Shea 31

383 51 10
                                        

“Lo yakin gak mau lapor polisi?” tanya Lia yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.

Shea menggeleng. “Nggak, Li. Gue gak mau orang-orang tahu apa yang menimpa gue, lagian dia gak bener-bener ngerusak gue,” lirihnya meremas ujung piyama yang dia kenakan, bayangan Jeffano yang memaksa masih terus terekam jelas di kepalanya.

“Ya udah gue sekolah dulu, Jemian udah jemput tuh. Lo anggap aja di rumah sendiri, ya, mau makan mau apa juga,” ujar Lia berdiri dan bersiap keluar.

Namun, nyatanya Jemian masuk dan berhadapan dengan Lia di pintu.

“Gimana keadaan Shea?” tanya Jemian ke Lia dan dapat Shea denger jelas.

“Gapapa. Biar dia gak sekolah dulu, keadaannya gak memungkinkan,” bisik Lia dan masih Shea dengar. “Ayo berangkat,” lanjutnya.

Bukannya berangkat Jemian malah menghampiri dan duduk si samping gadis itu. Sebenarnya Shea gak enak sama Lia dengan sikap Jemian saat ini terhadapnya.

“Shi, lo udah makan?” tanya Jemian yang benar-benar membuatnya terkejut, dia lirik Lia pelan dan masih berdiri di ambang pintu memperhatikan yang tengah bersama Jemian.

“Udah, kok. Lo berangkat deh cepet,” jawab Shea tersenyum berusaha menunjukkan kalau dirinya gak sedih dan takut lagi.

“Kak Theo mau lo kabarin?” tanya Jemian tidak kehabisan pertanyaan.

Shea terdiam sejenak, Kak Theo statusnya pacarnya sekarang meskipun bohongan. Tapi ....

“Gue malu, Kak Theo juga pasti jijik sama gue,” lirihnya kembali menunduk.

Lia kembali dan lagi-lagi menggeser posisi Jemian. “Shi, Kak Theo harus tau. Kalo gak dikasih tau dia pasti marah besar sama lo sama kita-kita juga. Lagian Kak Jeff gak sampe ngerusak lo kan?”

Shea menunduk, gak siap ketemu Theo, merasa malu sama keadaannya sekarang.

Jemian bersuara, “Biar gue aja yang kasih tau, ya.” Dan Shea hanya mengangguk.

Sepeninggalnya Jemian dan Lia ke sekolah, Shea kembali ke kamar tamu. Biasanya dia kalau nginep di rumah Lia suka sekamar sama Lia tapi sekarang Lia nyuruh di kamar tamu, katanya mau kasih dirinya privasi soalnya gak tau sampai kapan Shea di sana. Baik banget ya Lia, Shea gak tega dia jahat banget karena diam-diam masih punya perasaan sama cowok yang kini jadi pacar Lia.

Shea berjalan ke arah meja rias dan bercermin, memperhatikan keadaannya yang berantakan banget. Mata dengan lingkaran hitam, bibir pucat, dan lehernya penuh sama bercak kemerahan, ah nggak, tapi seluruh tubuhnya, bibir juga bengkak.

Kok mama sama papa lihat keadaan gue kayak gini semalam gak merasa sedih, gak merasa sakit gue diginiin. Mama malah nyalahin gue, papa gak peduli. Gue ini anak mereka bukan?
Air mata tak terasa netes perlahan dan akhirnya semakin deras. Shea ambruk terduduk di lantai dan menangis tersedu. Menenggelamkan wajah di tengah lutut dan memeluknya. Hatinya sakit diperlakukan seperti itu oleh orang tua sendiri, oleh orang yang melahirkannya.

Cukup lama Shea nangis dan akhirnya mengangkat kepala setelah beberapa jam hanya menenggelamkan wajah. Sudah tengah hari dan dia melewatkan waktu sarapan. Segera bangkit berdiri karena mendengar suara dari luar kamar. Oh mungkin bundanya Lia udah pulang.

Hollow BlissTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang