Part 10

1.7K 153 15
                                        

Sudah dua minggu sejak Krist bertemu Fiat di restoran dan dua minggu juga dia di larang Apple untuk menjemput Chimon dan Ajun di sekolah, hal itu membuat Krist sangat merindukan Fiat, ia tak ada alasan untuk bertemu Fiat jika bukan di sekolah.

Krist nekat pergi ke rumah Singto, ia sudah sangat merindukan Fiat sekarang, padahal ia baru bertemu satu kali dengan Fiat tapi entah kenapa ia merasakan sesuatu yang beda, Krist tak pernah merindukan Chimon dan Ajun seperti ini. Hampir 30 menit mengemudi akhirnya Krist tiba di depan rumah Singto.

Krist tahu Singto tinggal di rumah lamanya dari Off karna sebelum ke rumah Singto, Krist kerumah Off dulu tadi untuk memberikan mainan kepada Chimon, Apple hanya melarang Krist bertemu Chimon dan Ajun di sekolah bukan di rumah, itu sebabnya Krist main ke rumah Off tadi.

Krist menatap rumah besar di hadapannya, persetan dengan harga diri, rasa rindunya kepada Fiat membuat Krist tak memikirkan harga dirinya lagi, Krist memencet bell rumah itu.

*Ceklekk.... Pintu terbuka, keduanya saling menatap dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.

"Apa Fiat ada?" Ucap Krist yang akhirnya mengeluarkan suaranya.

"Ada apa?" Ucap Singto tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Krist.

"Aku... Aku merindukan Fiat, aku juga ingin memberikan ini padanya." Ucap Krist sembari memperlihatkan paperbag yang di pegangnya pada Singto.

"Fiat sudah tidur dan dia tidak butuh itu dari orang asing." Ucap Singto.

"Papa..." Ucap Fiat yang kini menghampiri Singto di depan pintu.

"Om Krist di sini." Ucap Fiat saat melihat keberadaan Krist.

"Om dari rumah Ajun dan Chimon tadi, ini untuk Fiat." Ucap Krist sembari memberikan paperbag yang di pegangnya pada Fiat.

"Terima kasih om, ayo masuk." Ucap Fiat.

"Fiat, sekarang sudah malam dan kita tidak boleh memasukan orang asing." Ucap Singto.

"Kata Ajun Om Krist baik, Pa." Ucap Fiat.

"Sebaiknya kamu pulang, Krist." Ucap Singto.

"Aku ingin bermain dengan Fiat sebentar, apa boleh?" Ucap Krist.

"Tidak." Ucap Singto.

"Ayo Om, ini masih jam 7, aku tidur jam 8 nanti." Ucap Fiat.

Fiat menarik tangan Krist mengajaknya untuk masuk ke rumah mereka sedangkan Singto menghela nafas karnanya, dia terpaksa membiarkan Krist masuk ke rumahnya.

"Papa, bukankah ada tamu sekarang? Sebaiknya buatkan minuman?"

"Om krist ingin kopi atau teh?" Tanya Fiat.

"Om tak ingin apa-apa, Om hanya ingin bertemu kamu." Ucap Krist.

"Papa kembali ke kamar dan kamu ku beri waktu setengah jam setelah itu langsung pulang!" Ucap Singto.

"Iya, terimakasih." Ucap Krist.

"Papa, buatkan Om Krist minuman dulu!" Ucap Fiat.

"Tidak." Ucap Singto kemudian ia langsung pergi dari ruang tamu berjalan ke kamarnya.

"Padahal papa sendiri yang mengatakan jika ada tamu harus di beri minum." Ucap Fiat.

Krist mengusap rambut Fiat sambil tersenyum, Fiat sangat dewasa tak seperti anak usia 5 tahun pada umumnya.

Setengah jam seperti satu menit bagi Krist sekarang Singto datang kembali menghampiri dia dan Fiat.

"Waktunya habis, sebaiknya kamu pulang sekarang." Ucap Singto.

"Aku masih merindukan Fiat." Ucap Krist.

"Memangnya Fiat siapa mu sampai kamu merindukannya? Kita juga tak terlalu dekat sehingga kamu bisa menganggap Fiat seperti Chimon dan Ajun!" Ucap Singto tajam.

Ucapan Singto seperti tamparan keras untuk Krist, benar mereka tak pernah dekat bahkan masa lalu mereka terbilang sangat buruk, harusnya Krist tahu itu.

"Om Krist sebaiknya om pulang sekarang, bukankah sudah 30 menit?" Ucap Fiat.

Baiklah, sekarang Krist tidak menyukai sifat dewasa Fiat.

"Sing... Anak kita dul--" Belum sempat Krist menyelesaikan ucapannya Singto lebih dulu memotongnya.

"Tidak ada anak kita, Krist. Itu hanya anak ku, jangan di ungkit lagi, dia sudah tenang di alam lain!" Ucap Singto.

"A-apa kamu menggugurkannya?" Tanya Krist hati-hati.

"Tentu saja, aku hanya kasian jika dia lahir tanpa daddynya, dia kesalahan, aku yang bodoh! Sekarang kamu pulang dan jangan pernah temui Fiat lagi!!" Ucap Singto.

"Aku ingin menemuinya sesering mungkin seperti aku menemui Chimon dan Ajun." Ucap Krist.

"Tidak bisa! Ini kali terakhir kamu bertemu dia!" Ucap Singto.

"Dimana mama mu, Fiat?" Tanya Krist.

"Mamanya sudah meninggal." Itu Singto yang menjawab sedangkan Fiat menatap bingung pada Singto, yang dia tahu dia lahir dari perut papanya dan hal itu yang menyebabkan dirinya di bully oleh teman-teman sekelasnya dulu karna ia lahir dari perut pria.

"Bukankah aku lahir dari perut papa? Aku bahkan di bully waktu sekolah di Amerika karna lahir dari perut papa." Ucap Fiat dengan polosnya.

Krist terkejut mendengarnya begitu juga dengan Singto, ia menyesal telah bicara jujur pada Fiat. Waktu itu Fiat pernah bertanya tentang mamanya dan ia mengatakan jika Fiat tak punya mama dan hanya punya papa karna Fiat lahir dari perutnya sendiri.

Karna saat itu Fiat masih sangat kecil, di sekolah tengah belajar tentang keluarga, guru Fiat bertanya tentang mamanya dan dengan polosnya Fiat mengatakan jika ia tak punya mama dan hanya punya papa karna ia lahir dari perut papanya dan sejak itu dia di bully oleh teman-temannya.

"Sing... Apa maksud Fiat?" Ucap Krist.

"Fiat hanya anak kecil, dia hanya meracau, sekarang kamu pulang." Ucap Singto.

"Fiat anak ku, kan!!" Ucap Krist.

"Bukankah sudah ku katakan jika mama Fiat sudah meninggal Krist! Anak mu sudah ku gugurkan saat itu!" Ucap Singto.

"Fiat, maafkan om." Ucap Krist kemudian ia mencabut rambut Fiat sehingga membuat Fiat meringis kesakitan.

"Itu sakit bodoh!!" Ucap Singto sembari mengusap rambut Fiat.

"Aku akan membuktikannya sendiri." Ucap Krist kemudian ia pergi dari rumah Singto.

Krist langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit dengan membawa rambut Fiat yang di tariknya tadi, ia akan melakukan tes DNA dan membuktikan sendiri jika Fiat anaknya atau bukan.

***
"Kapan hasilnya keluar dok?" Tanya Krist.

"Paling lama satu bulan, jika sudah keluar hasilnya saya akan memberitahu anda." Ucap dokter.

Krist dan dokter saling berjabat tangan kemudian Krist pamit untuk pulang.

Krist sangat berharap jika Fiat anaknya, di sepanjang jalan di dalam mobil Krist tersenyum sambil menangis bahagia, padahal hasil test belum keluar tapi Krist merasa sangat yakin jika Fiat memang anaknya.
















Tbc.

Love Me PleaseWhere stories live. Discover now