Shea 27

394 48 23
                                        

“Mama ....” Shea sesenggukan menangis, merindukan semasa kecilnya yang begitu manis dengan sang mama. Karena hanya waktu Shea kecil lah Airin ada untuk memeluk dan mengatakan sayang untuknya. Tempat Shea berkeluh kesah dan menceritakan semua kesedihannya, tempat yang sekarang sudah berubah.

“She, Shea. Kamu di mana?” Di sisi lain Theo terus mencari Shea hingga sampailah ke belakang rumah Lia.

Dada laki-laki itu kemudian berdetak tak keruan, melihat gadis yang dicarinya ia dapati tengah sesenggukan seorang diri.

“Ya ampun, Shi. Kamu kenapa? Aku khawatir banget." Theo dengan cepat menghampiri gadis itu, menariknya ke dalam pelukannya dengan posisi dia membungkuk.

Shea berdiri dan malah menangis sejadi-jadinya di pelukan Theo.

“Kak, Shea gak bisa jadi pacar kakak,” ucapnya tiba-tiba.

“Kamu gak diapa-apain kan sama Jenov?” Theo sama sekali tak mempedulikan ucapan Shea, yang dia khawatirkan sekarang adalah keadaan gadis itu.

“Kak, Shea ini cewek gak bener. Gak pantes buat kakak.” Shea terisak lagi, sungguh dengan mendengar Shea yang terluka dan sakit seperti itu hati Theo ikut terluka.

“Sekarang kamu tenang dulu, ya? Kamu bisa cerita nanti.” Theo mengusap lembut air mata Shea dan merapikan rambut juga baju yang dikenakan Shea.

Theo juga membuka jasnya dan menyampirkannya ke bahu Shea yang kini mulai berhenti menangis.

“Kamu kedinginan, sekarang kita balik ke pesta, ya? Lia tadi mau tiup lilin tapi nyari kamu dulu.” Shea tersentak mendengarnya. Inilah yang dia takutkan, membuat kacau ulang tahun Lia.

Dan akhirnya Shea pun segera kembali dengan punggung yang dirangkul Theo. Ayolah saat ini Theo bukan bersikap sok romantis dan manis, dia hanya ingin melindungi gadisnya saat ini.

Sesampainya di kerumunan ada satu yang menarik perhatian Shea, yaitu Jenov yang tengah digandeng Yesi. Ya, ternyata Jenov bisa ada di pesta Lia karena menemani Yesi. Yesi itu teman sekelas Lia dan tanpa kecuali teman sekelas diundang semua.

Lia sudah meniup lilin dan tengah memotong kuenya. Potongan kue pertama yang tentu saja diberikan pada Jemian, tak hanya itu, Lia juga menyuapi Jemian membuat semua yang di sana melihatnya iri.

“Selamat ulang tahun, Sayang,” lirih Jemian dengan mesranya dan langsung mencium kening Lia sangat lama. Sontak saja perlakuan Jemian ke Lia itu mendapat sorakan dari semua orang di sana, membuat Lia akhirnya tersenyum malu-malu.

“Eh, Shea!” teriak Lia begitu matanya menangkap sosok Shea yang dibalut jasnya Theo. “Sorry, ya, gue tiup lilin tanpa lo. Jemian nih yang nyuruh cepat-cepat tiup lilinnya.” Lia memberengut menunjuk Jemian.

“Gapapa lagi,” balas Shea mencoba tersenyum manis.

Ya, Shea sudah jadi sorotan semua mata sekarang, termasuk Jemian sendiri. Jemian tak hentinya memandangi Shea dengan khawatir, dan tatapan Jemian ke Shea itu ditangkap oleh Jenov. Membuat Jenov tersenyum sinis melihatnya, ia tak bisa percaya begitu saja bahwa Jemian dan Shea tidak ada apa-apa.

“Li, Shea gak enak badan katanya. Boleh ya dia istirahat aja di dalam?” Kini Theo yang bersuara, sedari tadi tangan Theo tak lepas dari punggung Shea, memeluknya.

“Oh iya, istirahat aja di kamar gue, ya?” balas Lia yang khawatir menepuk bahu Shea. “Gue tau dari tadi lo kecapean banget, mana bantuin dekor lagi.”

“Lanjutin ya, Li, Jaem, pestanya. Jangan pikirin gue, gue ada yang jagain Kak Theo,” ujar Shea tersenyum lembut, senyuman yang sebenarnya sangat menyebalkan bagi semua tamu undangan, jelas beberapa orang juga kini mulai berbisik-bisik membicarakan Shea.

Dan tanpa satu orangpun sadari ada seorang cowok asing yang memandangi Shea lekat sedari tadi.

Shea, kamu apa kabar? Lama gak ketemu.

“Sok-sokan bilang sakit padahal pengin berduaan tuh pasti, najis banget,” gumam si gadis di samping pemuda barusan.

“Hush, Yeril.” Peringat cowok itu gak suka.

“Apa, sih, Mark! Kamu gak tau aja kelakuan cewek itu gimana,” keluh Yeril gak suka Marko pacarnya itu mengganggu kejulidannya.

“Emang kenapa kelakuannya?”

“Dia itu playgirl parah, pacarnya banyak, ganti terus, di sekolah aja ketua osis sama kapten basket itu dia pacarin. Pokoknya parah banget. Tadi pagi dia ke sekolah dianterin cowoknya yang udah mahasiswa sampe nekat ciuman di depan gerbang sekolah, nah sekarang ganti lagi nih cowoknya bukan yang tadi pagi. Gak taulah kenapa Lia masih mau temenan sama dia.”

Marko terdiam mendengar penjelasan pacarnya. Shea seperti itu? Tidak mungkin. Dulu ia cukup mengenal Shea dengan baik.

“Tuh si Jemian! Pacarnya Lia, dia tuh mantannya juga, cowok di sana juga tuh!” Sekarang Yeril menunjuk Arjun yang lagi nyender ke pohon palem makan cake.

“Banyak deh gak tau siapa aja, aku gak kenal sama tu cewek, soalnya dia jauh dari prestasi! Dia terkenal di sekolah karena kelakuan bobroknya.” Yeril melipat tangannya di dada.

“Jauh dari prestasi?” Marko terkejut, karena dulu Shea itu selalu meraih juara kelas dan banyak prestasi yang ia raih.

Ada apa dengannya? Gelisah Marko, cinta pertamanya Shea sekaligus teman semasa kecilnya.

~

Di sisi lain Shea sama Theo yang baru sampai ke ruang tamu segera duduk, mereka gak mau di kamar Lia karena tentu gak baik berduaan di kamar, pikir mereka.

“Kak, Shea minta maaf.” Gadis itu membuka pembicaraan.

Theo yang tahu arah pembicaraan ini tersenyum. “Karena Jenov? Kamu masih suka sama dia?” tebaknya yang benar-benar konyol.

Shea menggeleng. “Shea gak pantes buat kakak, Shea bukan cewek baik-baik.”

Theo kembali tersenyum dan mengusap kepala Shea. “Aku ingin jadi tempat berlindung kamu, She. Tempat kamu berkeluh kesah dan cerita. Aku ingin selalu ada di setiap kamu butuh dan terluka. Aku ingin kamu selalu tersenyum, aku ingin bahagiain kamu.”

“Kak–”

“Aku gak akan peduli apa yang orang bilang tentang kamu.”

“Kakak gak tau aja tadi di sekolahan–”

“Aku tau!” potong Theo lagi. “Aku tau masalah foto di mading itu, aku tahu masalah kamu sama Jeffano. Karena itu aku gak bisa nyerah gitu aja meskipun aku tahu hati kamu belum buat aku.”
Shea terkejut mendengar semua itu, tangannya bergetar karena mengingat Jeffano. Ia takut Theo terluka karena Jeffano.

“Jemian udah cerita semuanya,” jelas Theo membuat perasaan Shea gak keruan sekarang ini.

“Jemian cerita tentang keluarga Shea?” tanya Shea pelan, mendadak merasa malu sama Theo karena keluarganya.

Theo menggeleng. “Tentang keluarga kamu nggak, cuma tentang Jeffano.”

“Ayo, She. Aku siap lindungin kamu dari Jeffano.” Theo menyentuh pundak Shea dan menatap penuh harapan.

“Aku gak bisa, Kak, aku gak mau manfaatin kakak.” Gadis itu semakin menunduk dalam tidak kuasa melihat tatapan mata Theo, dia tidak akan bisa menolak jika harus bertatapan seperti itu.

“Aku gak punya perasaan apa-apa sama kakak.”

“Aku gak minta kamu balas perasaanku sekarang, Shi.”

“Kak.” Suara Shea hampir habis, ia lelah dan menyerah dengan semuanya.

“Kalau gitu kita pura-pura pacaran.” Shea langsung tercekat mendengar hal gila dari Theo.

“Kali ini gak ada penolakan. Sekarang di depan siapapun kita pacaran, termasuk di depan Jemian dan Liana!”

tbc

Hollow BlissTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang