Shea 6

577 66 18
                                        

Setelah keluar dari kantin, Shea tersentak menyadari ucapannya pada Jemian tadi. Ia lupa di sana ada Liana. Bagaimana kalau Lia mengerti maksud tersiratnya? Tentang sosok mantan tersingkat yang sebenarnya adalah Jemian sendiri. Rasa waswas mulai merayapi benaknya.

​Atensi Shea tiba-tiba teralih saat melihat Jenov dan gengnya sedang bersandar santai di dinding koridor. Tanpa pikir panjang, Shea langsung menghampiri mereka dengan raut khawatir.

​"Jen!" panggilnya langsung.

​"She? Kenapa? Kok panik gitu?" Jenov menegakkan tubuhnya, berhadapan langsung dengan Shea.

​"Lo gapapa, kan? Jeffano gak ngapa-ngapain lo kan?" tanya Shea bertubi-tubi. Tanpa sadar, jemarinya menyentuh rahang tegas Jenov, memeriksa apakah ada luka atau lebam di sana.

​"Ekhem! Kayaknya gue nyium bau-bau CLBK nih," gumam salah satu teman Jenov, disusul kikikan anggota geng yang lain. Shea tidak peduli. Fokusnya hanya pada keselamatan Jenov.

​"Gue gapapa, She. Gak ada yang sakit kok." Jenov menggeleng pelan, lalu menahan tangan Shea yang masih menempel di wajahnya.

​Shea tersadar. Kenapa ia harus seberlebihan ini mengkhawatirkan Jenov? Ia hanya takut Jeffano kembali berbuat nekat dan menghajar cowok-cowok di sekitarnya.

Shea ingin menarik tangannya, tapi Jenov menahannya kuat. Mereka saling bertatapan dalam diam, membuat teman-teman Jenov kembali heboh.

​"She, gue gak tahu kalo lo udah punya pacar lagi dan seserius itu sama dia," lirih Jenov, suaranya terdengar sangat dalam.

​Kening Shea mengernyit. Perasaannya mulai tidak enak. "Maksud lo?"

​"Ya, cowok lo yang kemarin itu. Jeffano. Gue gak tahu apa masalah kalian sampai bikin lo murung banget waktu jalan sama gue tempo hari."

​"Anj*ng!" teriak Shea sambil memukul dada Jenov keras. Jeffano benar-benar telah meracuni pikiran semua orang.

​"Wush! Cantik-cantik mulutnya kasar banget," gumam teman Jenov yang terkejut.

​"Terserah! Terserah kalian!" Shea berteriak nyaring, matanya mulai memanas. "Kalo lo mau ikutan kayak orang-orang, yang menganggap gue cuma cinta sama Jeffano dan gak bisa lupain dia, silakan! Gue capek!"

​Shea ingin menangis saat itu juga. Ia kecewa karena bahkan Jenov, yang ia pikir paling mengerti dirinya, ternyata termakan provokasi Jeffano. "Gue pikir lo gak bakal kena racun omongannya Jeff, Jen!" Nada bicara Shea melemah sebelum ia akhirnya memutuskan untuk lari dari sana.

​Shea butuh menyendiri. Ia lari ke atap sekolah dan menangis sejadi-jadinya di sana. Ia tidak menangis karena patah hati pada Jenov. Ia menangis karena benci pada Jeffano. Sangat benci.

​Sebelum mengenal Jeffano, hidupnya baik-baik saja. Namun sekarang, siapa pun yang mendekatinya akan dilabrak. Jeffano menyebarkan doktrin bahwa Shea adalah milik sahnya dan Shea cinta mati padanya. Lebih parah lagi, Jeffano memperalat keluarga Shea, membuat Airin mamanya Shea ikut mengekang Shea.

​Jeffano itu munafik. Dia punya banyak selingkuhan, tapi menolak putus dari Shea. Hingga detik ini, Jeffano masih mengklaim Shea sebagai pacarnya hanya karena mendapat dukungan penuh dari Airin yang abai pada perasaan anaknya sendiri.

​"Jeffano biadab! Gue benci!" teriak Shea sekeras-kerasnya ke arah langit. Suaranya menjadi raungan pilu.

​"Jemian..." lirih Shea pelan, nyaris tak terdengar. Mengapa di saat seperti ini, justru nama itu yang muncul? Nama cowok yang kini menjadi milik sahabatnya sendiri.

​"Hei, hei! Jangan bunuh diri!" Teriak seseorang mengejutkan Shea.

​Shea menoleh dan mendapati Ajie berlari menghampirinya.

​"Kak Shea, jangan lompat! Aku mohon, Kak!" Ajie langsung memeluk Shea erat. Suaranya parau, seolah cowok itu hampir menangis.

​"Siapa yang mau lompat? Gue gak mau bunuh diri," ujar Shea bingung, masih mematung dalam dekapan Ajie.

​Perlahan, Ajie melepaskan pelukannya. Ia menatap Shea, lalu mengusap air mata di pipi kakak kelasnya itu. "Mata Kakak sembab. Kalo ke kelas sekarang, kelihatan banget habis nangis."

​Ajie dengan telaten menghapus sisa air mata Shea yang masih mengalir. "Sedari tadi aku lihat Kakak di sini, sebut-sebut nama Jeffano."

​Mata Shea membelalak. Ia segera mundur menjauh, mengusap wajahnya dengan kasar karena malu.

"Makasih, Jie, sudah peduli sama gue." Shea hendak melangkah pergi, tapi Ajie menahan lengannya.

​"Kak," panggilnya pelan. "Waktu aku ngajak jadian, aku tulus punya perasaan sama Kakak. Tapi Kakak sepertinya nggak."

​Shea menghela napas panjang. "Gue gak pernah terima cowok dengan niat main-main, Jie. Gue memang sering 'mencoba', tapi bukan untuk pelarian atau memanfaatkan orang."

​Shea menatap Ajie lekat-lekat. "Dan kalo lo beneran sayang sama gue, harusnya lo jangan putusin gue. Jangan percaya kata-kata Jeffano. Status dia cuma mantan. Sekalipun gue masih punya rasa sama cowok lain, harusnya lo jadiin itu kesempatan buat bikin hati gue sepenuhnya jadi milik lo."

​Shea tidak bermaksud memberi petuah, tapi itulah kenyataannya.

"Gue pergi dulu. Makasih ya sudah hapusin air mata gue." Shea menepuk bahu Ajie pelan lalu beranjak pergi, meninggalkan adik kelasnya itu yang terpaku diam.

​Kepala Shea terasa berdenyut nyeri. Efek terlalu lama menangis di bawah terik matahari mulai terasa. Ia harus mencuci muka sebelum masuk ke kelas. Namun, saat ia baru saja membuka pintu toilet...

BYUR!

​Sekujur tubuh Shea basah kuyup. Sebuah ember berisi air jatuh tepat di atas kepalanya. Seseorang telah menjebaknya.

​"Uuuu, lihat deh siapa yang habis nangis."
​Yesi berdiri menyandar di dinding dengan tangan bersedekap, tersenyum puas.

​"Lo!" desis Shea geram. Tubuhnya mulai menggigil kedinginan.

​"Kasihan. Nempelin Jenov lagi karena pengen balikan tapi ditolak, ya?" cibir Yesi dengan tawa meremehkan. Yesi pasti melihat kejadian dengan Jenov tadi dan menyimpulkannya secara sepihak.

​"Gak tau apa-apa gak usah bacot lo!" Shea benar-benar tidak punya tenaga untuk meladeni Yesi. Pusing di kepalanya semakin hebat, pandangannya mulai berkunang-kunang.

BRUK!

​Kesadaran Shea hilang seketika saat tubuhnya ambruk ke lantai toilet yang dingin.

tbc

Hollow BlissTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang