Satu bulan telah berlalu~
Krist menggandeng tangan Singto memasuki sebuah gedung mewah, disana sudah ada banyak tamu undangan, rekan kerja mereka, rekan bisnis orang tua Krist, dan teman-teman mereka.
Setelah meminta ijin kepada Fiat untuk menikahi Singto, Krist langsung mempertemukan Singto dengan kedua orang tuanya, tanpa ingin mengulur waktu lagi Krist juga langsung menyiapkan pernikahan mereka, dan tepatnya hari ini adalah hari pernikahan mereka, gedung besar nan megah di hias semewah mungkin.
Krist tersenyum menatap Fiat yang berdiri di dekat kedua orang tuanya, Krist dan Singto berjalan mendekat ke arah Fiat, Krist berjongkok menyamakan posisi dirinya dan Fiat.
"Terima kasih, daddy berjanji akan menjaga kalian dan akan selalu membuat kalian bahagia." Ucap Krist.
Fiat hanya diam, dia tak sepenuhnya memberi restu kepada Krist.
Krist dan Singto berjalan menuju pendeta dan mulai mengucapkan janji suci pernikahan, setelah itu Krist mengecup bibir Singto dengan lembut di sertai dengan tepuk tangan meriah dari para tamu undangan.
Krist dan Singto berjalan menghampiri orang tua Apple, ya.. Krist juga meminta ijin menikah dengan Singto dengan orang tua Apple, biar bagaimana pun orang tua Apple adalah mantan mertuanya.
"Ma.. pa, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk datang." Ucap Krist.
"Ya, semoga kalian bahagia selalu." Ucap papa Apple.
Malam semakin larut satu persatu tamu undangan mulai pulang, begitu juga dengan orang tua Apple dan orang tua Krist, mereka juga memilih untuk langsung pulang karna mulai sekarang Krist akan ikut tinggal di rumah Singto.
Krist, Singto, dan Fiat pulang ke kediaman Singto, Fiat sudah tertidur lelap sedari tadi mungkin karna kelelahan. Saat tiba di rumah, Singto membuka pintu belakang mobil dan Krist menggendong Fiat membawanya masuk ke dalam kamarnya.
Krist merebahkan Fiat dengan hati-hati ke atas ranjang, ia mengecup lembut kening Fiat dan menaikkan selimut sebatas dadanya kemudian Krist pergi dari sana.
Saat dia masuk ke kamar di lihatnya Singto sudah berganti pakaian dan sedang merebahkan tubuhnya di ranjang, Krist berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian keluar hanya dengan menggunakan baju kaos dan celana pendek, ia merebahkan tubuhnya di samping Singto, mengusap lembut perut Singto hingga keduanya terlelap tidur.
***
Pagi hari menyapa, Singto terbangun dari tidurnya lebih dulu, ia menatap wajah tampan Krist yang masih terlelap. Singto tak menyangka pada akhirnya ia bisa menikah dengan pria yang sangat di cintainya jaman sekolah dulu.
Krist terbangun dari tidurnya karna merasa ada yang menatap dirinya, di lihatnya Singto masih betah menatap wajahnya.
"Selamat pagi sayang." Ucap Krist dengan suara serak basahnya sehingga menyadarkan Singto dari lamunannya.
Singto merasa malu karna ketahuan menatap wajah Krist, ia hendak beranjak namun Krist menahan tangannya dan menarik tubuhnya membuat Singto terjatuh ke dada Krist.
Krist mengusap lembut pipi Singto berpindah ke bibir merahnya kemudian mendekatkan wajahnya ke sana.
Krist melumat lembut bibir Singto dan Singto membalas lumatan Krist, keduanya saling menyesap penuh kelembutan, Krist menekan tengkuk leher Singto memperdalam ciuman mereka, ciuman Krist berpindah ke leher Singto, menghisap dan menjilatnya dengan lembut sehingga membuat tubuh Singto menggelinjang karna geli.
Krist mengubah posisi tubuh mereka, ia membuka baju yang menempel di tubuh Singto, kemudian mendaratkan bibirnya di dada Singto, ia menghisap dan menjilat puting Singto dengan penuh kelembutan sedangkan Singto hanya pasrah di bawah kendali Krist.
Krist benar-benar memuja tubuh indah Singto, mengecup setiap jengkal tanpa ada yang terlewat sedikit pun, ia memberikan banyak tanda di perut hingga paha, membalik tubuh Singto agar menelungkup dan meremas pantat bulat nan kenyal yang ada di hadapannya. Krist meremas pantat itu, bibirnya sibuk mencium bagian belakang tubuh Singto, ciumannya terus naik hingga ke tengkuk leher Singto, ia memberikan satu tanda kemerahan disana, bibirnya kembali menjelajah hingga ke telinga Singto, Krist mengulum daun telinga Singto membuat tubuh Singto menggelinjang hebat, jangan lupakan tangan Krist yang sedari tadi meremas dua bongkahan kenyal di bawah sana.
Singto seperti cacing kepanasan menerima setiap sentuhan dari Krist, Krist membasahi jarinya menggunakan salivanya kemudian mendaratkan jarinya ke bongkahan bulat itu, sedangkan bibir Krist sibuk menghisap lidah Singto, menjilat dan melilit di dalam sana, satu persatu jarinya mulai masuk ke lubang Singto, singto bahkan sepertinya tak sadar karna itu, ia sibuk berperang lidah dengan Krist sekarang.
Jari Krist mulai bergerak keluar masuk, mencoba untuk merenggangkan lubang Singto, Krist menindih tubuh Singto tanpa melepas lumatannya, dan perlahan menuntun miliknya untuk masuk ke dalam lubang Singto.
Singto terkejut saat merasakan keberadaan penis Krist, ia melepas ciuman mereka, dan membenamkan wajahnya ke bantal sedangkan Krist mulai bergerak maju mundur sembari menghisap tengkuk leher Singto, perlahan namun pasti hingga menit berganti menit Krist mulai mempercepat hentakannya, desahan Singto mulai mengalun indah, bunyi kecipak pantat dan paha terdengar keras.
"Nngghh..."
"Aargghh..."
"Mmhhhh..."
"Ssshhhh..."
"Aku ingin mencium bibir mu." Bisik Krist di dekat telinga Singto sehingga membuat Singto memiringkan kepalanya dan langsung di sambar oleh Krist, bibir Singto seakan candu untuknya, tangan Krist memilin puting Singto, bibirnya menghisap lidah Singto dan pinggangnya masih bergerak keluar masuk dengan kecepatan konstan.
Krist merasa ia sudah ingin keluar, Krist menyudahi ciumannya dan fokus bergerak menggenjot pantat Singto sembari meremas pantat bulat itu sedangkan Singto membenamkan wajahnya ke bantal menikmati setiap tusukan yang di berikan oleh Krist hingga beberapa menit kemudian keduanya mengeluarkan cairan mereka bersamaan.
Krist membalik tubuh Singto agar terlentang dan mengecup lembut kening suaminya itu.
"Aku ingin membangunkan Fiat." Ucap Singto setelah mengatur nafas.
"Biar aku saja." Ucap Krist.
Krist memakai celana dan bajunya kemudian keluar dari kamar untuk membangunkan anaknya.
Saat Krist masuk ke kamar Fiat di lihatnya Fiat sudah memakai seragam sekolahnya.
"Daddy antar." Ucap Krist.
Fiat hanya menganggukkan kepalanya menanggapi itu.
"Papa tak sempat membuat sarapan, apa kamu tak masalah sarapan di sekolah?" Ucap Krist.
"Iya." Jawab Fiat seadanya.
Fiat berjalan lebih dulu keluar rumah sedangkan Krist ke kamar untuk mengambil kunci mobilnya, ia melihat Singto masih terbaring di kasur dengan mata yang terpejam.
"Aku akan mengantar Fiat sekolah." Ucap Krist.
"Iya, hati-hati." Ucap Singto.
Sebelum itu Krist mengecup bibir Singto singkat kemudian keluar dari kamar.
Setelah mengantar Fiat ke sekolah Krist membeli sarapan untuk dia dan Singto, ia melihat Singto sudah mandi, dan sekarang Singto tengah mengganti seprei kasur. Krist memeluk tubuh Singto dari belakang dan mengecup tengkuk lehernya.
"Mulai sekarang kamu tidak perlu bekerja lagi." Ucap Krist.
"Kenapa?" Ucap Singto.
"Kasian Fiat sendiri di rumah, bukankah Fiat kekurangan perhatian dari mu? Aku ingin kamu fokus memperhatikan Fiat, beri Fiat waktu yang selama ini tak bisa kamu berikan."
"Baiklah, aku akan membicarakannya dengan Off besok." Ucap Singto.
Krist masih betah memeluk tubuh Singto sembari mengusap perutnya
"Sebaiknya kamu mandi sekarang, apa kamu tak bekerja?" Ucap Singto.
"Tidak, aku ingin menghabiskan hari ini bersama mu, besok baru aku mulai masuk bekerja." Ucap Krist.
Tbc.
YOU ARE READING
Love Me Please
FanfictionKrist dan Singto menjalin hubungan selama 8 tahun lamanya. Namun, di dalam hubungan itu hanya ada cinta sepihak karna Krist tak pernah mencintai Singto. Karna cintanya yang semakin hari semakin besar terhadap Krist membuat Singto nekat melakukan ha...
