Part 19

1.8K 160 33
                                        

Sudah satu minggu semenjak Krist tersadar dari komanya, dia juga sudah mendengar semua tentang Apple dari orang tuanya.

Apple mencoba menabrak Fiat sehingga Apple meninggal, jujur Krist sebenarnya tak percaya dengan apa yang di ceritakan mamanya namun mamanya memberikan bukti rekaman cctv saat kecelakaan beruntun itu terjadi.

Krist duduk di ranjangnya sembari berpikir keras sedangkan mamanya tengah mengemasi pakaian miliknya karna hari ini dia sudah di perbolehkan untuk pulang.

"Kenapa Singto tak pernah menjenguk ku?" Ucap Krist tiba-tiba membuat Off dan Tay berhenti berbicara.

"Apa kalian sudah mengatakan jika aku sudah sadar?" Tanya Krist lagi.

"Sudah." Ucap Tay.

"Apa dia masih marah pada ku?" Ucap Krist.

"A-aku tak tahu." Ucap Tay.

Selama satu minggu ini Singto memang tak pernah mau menjenguk Krist di rumah sakit, Singto juga sudah tahu jika Krist sudah bangun dari komanya namun itu hanya membuat Singto ketakutan hingga tubuhnya bergetar hebat, hal itu membuat Off dan Tay tak mau memaksa Singto agar menjenguk Krist.

"Krist... Penyebab Singto tak mau menjenguk mu, karna dia sedang mengandung anak mu sekarang." Ucap Off.

Semua orang yang ada di sana terkejut mendengarnya, jelas saja Tay ikut terkejut seharusnya Singto sendiri yang memberi tahu hal itu kepada Krist nantinya.

Plakk! Tay menggeplak kepala Off.

"Kenapa kamu mengatakan itu!" Ucap Tay.

"M-maksud mu apa, Off." Ucap Krist.

"Iya... Singto hamil, dia sekarang takut pada mu, dia trauma atas kejadian 6 tahun yang lalu." Ucap Off berterus terang.

"Jadi itu penyebab dia tak mau menjenguk ku?" Tanya Krist.

"Hmm." Ucap Off.

Sedangkan kedua orang tua Krist hanya diam, mereka tak mau ikut campur.

"Krist, mama sudah membereskan barang-barang mu, kamu mau pulang bersama siapa? Mama atau temanmu?"

"Bersama mama saja." Ucap Krist.

Krist beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di ruangannya, Krist mengganti seragam pasien yang di kenakannya dengan pakaian miliknya.

Mereka keluar dari ruangan secara bersamaan, Tay membantu membawa tas besar milik Krist sembari berbicara ringan hingga tiba di parkiran.

Off membukakan pintu belakang mobil untuk Krist begitu juga dengan kedua orang tua Krist yang sudah duduk di depan.

"Hati-hati, om." Ucap Off.

"Terima kasih Off, Tay. Apa kalian tak ingin mengantar Krist sampai ke rumah?" Ucap papa Krist.

"Tidak om, kami ada pekerjaan." Ucap Off.

"Terima kasih!" Ucap Krist kepada Off dan Tay.

Setelah itu papa Krist menjalankan mobilnya keluar dari parkiran rumah sakit.

Di sepanjang jalan Krist hanya diam memikirkan semua yang terjadi, hari ini dia akan beristirahat, besok dia akan ke makam Apple, dan setelahnya baru dia menemui Singto, itu yang berada di benaknya.
.
.
.
.
.
Krist keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki pemakaman umum dengan membawa satu buket bunga, dia terus berjalan hingga menemukan batu nisan yang bertuliskan nama Apple disana, Krist berjongkok dan meletakkan bunga yang di pegangnya di atas makam Apple.

"Apple..."

"Kenapa jadi seperti ini?"

"Kenapa kamu tega melakukan itu?"

"Kenapa kamu tega meninggalkan ku?"

"Apa karna aku terlalu egois? Aku hanya ingin memiliki Singto, bukan berarti aku sudah tak mencintai mu lagi."

"Aku ingin memiliki kalian berdua? Maafkan aku."

"Maaf karna aku tak pernah berubah."

"Maaf aku tak pernah bisa jadi laki-laki yang baik untuk mu."

"Apple... Sekarang singto hamil."

"Aku harus bagaimana sekarang?"

"Aku menjadi merasa sangat bersalah karna hal itu."

"A-aku tak tahu harus bahagia atau sedih."

"A-aku bahagia di atas penderitaan mu."

"Maafkan aku." Lirih Krist.

Setelah beberapa jam di makam Apple, Krist memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya, rumahnya dan Apple dulu, dia melihat banyak foto mereka terpajang di dinding, dia memasuki kamar mereka, masih sama seperti dulu tak ada perubahan sedikit pun.

Krist duduk di kasur dan mencengkram erat rambutnya, di satu sisi dia bahagia mendengar kabar kehamilan Singto, namun di sisi lain ia juga merasa tak boleh berbahagia karna istrinya baru saja pergi untuk selamanya, Krist masih sangat mencintai Apple, hanya saja dia sedikit brengsek karna menginginkan keduanya.

Krist merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan matanya, semua memori indah kenangan dirinya dan Apple terputar dalam ingatannya, dari awal ia menyatakan cintanya kepada Apple hingga mereka menikah.

Sedangkan di tempat lain, Singto tengah duduk termenung di kamarnya, sudah satu minggu ia tak masuk berkerja dan tak keluar kamar, bahkan Fiat menginap di rumah Off dan Gun sekarang karna Singto benar-benar tak menghiraukan keberadaan Fiat, demi keselamatan Fiat, Off menyarankan agar Fiat ikut tinggal bersama mereka untuk sementara waktu.

Setiap hari Gun selalu menjenguk Singto di rumahnya, mengantar makanan untuk Singto, mereka sudah memanggil psikiater untuk memeriksa kondisi kejiwaan Singto, kata psikiater Singto hanya masih shock atas kejadian yang di alaminya, dia masih belum bisa menerima kehamilannya.

Singto termenung, dia memikirkan kemungkinan terburuk saat Krist mengetahui jika dirinya tengah hamil sekarang.

Dreetttt...drrrrtttt.... Ponsel Krist berdering membuat Krist menyadarkan Krist dari lamunannya, disana terdapat nama Off di layar ponsel tersebut.

"Kenapa?" Tanya Krist setelah dia mengangkat panggilannya.

"Kamu dimana?" Ucap Off di sebrang sana.

"Rumah ku."

"Kapan kamu akan menemui Singto?"

"Entahlah."

"Ayolah dia butuh kamu sekarang! Anak mu sudah satu minggu tinggal dirumah ku, apa kamu tak khawatir Krist?"

"M-maafkan aku Off, tolong jaga Fiat untuk ku." Ucap Krist.

"Iya, sebaiknya kamu temui Singto sekarang, yakinkan dia kamu tak akan menyuruhnya pergi, katakan padanya kamu akan bertanggung jawab dan menikahinya!" Ucap Off, dia benar-benar kesal pada Krist sekarang.

"Kamu tahu sendiri aku baru saja kehilangan istriku." Lirih Krist.

"Apa kamu mau kehilangan Singto juga?" Ucap Off.

"T-tidak." Lirih Krist.

"Itu sebabnya temui Singto sekarang!" Ucap Off geram

*Tut.... Tanpa menunggu jawaban dari Krist, Off langsung mematikan panggilannya, sebenarnya dia juga ikut pusing dengan masalah yang terjadi saat ini, ia sangat mengerti dengan perasaan Krist yang baru saja kehilangan istrinya namun disisi lain ia juga kasian dengan Singto.

"Dasar Krist brengsek!" Gumam off.






















Tbc.

Love Me PleaseWhere stories live. Discover now