Shea 5

645 77 22
                                        

Di kantin, Shea dan Liana duduk berdua seperti biasa. Belakangan ini, Lia terlihat jauh lebih ceria, dan Shea tahu persis alasannya: Jemian. Tanpa perlu ditanya, Lia selalu menceritakan semuanya. Mereka sedang dalam tahap PDKT, kenyataan yang setiap hari membuat dada Shea terasa sesak.

​Lia adalah sahabat baiknya. Logikanya, Shea harus mendukung. Namun, hatinya menolak keras. Shea dipaksa belajar merelakan sesuatu yang sebenarnya belum benar-benar ia lepaskan.

​“Hai, aku boleh duduk di sini, kan?”

​Sosok yang sedari tadi memenuhi pikiran Shea tiba-tiba muncul. Jemian bergabung di meja mereka, membawa semangkuk bakso. Lia hanya mengangguk sambil tersenyum malu-malu, sementara Shea mendadak kaku. Tuhan, inilah ujian yang sebenarnya.

​“Hai, She. Apa kabar?” tanya Jemian sambil tersenyum ramah. Menatap matanya, Shea tahu Jemian benar-benar sudah biasa saja. Tidak ada sisa debar atau kecanggungan mantan kekasih di sana.

​Hati Shea terasa remuk lagi. Ditanya kabar oleh mantan yang masih sangat dicintai itu rasanya menyakitkan.

​“Baik,” jawab Shea singkat. Padahal hanya satu kata, tapi lidahnya terasa kelu. Di depan Jemian, Shea yang populer dan pandai bicara mendadak kikuk. Jantungnya berdegup melampaui batas normal.

​“Eh, Li. Bentar deh.”

​Gerakan Jemian tiba-tiba memaksa mata Shea untuk menyaksikan sebuah adegan yang menghancurkan perasaannya. Jemian mengambil selembar tisu, lalu mengarahkannya ke sudut bibir Lia dengan gerakan yang sangat hati-hati.

​“Maaf, ya,” ujar Jemian lembut sebelum menyeka noda di bibir Lia.

​Jemian memang sesopan itu. Dia selalu menghargai perempuan, tidak seperti kebanyakan cowok yang merasa bisa berbuat sesukanya setelah mengklaim seseorang sebagai pacar. Kesopanan itulah yang membuat Shea gagal move on. Tapi ironisnya, Jemian sedang bersikap tidak sopan pada hati Shea dengan mematahkan harapannya tepat di depan mata.

​“Eh, She. Lo sekarang jomblo, kan?” tanya Jemian tiba-tiba.

​Shea tersedak ludahnya sendiri karena kaget. “Kenapa emang?”

​“Shea baru diputusin Ajie si adkel kemarin,” sela Lia sambil tertawa kecil. Shea langsung melotot ke arah sahabatnya. Malu-maluin. Sudah diputusin, oleh adik kelas pula.

​“Seriusan?” Jemian membelalak, lalu ikut terkekeh. “Gue gak tahu deh kriteria lo itu sebenarnya kayak gimana, She. Dilihat-lihat kok macam-macam ya, semua karakter kayaknya pernah lo pacarin.”

Kriteria gue itu lo, Jem! Shea ingin sekali berteriak seperti itu di depan wajahnya.

​“Sepupu gue ada yang mau kenalan sama lo. Dia pernah lihat lo pas lagi sama Lia di Cafe Joy, dan dia tertarik,” jelas Jemian.

​Ternyata itu maksudnya. Jemian bertanya statusnya hanya untuk mencomblangkan Shea dengan orang lain.

​“Waktu itu gue sama sepupu gue ada di sana juga. Mau gue kenalin langsung gak enak, soalnya lo masih pacarnya Jenov.”

​Mendengar nama Jenov disebut, Shea teringat garis waktunya. Itu artinya, tak lama setelah putus dari Jemian, Shea langsung lari ke pelukan Jenov.

​“Eh, tunggu.” Lia menyela. “Waktu itu kamu perhatiin aku apa perhatiin Shea?”

​Shea tertegun. Lia berani sekali bertanya seperti itu. Dan perhatikan bahasanya; mereka bahkan belum jadian tapi sudah memakai panggilan 'aku-kamu'.

​“Eh? Dua-duanya, sih. Gue perhatiin kalian berdua,” jawab Jemian salah tingkah sambil mengusap tengkuknya.

​Jawaban itu seperti godam bagi Shea. Jangan-jangan Jemian sudah naksir Lia sejak Shea masih menjadi pacarnya? Sakitnya luar biasa.

​“Jadi, gimana, She? Lo mau kenalan? Dia mahasiswa lho, udah kuliah. Bisa jadi temen dulu,” bujuk Jemian lagi.

​Liana tiba-tiba memekik nyaring. “Nah, mahasiswa! Bagus tuh, bisa jadi lawannya Kak Jeff!”

​“Apaan sih bawa-bawa Jeffano,” gerutu Shea, mood-nya hancur seketika.

​“Siapa Jeffano?” tanya Jemian bingung.

​“Mantan Shea yang paling lama. Pacaran hampir setahun lho,” jelas Lia semangat.

​“Gak usah diperjelas kali, Li!” Shea benar-benar berang. Ia benci Jemian tahu soal Jeffano.

​“Lo beneran bisa selama itu pacaran, She? Lo pasti sayang banget sama cowok yang namanya Jeffano itu, ya?” simpul Jemian, memberikan asumsi paling menyebalkan yang pernah Shea dengar.

​Jemian sama seperti orang lain; mengukur rasa cinta dari durasi hubungan. Mereka tidak tahu bahwa Shea terjebak dalam hubungan toxic di mana Jeffano menolak untuk putus.

​Shea menatap Jemian dengan nada ketus yang tidak bisa disembunyikan lagi.

“Nggak! Belum tentu pacaran terlama itu karena cinta mati. Dan belum tentu juga pacaran tersingkat itu karena gak cinta dan gampang dilupakan!”

​Setelah mengatakan itu, Shea langsung berdiri dan pergi meninggalkan mereka. Ia berharap Jemian cukup peka untuk mengerti bahwa kalimat terakhirnya ditujukan untuk cowok itu.

​Shea menyesal. Dulu ia memutuskan Jemian hanya karena ego dan kesalahpahaman. Saat itu ia hanya merajuk, ingin dikejar, ingin dipertahankan. Tapi Jemian yang terlalu sopan justru mengiyakan permintaannya karena mengira itulah kebahagiaan Shea.

​Lalu Jenov datang di saat yang tepat, menawarkan kenyamanan yang Shea butuhkan untuk membalas dendam pada rasa sakitnya sendiri. Namun sekarang Shea sadar; melupakan Jemian tidak pernah segampang melupakan mantan-mantannya yang lain.

tbc

Hollow BlissTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang