Kehidupan Shea tambah pusing sekarang. Emang bener, deket sama satu cowok satu masalah nambah, deket dua cowok ya dua masalah yang nambah.
Ini pagi buta, gadis itu turun dari motor Theo di depan gerbang rumah. Semalam dia ketiduran di sofa ruang tamu Lia setelah menceritakan banyak hal bersama Theo. Dan sekarang dia harus pulang karena harus sekolah.
“Aku anterin ke dalam, ya. Biar aku bicara sama orang tua kamu.” Theo ikut turun dan udah siap banget buat buka pintu gerbang.
Shea langsung menggeleng dengan mata melebar, langsung menahan tangannya juga agar tidak melanjutkan langkah.
“Nggak, Kak. Jangan sekarang.” Shea sedikit mendorong tubuh cowok itu.
“Shea mohon!” lanjutnya memelas, Shea yakin masalah bakal tambah banyak kalau Theo nganterin ke rumah.
“Biar kamu gak dimarahin semalaman gak pulang.”
“Mama papa gak pernah marah sama Shea, mau pulang jam berapa juga gak pernah marah.”
“She,” lirih Theo memegang tangan Shea.
Shea mengangguk meyakinkan. Iya, memang kenyataannya mama papanya gak pernah marah dan khawatirin dirinya. Akhirnya Theo tampak pasrah aja dan perlahan tersenyum dan mengacak pucuk kepala Shea.
Gadis itu masuk ke rumah seperti biasanya dengan kunci cadangan yang selalu dia bawa ke mana-mana. Dia sekarang cuma harus mandi dan berangkat sekolah lagi.
Apa-apaan ini! Shea terkejut banget dengan apa yang dia lihat sekarang. Di tempat tidurnya ada Jeffano lagi tidur yang kelihatannya nyenyak banget.
Shea cuma bisa mengepalkan tangan erat dan berjalan ke meja belajar buat ganti buku yang mau dibawa sekarang dan mengambil seragam ke lemari. Shea mau mandi di kamar mandi tamu. Dia gak boleh membuat Jeffano terbangun.
Lega banget, sekarang Shea udah selesai mandi dan udah siap buat berangkat sekolah meskipun masih kepagian.
“Shea!” Gadis itu langsung menghela napas berat mendengar suara ini, tidak mau meliriknya sedikitpun.
“Ternyata bener kamu udah pulang.” Jeffano menghampiri.
“Gue mau berangkat lagi,” ujar Shea datar dan kembali melangkah, sama sekali tidak mau menoleh ke arahnya.
Tangan Jeffano menahan dan menarik tangan Shea sekarang.
“Siapa cowok yang semalam sama lo?” tanya Jeffano tajam.
“Apaan sih, gue semalam di rumah Lia,” balas Shea masih acuh dan mencoba melanjutkan langkah tapi cengkraman tangan Jeffano erat banget.
“Kak, sakit!” Mencoba melepaskan.
“Gue tau lo di rumah Lia, dan lo pasti sama cowok di sana, kan? Asal lo tau aja, gue semalam nyusulin lo ke sana tapi security rumah Lia gak bolehin gue masuk. Anjing ketat banget penjaganya.”
Mata Shea membulat. Jeffano ke rumah Lia? Hampir aja dia bikin kekacauan.
“Ya udah, sekarang lepasin gue!” Shea narik tangan lagi dan malah semakin sakit.
“Sepagi ini? Baru setengah enam, Shi. Lo juga harus sarapan.”
“Gue bilang lepas! Kok lo makin ngelunjak sekarang? Pasti karena uang itu, kan? Lagian kenapa gak biarin gue dipenjara aja, sih! Gue capek dikekang terus sama lo! Gue tertekan, Kak!” Shea nangis lagi, sebenarnya dia benci tiap dirinya nangis karena lemah gak bisa apa-apa, gak bisa meminta pertolongan dari orang tua sendiri.
“Shea!” Mama Airin yang baru bangun tidur menuruni tangga dengan wajah dinginnya.
“Pergi pagi pulang pagi, kayak pelacur aja kamu!” sarkasnya yang lagi-lagi menyakiti hati. “Jeff semalaman khawatirin kamu!”
KAMU SEDANG MEMBACA
Hollow Bliss
Fanfiction[17+] Populer, cantik, kesepian. 🥀 Start : 10 Januari 2022 Finish : 11 Juli 2022 REPUB : Januari 2026
