Shea 4

740 80 24
                                        

Jenov Adrian Putra

Jenov Adrian Putra

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

​"Hai, She. Pulang bareng gue, yuk?" Jenov muncul dengan motor besarnya, berhenti tepat di depan Shea.

​"Gak usah, makasih," balas Shea acuh tak acuh sambil terus berjalan keluar gerbang sekolah.
​Ngenesnyagak punya pacar ya begini; Shea merasa terlihat sangat menyedihkan di mata mantan-mantannya. Ia merasa harga dirinya sedang diuji.

​"Serius lah, She. Ayo naik," paksa Jenov masih mengejar.

​"Gak mau. Nanti Yesi marah dan dendam lagi kalo gue pulang sama lo." Shea tetap cuek menuju halte. Baginya, lebih baik menunggu bus daripada harus berurusan lagi dengan Jenov dan drama pacar barunya.

​"Emang Yesi siapa gue? Udah lama putus juga," Jenov mengangkat kedua alisnya enteng. Shea tidak peduli mereka sudah putus atau belum, ia hanya ingin ketenangan.

​"She, gue duluan, ya. Bye!"

​Tiba-tiba Liana lewat di depan Shea dan dia dibonceng Jemian. Ternyata Jemian memang serius mendekati Lia sampai diantar pulang segala. Pemandangan itu seperti duri yang menusuk mata Shea.

Makin menyedihkan saja hidup gue. Pokoknya besok gue harus dapat gebetan baru! batin Shea konyol, menutupi rasa sesaknya.

​"Bengong aja lo, ayo pulang gue anterin." Suara Jenov membuyarkan lamunan Shea. Kali ini, entah karena lelah atau karena panas hati melihat Jemian dan Lia, Shea akhirnya naik ke motor Jenov tanpa protes lagi.

​"Pegangan, She," teriak Jenov dari balik helm.

​"Gak mau."

​"Bahaya kalo gak pegangan, lagian aneh kelihatannya."

​Mau tidak mau, Shea akhirnya melingkarkan tangannya di pinggang Jenov. Mood-nya benar-benar hancur setelah melihat Jemian tadi.

​"Jalan dulu, yuk." Jenov menepikan motornya di depan sebuah mal. Shea baru sadar Jenov tidak membawanya pulang ke rumah. Ia terlalu banyak melamun di sepanjang jalan.

​"Gue mau pulang, Jen. Gue lagi gak mood apa-apa," desis Shea kesal.

​"Bentar aja, ayo. Temenin beli hadiah buat Mama gue."

​Shea memutar bola mata malas, yakin itu hanya akal-akalan Jenov saja. Jenov langsung meraih tangan Shea, menggenggamnya erat. Shea sempat mencoba melepaskannya karena merasa risih.

​"Apa sih, Jen. Jangan pegang tangan gue," gerutu Shea. Namun Jenov justru mempererat genggamannya.

​"Kalo gak gue pegangin, nanti lo bisa kabur. Lagian gak ada yang marah, kan?" ujar Jenov acuh tak acuh. Dulu saat masih pacaran, Jenov memang se-pemaksa ini-hampir mirip dengan Jeffano.

​"She, kenapa sih? Lo gak semangat banget hari ini. Gue dari tadi nanya tapi lo diam terus. Lo sakit?" tanya Jenov khawatir. Ia berhenti melangkah, menangkup pipi Shea dan mengangkat wajah cewek itu agar menatapnya.

​"Makanya cepetan pulang, gue mau nangis kejer di rumah," jawab Shea lesu. Pikirannya masih tertuju pada Jemian dan Lia yang mungkin saat ini juga sedang pergi jalan-jalan.

​"Ada masalah? Cerita sama gue." Jenov menarik bahu Shea dan memeluknya erat. "Kalo mau nangis, nangis aja. Gue selalu ada buat lo."

​Diperlakukan seperti itu membuat hati Shea kembali teriris. Jenov memang selalu mengerti dirinya. Di antara semua mantan, Jenov adalah yang paling banyak memberikan kenangan manis dan kenyamanan, meski sifatnya agak dominan.

Shea pernah benar-benar mencintai cowok ini, sebelum semuanya hancur karena pengkhianatan Jenov dengan Yesi-sahabat Shea sendiri.

​Hari hampir petang saat motor Jenov akhirnya berhenti di depan rumah Shea. Shea turun dan melepas helmnya.

​"She," panggil Jenov. Ia ikut turun dan menggenggam kedua tangan Shea. Tatapannya berubah serius.

"Gue masih sayang sama lo. Gue pengen mengulang lagi kisah kita kayak dulu."

​Shea tersenyum pahit. "Jujur ya, Jen. Cuma lo mantan gue yang kasih banyak kenangan manis dan rasa nyaman. Tapi, lo juga yang kasih kenangan paling pahit. Gue paling gak bisa kalo cowok udah selingkuh. Gue udah maafin, tapi gue selalu terbayang pengkhianatan itu."

​Begitulah Shea; sekali disakiti secara mendalam, ia sulit untuk kembali.

​"Kasih gue kesempatan, gue bener-bener nyesel, She."

​Shea menggeleng perlahan. "Maaf."

​"Oh, jadi ini cowok yang berani jalan sama cewek gue?"

​Suara berat itu membuat Shea membeku. Jeffano keluar dari pintu gerbang rumahnya seolah dia adalah pemilik tempat itu.

​"Siapa lo?" tanya Jenov, aura galaknya keluar. Ia tidak takut meski masih berseragam SMA menghadapi Jeffano yang sudah mahasiswa.

​"Jen, mending lo pulang sekarang. Cepet!" Shea mendorong Jenov panik. Masalah besar akan datang.

​"Gue cowoknya Shea," jawab Jeffano menyebalkan.

​Shea menghampiri Jeffano dengan tatapan benci. "Kenapa sih lo senang banget ganggu gue? Kita udah putus lama!" ketus Shea, lalu melangkah masuk ke rumah tanpa peduli lagi pada mereka berdua.

​"Dari mana aja kamu? Dari tadi Jeff nungguin," sembur Airin sang mama begitu Shea masuk.

​"Apa peduli Shea? Dia bukan pacar Shea lagi," balas Shea tak acuh.

​Shea benci bagaimana Jeffano selalu memperalat mamanya. Airin lebih percaya pada Jeffano karena dianggap lebih dewasa, padahal kenyataannya dia sangat brengsek. Airin juga seolah lupa kalau dulu Jeffano sering menyelingkuhi Shea.

​Yang paling menyebalkan adalah semua orang-termasuk mamanya mengira Shea masih sayang pada Jeffano hanya karena mereka pacaran paling lama.

Mereka tidak tahu bahwa durasi tidak menentukan rasa. Jeffano mungkin yang terlama, tapi dia jugalah yang memberikan rasa sakit paling dalam. Sementara Jemian? Dia yang tersingkat, namun paling sulit untuk dilupakan.

tbc

Hollow BlissTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang