Sore kedua di rumah Lia, Shea duduk di taman samping rumah Lia, bekas ulang tahunnya waktu itu. Dan bundanya Lia masih belum pulang, katanya mau menemani sisa akhir hidup neneknya Lia yang memang tengah sakit parah.
Shea tersenyum miris mengingat kedua orang tuanya, mereka beneran gak peduli, dia kabur juga gak ada yang nyari nyampe ke rumah Lia, kan? Iya, kalau peduli harusnya mereka sudah ada di sana buat jemput pulang.
Sebentar lagi mau senja dan anginnya begitu dingin menyentuh tubuh. Menaikkan kupluk hoodie yang dia kenakan, hoodie itu punya Lia Shea pinjam karena dia gak bawa.
Grep~
Seseorang memeluk Shea dari belakang.
“Kamu di sini,” lirih orang itu yang ternyata Jemian.
Shea mencoba melepaskan tangannya itu tapi ditahan, Jemian juga menenggelamkan dagunya di bahu Shea. Deg-degan sudah tentu, suka ya iya. Tapi Jemian saat ini kayaknya salah mengira kalau gadis yang dipeluknya itu Lia.
“Jem–”
Ucapan Shea gak bisa lanjut karena Jemian membalikan tubuhnya dan parahnya bibirnya menyentuh bibir Shea. Mata gadis itu terbelalak karena terkejut dan ia lihat Jemian memejamkan matanya dengan bibir bergerak lembut.
Deg deg deg deg~
Apa Jemian merasakan detakan jantung Shea yang tidak keruan ini? Shea gak tau apa yang terjadi sama dirinya, karena dia menyukai ciumannya. Padahal jelas-jelas dirinya benci sama cowok yang suka main nyosor sembarangan. Jeff dan Jenov, dua cowok yang udah nyium paksa dirinya, ia rasakan tidak semanis ciuman Jemian.
Kesadaran Shea kembali dan mendorong Jemian dengan keras.
Jemian tentu terkejut dan lebih terkejut lagi saat sadar kalau cewek yang dia cium itu adalah Shea.
“Shea!” pekiknya dengan wajah terkejut dan panik.
“Maaf, gue gak tau itu lo. Gue kira lo Lia.”
“Sumpah, maaf banget.”
Shea gak tau harus gimana sekarang atau harus ngomong apa sama Jemian. Rasa bersalah sama Lia juga mendominasi, akhirnya dia lari masuk ke dalam rumah dan berakhir masuk ke kamar tamu yang dia tempati. Tak berhenti di sana dia masuk ke kamar mandi, rasanya ingin mencari tempat yang aman.
Dia marah sama Jemian karena cowok itu ternyata sama kayak cowok lainnya. Shea salah sudah menilai Jemian yang sopan dalam memperlakukan perempuan, karena kebersamaannya sama Jemian dulu cuma satu bulan, pantes aja Jemian bilang ke dirinya gak berasa mereka mantanan.
Iya, Shea memang marah saat ini, tapi di sisi lain dirinya merasa terbang ke awan saat Jemian menciumnya barusan. Gak kayak pas Jeff yang cium, Shea gak menikmati apa-apa malah yang ada benci. Bukannya ini hanya menunjukkan kalau perasaannya ke Jemian itu nyata? Perbedaan perasaan ketika berciuman dengan orang yang dicinta dan bukan dengan orang yang dicinta.
Shea menjijikan, pengkhianat, gak tau diri, udah tiga cowok yang cium lo, dan bisa-bisanya menikmatinya saat si cowok itu pacar dari sahabat lo sendiri.
Makian untuk diri sendiri tiba-tiba muncul di telinga, meski Shea sadar itu suara hatinya sendiri dia tetap menutupi telinga dengan kedua tangan. Setelah kejadian Jeff hampir memperkosanya, suara itu selalu muncul, mengatakan kalau dirinya menjijikan.
. .
“Shi, lo gapapa? Lama banget dari tadi.” Lia mengetuk pintu dan akhirnya Shea keluar.
Sial, kenapa Jemian ikutan masuk.
Dia berdiri di samping Lia dan juga ikut menatap khawatir.
“Sorry, gue lama, ya?” Sang gadis mencoba cengir, ia merasa gak harus memberikan alasan detail perihal lama di toilet.
“Kak Theo ke sini,” bisik Lia pelan.
Shea mengangguk aja dan diam-diam tatapan matanya bertemu dengan Jemian, secepat kilat gadis itu buang muka.
Jemian mencium bibirnya karena mengira dia Lia, itu artinya Jemian dan Lia sudah terbiasa, kan?
“Shi, kamu gapapa?” Theo yang tengah duduk di sofa itu langsung berdiri begitu Shea keluar dan memeluknya erat.
Perasaan bersalah gadis mungil itu semakin besar kini, bukan karena perbuatan Jeff padanya yang hampir menodainya tapi perbuatan Jemian yang membuatnya berhasil berdebar. Salah, sangat salah! Meskipun Theo hanya berstatus pacar settingan tapi itu sama saja karena Theo sendiri memiliki perasaan padanya.
“Shea gapapa, Kak. Maaf bikin Kakak khawatir terus,” ujar Shea tersenyum tipis.
Percayalah, rasa sakit dan takut karena Jeff memaksanya perlahan tak Shea rasakan hanya karena ciuman Jemian yang salah sasaran, karena rasa bersalahnya pada Lia begitu mendominasi hatinya saat ini.
“Maaf gak ngabarin, hape Shea gak dinyala-nyalain,” ujar Shea dengan mereka kini duduk di sofa ruang tamu rumah Lia.
“Iya, aku ngerti, kok. Yang terpenting kamu baik-baik aja.” Sang pemuda menyelipkan anak rambut Shea ke belakang telinga.
Theo memang tidak melihat bahwa Shea baik-baik saja saat ini, wajahnya begitu murung dengan lingkaran hitam di area matanya, bibirnya yang pucat karena memang Shea tidak memiliki gairah hidup saat ini. Tentu Theo mengetahui apa yang menimpa gadisnya itu dari Jemian, tentang Jeff yang hampir merusaknya dan ketidakpedulian orang tuanya saat Shea mengadu dan meminta perlindungan.
Sakit, Theo ikut merasa sakit dengan apa yang dialami Shea. Ia peluk Shea kembali, merengkuhnya erat seakan tak ingin kehilangan.
“Maaf, aku baru bisa datang hari ini. Aku gak ada saat kamu terluka kemarin,” lirih Theo memejamkan matanya begitu kalimat-kalimat itu meluncur dari mulutnya, diciuminya pucuk kepala Shea berulang.
Jemian dan Lia yang melihat itu keduanya hanya sama-sama tersenyum sedikit merasa lega. Shea ada tempat untuk pulang dan bergantung, Shea dikelilingi orang yang tulus menyayangi meskipun tidak dipedulikan orang tuanya.
Sedangkan Shea yang diperlakukan seperti itu oleh Theo hatinya semakin merasa bersalah, Theo begitu tulus tetapi dirinya malah mempermainkannya, Shea yang hanya bisa menjadi pacar pura-pura Theo dan tidak mampu untuk membalas perasaannya yang sesungguhnya. Shea sangat jahat.
“Mulai sekarang kamu tinggal sama aku aja, ya?”
Shea langsung mendongakkan wajahnya menatap Theo terkejut. Tinggal bersama?
“Jemian bilang kamu mau tinggal di kostan dan minta bantu cariin, mending kamu tinggal sama aku aja di apartemen,” jelasnya menangkup wajah Shea.
“Tunggu!” Lia yang sedari tadi hanya diam kini menyela dengan cepat.
“Kok gue gak tau, Shi, lo mau pindah ke kostan? Kapan lo minta bantuan sama Jemian? Kenapa lo gak rundingan sama gue?” Runtutan pertanyaan Lia agaknya dia merasa tersinggung dan kesal sebagai sahabat baik tidak tahu soal sepenting itu, tapi pacarnya–Jemian bisa tahu.
Shea kebingungan untuk menjelaskan, ia tidak menyangka bahwa Jemian benar-benar melakukannya meski dengan hanya menceritakan kepada Theo.
“Gue kecewa, Shi, lo gak bicara dulu hal sepenting itu sama gue! Tapi lo malah minta bantuan langsung sama Jemian. Kapan kalian bicara berdua? Perasaan Jemian tiap bicara sama lo di rumah ini selalu ada gue.”
“Li, kok marah-marah, sih?” Jemian menggenggam tangan Lia tapi gadisnya itu menepisnya.
“Maaf, Li,” gumam Shea pada akhirnya dan melepas pelukan Theo.
Jemian yang sebenarnya panik kembali bersuara dengan beralasan, “Li, inget kan pas Shea datang ke rumah ini malam-malam? Kamu kan ngambil minum dan Shea bilang sambil nangis gak mau di rumahnya karena takut, ya udah aku bilang ke Kak Theo,” ujarnya begitu mulus, membuat Shea memejamkan mata lega tetapi juga sesak karena harus membohongi Lia. Mereka benar-benar tampak seperti memainkan permainan di belakang Lia.
Sementara Lia hanya diam saja, ia berusaha membuang pikiran buruknya tentang pacar dan sahabatnya itu memiliki hubungan di belakangnya, apalagi pas waktu Lia melihat Jemian memeluk Shea di malam itu.
“Shea mau di sini dulu aja nemenin Lia sampe bundanya Lia pulang, Kakak kalo memang bisa bantu cariin kostan yang murah aja selagi Shea tinggal di sini.”
Keputusan Shea memang sudah bulat untuk tidak tinggal di rumah orang tuanya lagi, gadis itu sudah bertekad tidak akan pulang sampai Cakra dan Airin mencari dan memintanya pulang.
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Hollow Bliss
Fanfiction[17+] Populer, cantik, kesepian. 🥀 Start : 10 Januari 2022 Finish : 11 Juli 2022 REPUB : Januari 2026
