Krist dan Singto menjalin hubungan selama 8 tahun lamanya. Namun, di dalam hubungan itu hanya ada cinta sepihak karna Krist tak pernah mencintai Singto.
Karna cintanya yang semakin hari semakin besar terhadap Krist membuat Singto nekat melakukan ha...
Singto menarik kopernya sembari menggandeng tangan anaknya, ia menatap sekitar bandara berharap menemukan taxi. Hari ini, Singto terpaksa harus kembali ke Thailand karna ia di mutasi oleh perusahaan tempat dia bekerja ke negaranya sendiri.
"Apa kita akan tinggal di negara ini, pa?" Tanya Fiat.
"Iya, papa lahir disini, nanti kita ke makam kakek dan nenek jika papa tak sibuk." Ucap Singto.
Setelah mendapatkan taxi, Singto terpaksa pulang ke rumah lamanya, Singto memang selalu menggunakan jasa home servis untuk membersihkan rumahnya setiap satu minggu sekali untuk berjaga-jaga jika dia ada keperluan di Thailand dan harus menginap, rumah itu juga rumah peninggalan orang tuanya, itu sebabnya Singto tak menjual rumahnya.
Singto dan Fiat keluar dari taxi dan sang sopir membantu menurunkan koper mereka. Singto bahkan masih mengingat dengan jelas kenangan dirinya dan Krist di rumah itu, air mata Singto menetes membasahi pipinya saat mereka masuk ke rumahnya.
"Kenapa papa menangis?" Ucap Fiat.
"Tidak, Fiat pasti lelah sebaiknya kita beristirahat sekarang." Ucap Singto.
Singto membawa Fiat ke kamarnya.
"Itu foto siapa, pa?" Tanya Fiat.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Singto melihat foto yang di tunjuk oleh Fiat, ia langsung mengambil foto tersebut dan menelungkupkan-nya.
"Hanya foto lama, rumah ini belum sempat papa bereskan sebelum papa meninggalkannya." Ucap Singto.
"Sekarang Fiat istirahat, besok Fiat sudah harus masuk sekolah di sekolah baru." Ucap Singto.
"Iya, pa." Ucap Fiat.
Fiat merebahkan tubuhnya di kasur sedangkan Singto membuang semua masa lalu yang masih tertinggal di rumahnya. . . . . Pagi hari menyapa, Singto bangun pagi untuk menyiapkan sarapan. Hari ini hari pertama Singto bekerja di kantor barunya dan hari pertama Fiat bersekolah di sekolah baru, ia tak ingin terlambat.
Setelah sarapan dan mempersiapkan Fiat untuk sekolah, Singto mengantar Fiat ke sekolah barunya lebih dulu, Singto hanya berharap Fiat tak di bully lagi di sekolah barunya.
"Fiat, jangan katakan kamu lahir dari perut papa agar kamu tak di bully lagi nanti." Ucap Singto, sebelum Fiat keluar dari mobilnya.
"Bohong itu tak baik, pa. Aku bangga punya papa, aku juga tak masalah jika di bully hanya karna hal sepele itu." Ucap Fiat.
"Apa perlu papa antar masuk ke dalam?" Tanya Singto.
"Tidak perlu, pa. Aku sudah besar." Ucap Fiat.
"Baiklah, papa berangkat bekerja, Fiat harus pintar di sekolah." Ucap Singto.
"Siap." Ucap Fiat.
Setelah mobil Singto pergi, Fiat menatap sekolah barunya, sejujurnya ia takut akan di bully lagi, namun ia tetap melangkahkan kakinya untuk masuk ke halaman sekolah.