tentang bokap lo kemarin. Jadi, gue gak bisa diam liat lo dalam masalah.” Jemian mengembuskan napas dan menatap lurus ke depan.

“Itu artinya kamu kasihan sama aku.” Shea gak hentinya menatap Jemian dari samping itu. Dia sadar gak kalo Shea masih suka sama dia?

“Terserah lo kalo mau nganggapnya gitu.”

Shea tersenyum aja mendengar jawabannya kali ini, dia emang kasihan sama Shea. Ya, Shea meyakini Jemian cuman kasihan itu lebih baik kan? Daripada kepedean dan meyakini Jemian juga masih menyimpan rasa buat dirinya.

“Maaf, Shi. Gue mau bahas ...” Ucapan Jemian menggantung. Shea menoleh cepat penasaran.

“Kak Theo,” lanjutnya.

“Lo tetap mau gue jadi pacarnya? Meskipun gue gak punya perasaan apa-apa sama dia?” tanya Shea tersenyum miris.

“Kak Theo nanyain lo terus, dia juga cerita akhir-akhir ini lo susah dihubungi.”

“Gue jarang pegang hape,” jawab Shea cepat, HPnya emang suka dimatiin.

“Coba buka hati lo buat Kak Theo, ya? Gue juga udah cerita tentang Jeff sama dia, Kak Theo gak bakalan kayak Arjun yang bakal langsung putusin lo setelah dilabrak sama Jeff.”

Seketika Shea tertawa mendengar ini, benar-benar tertawa. Ini bukan perihal Shea takut diputusin, tapi untuk sekarang bener-bener lelah yang namanya pacaran.

“Gue gak bisa bayangin masalah baru yang bakal muncul, tiap punya pacar ahh nggak, tiap deket sama cowok juga selalu nambah masalah baru. Kak Theo orangnya baik dan gue gak mau libatin dia ke dalam masalah, apalagi sama Jeff.” Shea menghela napas berat, udah cukup dia coba buka hatinya sama beberapa cowok ke belakang, dia gak mau pada akhirnya tetap kecewa. Iya, pacaran itu tidak guna.

“She,” lirih Jemian.

“Lagian gue ada satu cowok yang ternyata tetap menjadi yang spesial di hati gue, seorang di masa lalu gue dan keselnya makin ke sini perasaan gue rasanya makin dalam. Gue gak mau akhirnya malah manfaatin Kak Theo buat lupain dia, walau sebelumnya gue gak pernah sekalipun manfaatin pacar-pacar gue.” Shea dengan cepat berdiri setelah mengatakan itu, takut semakin terbawa hati, kalau orang yang dia omongin itu Jemian sendiri.

“Lo masih pengin balik sama mantan lo yang itu?” Jemian ikut berdiri.

“Nggak, dia udah bahagia sama ceweknya. Bahagia banget. Gue gak mungkin rusak dan rebut kebahagiaan itu,” jawab Shea senyum penuh arti menatapnya.

Lo udah bahagia sama sahabat gue.

Mencoba mencairkan hatinya yang tegang sendiri, Shea melirik sekeliling dan berkata, “Udah mau istirahat kayaknya. Makasih lo udah nemenin gue bolos lagi dan bikin suasana hati gue menjadi lebih baik. Mulai sekarang gue mau kita jaga jarak aja, lo gak usah peduliin gue lagi meskipun lo udah tau masalah keluarga gue sebobrok apa. Jangan samperin gue sehancur apa pun gue, gue bakal tetap baik-baik aja. Gue juga gak mau bikin Lia salah paham.”

Menelan ludah dengan kasar setelah mengatakan itu, karena rasanya tenggorokan Shea berat banget dan sama sekali tidak menatap Jemian lagi, dia gak nyangka bakal sesakit itu.

Ini yang terbaik, kan? Shea gak mau perasaannya malah semakin menjadi sama Jemian karena Jemian terus di dekatnya. Shea juga gak mau kehilangan sahabatnya Lia karena perasaannya itu.

“Shi.” Jemian menarik tangan cewek itu dan langsung ditepis.

“Ini terakhir kalinya kita bicara berdua kayak gini, ya?” Shea mencoba tetap tersenyum.
Langsung melangkah menuruni tangga dan menghapus air matanya.

Kok rasanya lebih menyesakkan daripada pas kita putus dulu? Ini lebih menyakitkan.
Kamu sadar kan, Na. Kalo mantan yang belum bisa gue lupain itu kamu.

Air mata Shea gak bisa berhenti keluar, terus mengusapnya kasar dan menuruni tangga, sampai akhirnya dia berpapasan dengan seseorang.

“Shea?” ucap pemuda itu yang terkejut, terbukti dengan matanya yang membulat. Dia Jenov.

“Jemian?” lanjut Jenov melihat ke belakang Shea.

Ah semoga ini tidak menyebabkan kesalahpahaman, karena Jenov jelas tahu kalau Jemian adalah mantan Shea sebelum jadian sama Jenov dulu.

tbc

Hollow BlissCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang