Part 2

1.9K 135 13
                                        

Krist terbangun dari tidurnya saat mendengar suara bell berbunyi, ia melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 15:25, krist bangkit dari tidurnya sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.

Ia melihat ke sampingnya, Singto masih terlelap dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Ponsel Krist berdering membuatnya harus beranjak dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, ia melihat ada nama Apple di layar ponsel tersebut.

"Iya, sayang?" Ucap Krist, setelah ia mengangkat panggilan Apple.

"Aku di depan rumah mu, Krist! Bukakan aku pintu cepat!!" Ucap Apple.

"Apa kamu yang memencet bell itu?" Ucap Krist terkejut.

"Hmm, cepat keluar!?" Ucap Apple.

Krist langsung mematikan panggilannya, ia panik karna tak biasanya Apple ke rumahnya tanpa memberi kabar lebih dulu.

"Sing.... Singto...." Ucap Krist sembari mengguncang tubuh Singto agar terbangun dari tidurnya.

Singto membuka matanya karna terganggu oleh Krist.

"Jangan keluar dari kamar, ada Apple di depan." Ucap Krist.

"Iya..." Jawab Singto seadanya.

Krist langsung beranjak dari ranjang dan memakai pakaiannya, ia melihat penampilannya di cermin memastikan jika tak ada apa-apa di tubuhnya kemudian keluar dari kamar, beruntung setiap berhubungan badan Krist selalu melarang Singto untuk memberinya kiss mark di tubuhnya, Krist hanya takut kejadian seperti ini akan terjadi dan ia pasti akan ketahuan.

Mungkin karna sudah terbiasa selama 8 tahun seperti itu membuat Singto hapal dan tak memberi tanda di tubuh Krist, semalam dia ingin memberi kiss mark di leher Krist, mengklaim Krist hanya miliknya namun Singto takut Krist akan marah besar padanya. Mengingat dulu dia pernah memberi tanda merah di dada Krist dan setelahnya Krist marah besar padanya bahkan sampai mengucapkan kata putus, menurut Krist kiss mark di saat berhubungan badan adalah tanda kepemilikan dan dirinya bukan milik Singto itu sebabnya ia tak mau Singto memberi kiss mark di tubuhnya.

Saat ini Singto tengah berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap pantulan dirinya memperhatikan tubuhnya, banyak kiss mark di leher, dada, perut bahkan hingga ke pangkal pahanya, Krist seganas itu semalam, Singto bahkan masih mengingat jelas saat Krist mendominasi dirinya membuat tubuhnya merasakan nikmat yang tidak tara, membolak-balik tubuhnya berganti posisi, dari menelungkup, menungging, terlentang, miring, Singto di atas bahkan mereka dengan berani melakukan public seks di balkon kamar, puas di balkon Krist menggendong Singto membawanya ke depan cermin yang besar membuat Singto dapat melihat wajah tampan Krist yang menusuk dirinya dari belakang.

Sudah terhitung 8 tahun semua berlalu, tak ada kata bosan dari Singto untuk Krist, bahkan rasa cintanya semakin besar, ia rela menjadi yang kedua untuk selama-lamanya, ia rela menjalin hubungan seperti ini, ia sangat rela selalu sembunyi di saat Apple yang tiba-tiba menghampiri Krist atau di saat mereka melakukan seks Apple yang tiba-tiba menelpon Krist.

Padahal tak ada yang istimewa selama 8 tahun ini, mereka bahkan tak pernah berkencan di luar, mereka tak pernah makan bersama di luar, apa lagi liburan bersama, mereka tak pernah seperti itu, mereka hanya bertemu di hotel, di rumah Singto atau di rumah Krist seperti ini namun dengan bodohnya Singto masih mempertahankan itu semua, bisa di bilang mungkin mereka hanya partner seks? Krist seperti tak pernah menganggap dirinya kekasih.

Singto pernah mengajak Krist berkencan dan Krist tetap kekeuh tak mau keluar, Singto juga ingin merasakan yang namanya nonton bersama Krist di bioskop namun Krist malah mengatakan "jika kamu banyak menuntut seperti ini lebih baik kita putus!" Jadi semenjak hari itu Singto tak pernah lagi mengajak Krist berkencan di luar.

Bukan tanpa alasan Krist tak mau berkencan di luar dengan Singto, ia hanya tak mau mereka ketahuan oleh orang yang mengenal mereka atau lebih parahnya Apple sendiri yang melihat mereka, ia sangat mencintai Apple, Krist sangat tak mau Apple menjadi salah paham terhadapnya.

*Ceklek..... Bunyi pintu kamar mandi terbuka menyadarkan Singto dari lamunannya, ia melihat dari pantulan cermin Krist berjalan mendekat ke arahnya, Krist memeluk Singto dari belakang dan mencium bahunya.

Beruntung Apple hanya sebentar tadi, Apple hanya mengantar makan siang untuknya setelah itu Apple langsung pulang.

Krist meremas pantat bulat Singto sambil mencium tengkuk lehernya sedangkan Singto hanya diam menikmati permainan Krist.

"Aargghhh....." Desah Singto saat Krist memasukan dua jarinya ke dalam lubangnya, jari Krist mulai keluar masuk dengan perlahan, bibirnya menjelajahi setiap inci belakang Singto, menghisap dan melumatnya tanpa ada yang terlewat sedikit pun.

Singto menatap dirinya di cermin, melihat aktivitas Krist di belakangnya, gerakan tangan Krist semakin cepat, dua jari Krist menonjok prostat bengkaknya di dalam sana membuat tubuh Singto menggeliat dan bibirnya mendesah hebat

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Singto menatap dirinya di cermin, melihat aktivitas Krist di belakangnya, gerakan tangan Krist semakin cepat, dua jari Krist menonjok prostat bengkaknya di dalam sana membuat tubuh Singto menggeliat dan bibirnya mendesah hebat.

Krist mengeluarkan jarinya, ia membuka celananya, dan dalam satu kali hentakan penisnya tenggelam sempurna di lubang sempit Singto, Krist memaju mundurkan pinggangnya sedangkan tangannya menarik tangan Singto kebelakang, desahan mulai terdengar mengisi ruangan kamar mandi.

"Aahhh.... Ahhh... Ahhh"

"Krist... Nnhh..."

*Plok... Plok... Plokk... Plokkk.... Bunyi benturan kulit yang beradu.

Beberapa menit kemudian Singto memuntahkan cairannya ke lantai kamar mandi, Krist memberi Singto waktu untuk beristirahat sejenak, setelah beberapa menit Krist menggendong tubuh Singto membawanya ke ranjang.

Dan lagi hanya terdengar suara teriakan dan desahan di kamar itu, seprei kasur mulai terlepas dari tempatnya, bantal dan guling bertaburan di lantai, terlihat dua anak manusia masih melakukan pergulatan panas di atas kasur.

Sekarang sudah menunjukan pukul 19:00, Krist memesan makanan secara online untuk makan malam mereka. Terdengar suara bell berbunyi, Krist berjalan ke depan, mengambil makanan yang di pesannya tadi, ia memindahkan makanan itu ke dalam piring, ia juga mengambil segelas air putih kemudian membawanya ke kamar, Krist ingat Singto belum makan seharian ini karna Krist tak memberi Singto waktu untuk beristirahat walau hanya sebentar.

Krist masuk ke kamar, ia melihat Singto masih betah memejamkan matanya dengan selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya. Krist menyimpan nampan yang berisi makanan di atas nakas kemudian membangunkan Singto dari tidurnya, Singto membuka matanya dan bangkit dari tidurnya, ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dan menerima suapan dari Krist setidaknya Krist perhatian padanya dalam hal ini, lubangnya seperti terluka sekarang.

"Kamu ingin menginap disini atau langsung pulang?" Ucap Krist.

"Apa boleh aku menginap disini lagi?" Ucap Singto.

"Terserah kamu." Ucap Krist.

"Aku ingin menginap." Ucap Singto.

"Hmm..." Jawab Krist singkat.

Krist menyuapi Singto hingga makanannya habis setelah itu memberi Singto minum dan mengobati lubang Singto yang sedikit lecet karna ulahnya tadi.

Mulai besok mereka akan jarang bertemu karna keduanya sibuk berkerja, Krist menjadi CEO di perusahaannya sendiri sedangkan Singto menjadi sekertaris di perusahaan lain.



















Tbc.

Love Me PleaseWhere stories live. Discover now